Rabu, 20 Januari 2010

Long Stories

By cerita17plus.blogspot.com




Menjelang senja, aku pergi ke suatu tempat, dimana dulu biasa kukenakan seragam putih abu-abu. Hari ini, aku berjanji memberikan ‘hadiah’ kepada beberapa pria disana. Sebelum berlanjut lebih jauh, perkenankan aku memperkenalkan diri. Namaku Lavenia,. aku memiliki darah campuran. Papiku pribumi dan Mamiku Swedia, aku lahir di Swedia, Papi bekerja sebagai Duta Indonesia disana. Tentu aku memiliki wajah Indo, paling jelas terlihat dari hidungku yang mancung lancip, kulit dan tulang pipi. Rambutku hitam kemerahan, lurus panjang sebahu. Selain rajin merawat wajah, aku juga selalu merawat tubuh dengan fitness di gym atau sekedar jogging pagi. Tiap hari minggu di Senayan sambil TP (Tebar Pesona). Otomatis, hal itu membuat tubuhku langsing, selain diet yang cukup ketat. Tadinya kuputuskan untuk melanjutkan studi ke Australia. Namun karena permasalahan ini, membuatku banting setir untuk kuliah disini. Sama kasusnya dengan teman-temanku, yang juga ikut acara siang ini di eks sekolah kami. Teman-temanku bernama Lea, Manda dan Sherry. Geng-ku juga satu team cheers, wajah mereka sama kebule-bulean, terutama gadis yang bernama Sherry. Kuparkir mobil ketika tiba, di depanku sudah ada mobil Lea dan Manda. Kami belum mau keluar, tentu menunggu sepi dan semua guru pulang. Aku sempat melihat beberapa guru yang pernah mendidik-ku, rindu sebenarnya aku pada mereka. Ingin kusapa dan kucium tangan mereka. Tapi, bisa panjang urusan jika bertemu, disuruh main ke rumahlah, apalah. Jadinya, aku terpaksa hanya melihat mereka dari balik jendela mobil, yang terlihat gelap dari luar. Seorang pria seperti sosok tukang becak, keluar dari gerbang. Ia menghampiri kami satu persatu. Dari Manda, Lea, terakhir aku. Dia mengetuk kaca jendela mobilku, kutekan tombolnya. Terlihatlah pria hitam bertubuh gempal berpakaian satpam, tertulis nama Lodi di dadanya.

“Wah Non Nia, makin cakep aja kalo begini” pujinya, melihatku mengenakan kaca mata hitam, menghias wajah Indo-ku.

“Hai…gimana, udah sepi ?” tanyaku.

“Udah Non…udah kosong engga ada orang, gerbang juga siap di kunci” jawabnya.

“Sherry dimana ? jadi khan ?” tanyaku lagi mempertegas.

“Jadi dong Non, saya udah ngaceng dari kemaren bayanginnya..apalagi ngeliat Non Nia tambah cakep gini, Non Sherry di kantin nunggunya…” jawab si gemuk itu lagi.

“Ya udah…tunggu aja kita di tempat biasa !” suruhku memastikan.

“Siap Non, hehehe…”, pria itu pergi meninggalkan kami dengan wajah riang. Setelah dia tak terlihat, jalanan benar-benar sepi, barulah kami satu persatu keluar dari mobil.

“Hai, apa khabar ?” sapaku pada kedua sahabat, mereka balik menyapa dan kami pun bertukar pipi.

Kami bertiga, mengenakan jeans panjang dan kaus tanpa lengan. Berbincang sedikit, lalu jalan bersama masuk ke sekolah. Pria gemuk yang tadi menghampiri, berdiri di gerbang memegang kunci. Matanya menelanjangi kami satu persatu. Ketika melintas di depannya, sempat-sempatnya dia menepuk pantat kami bertiga. Seperti biasa, setiap hari sabtu, setelah bubaran sekolah. Kami berjanji melakukan ritual seks dengan mereka, Andre-Tejo-Lodi dan Seto. Tiga diantaranya bertubuh gemuk pendek, hanya yang bernama Tejo yang tinggi besar. Meskipun dari segi wajah, sama amit-amitnya. Ibarat pabrik, mereka barang gagal produksi dan harus dibuang. Kami menghampiri Sherry yang sedang duduk, dia tampak senang dengan kehadiran kami bertiga. Biasanya, dia sendirian yang dikerubuti para penjaga sekolah itu. Aku menoleh ke arah mereka bertiga, lalu berkata.

“Gimana…siap ?” tanyaku, yang langsung dijawab dengan anggukan oleh mereka.

Kami pun berjalan menuju ruang olahraga, tempat kami biasa latihan cheers, juga tempat kami melakukan pesta seks. Persis di depan pintu, aku melihat ke dalamnya. Keempat pria itu menunggu dengan resah dan gelisah, mereka berubah sumringah melihat kami masuk. Aku lebih dahulu memasuki ruangan, teman-teman menyusul di belakangku. Kuputar kaset dalam tape yang ada disitu, alunan musik pun memenuhi ruangan. Kami jejer berempat, meliuk-liukan tubuh menari seirama beat lagu Horny dari Mousse T. Melepas satu demi satu pakaian, hingga telanjang bulat. Ke-empat penjaga sekolah itu menatap penuh nafsu, empat gadis Indo tanpa mengenakan busana, bergoyang erotis. Mereka ikut membuka pakaian tugasnya, kulit hitam legam pun terpampang. Wajah mereka yang sudah buruk, terlihat makin tak tertolong saja ketika bernafsu. Kami bergerak memutar tubuh, membelakangi mereka. Dengan nakal, sengaja kupamerkan isi liang vagina dari belakang. Mereka tak sanggup menahan birahi, bergerak mendekati kami, masing-masing pejantan mencari betinanya. Aku diincar Andre, Tejo menghampiri Lea, Lodi mendekati Manda dan Seto menginginkan Sherry.

We giving them a full fun sex party till sun night smiling at us, as a gift. Gift doin’ what ?.

|||||||||||||||||||||||||||||||||||

Two Weeks before,

Hari ini tepat sebulan setelah kejadianku dengan para kuli bangunan yang memperkosaku dan juga Sherry (baca : Lavenia (lanjutan Adik Kelasku)).

“Pi…ubin di kamar mandi Nia rusak, kena kaki nih berdarah…liat deh !” ujarku manja pada Papi, menunjukkan kaki yang terluka.

“Ya ampun, Niaa…” seru Papi mengomentari luka-ku. Ia langsung berteriak, memanggil para pembantu.

Pak Karsimin si tukang kebun, Jaja supir pribadi dan mbok Siti PRT masuk ke kamarku yang dikiranya ada kejadian apa. Setelah semua berkumpul, melihat keadaan kakiku, mereka segera berlarian mengambil obat merah, kapas dan perban. Papi ngedumel tentang Pak Hasan dan anak buahnya yang tak becus kerja, kamar mandi di dalam kamar pribadiku adalah salah satu tempat mereka merenovasi waktu itu. Mami tidak ada dirumah, dia lebih dulu ke Swedia kemarin. Rencananya papi menyusul besok, disana mungkin semingguan tapi bisa juga lebih. Setelah kakiku selesai diobati, para pembantu balik ke tempat masing-masing untuk kembali bekerja. Papi juga beranjak pergi menuju ke bawah, karena kamarku ada di lantai atas. Kebetulan lukanya tidak terlalu parah, aku masih bisa berjalan normal walaupun agak nyut-nyutan. Aku menuruni tangga dengan susah payah, kulihat Papi duduk di samping pesawat telepon dan menekan beberapa angka disana. Aku duduk di sofa panjang ruang santai keluarga, tiduran menonton Tv. Samar-samar, aku mendengar pembicaraan Papi dengan seseorang, yang aku yakin sepertinya Pak Hasan.

“Bapak gimana sih, anak saya jadi berdarah kakinya !!” omel Papi pada Pak Hasan, mandor sekaligus orang yang memperkosaku kira-kira sebulan yang lalu.

(Iya Pi…omelin aja !, pukulin kalo perlu…dia pernah menggauli anakmu ini sampai tertatih-tatih jalan seminggu !!), keluhku dalam hati.

“Ya udah…besok pagi kita bicarakan, datang aja” kata Papi, menutup perbincangan.

(What !! kuli bangunan itu mau kesini lagi ?! mati gw…), aku diam termangu.

Mataku melayang ke Tv, namun tidak menonton acara yang tertayang. Aku bingung, masalahnya, vcd aku mengerjai Sherry (baca : Adik Kelasku) masih dipegangnya. Pasti dia memanfaatkan moment ini, walaupun aku merasa sedikit aman karena masih ada tukang kebun, supir dan pembantu, entah bagaimana kejadian besok. Aku terus kepikiran sampai tertidur di sofa, Papi menggendongku ke kamar-ku.

Esoknya, aku bangun agak kesiangan. Melihat dari jendela kamarku mobil Papi sudah tak ada, berarti ia sudah berangkat ke kantor. Aku turun ke bawah sarapan, yang biasa disiapkan Mbok Siti. Tapi kemudian, dia izin hendak pergi ke suatu tempat kemungkinan akan pulang malam katanya, aku tak berkeberatan memberinya izin. Selesai sarapan, aku ke ruang tengah menunggu makanan larut dalam perut. Kaki masih terasa sakit, kupijit-pijit pergelangannya, terus turun sampai dekat jari yang terluka.

(Aduh, sialan tuh kuli-kuli !), keluh-ku.

Kunyalakan Tv untuk melupakan nyerinya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang rupanya Pak Karsimin, biasa kupanggil Pak Simin.

“Misi Non, ini ada Dokter yang dikirim Juragan…”.

Masuklah seorang pria setengah baya berpakaian putih-putih, yang kukenal bernama dr. Purnomo. Dia adalah dokter keluarga, dibayar via per-kedatangan saja. Itupun juga, jika beliau tidak ada janji lain. Beliau pensiunan RSPAD, rumah sakit yang dikhususkan untuk angkatan darat. Kegiatan beliau saat ini hanya sesekali disana, Papi mengenalnya dari seorang teman.

“Siang…” ucap Pak dokter santun, padaku yang masih terbaring di sofa.

“Siang dok, silahkan masuk…” sahutku bangkit duduk.

“Non, kalo begitu…saya permisi kebelakang yah ” kata Pak Simin, yang kujawab dengan anggukan.

“Mari dok masuk…aku sambil tiduran ya, nyeri soalnya” kataku, agar dia tidak sungkan, dokter Purnomo pun duduk lalu menatapku tajam.

“Hmm, kenapa dok ?!” tanyaku karena risih.

“Anu dik, udah lama yah…‘nda terasa, dik Nia sudah besar sekarang…” ujarnya, yang ternyata merujuk ke masalah fisik.

(Jangan-jangan, jangan-jangan nih dokter…), prasangkaku dalam hati.

Aku jadi tak nyaman juga, masalahnya aku dalam posisi berbaring dengan celana pendek dibalik selimut. Walaupun kuakui aku senang dengan pujiannya, sebagaimana wanita yang selalu ingin disanjung.

Selagi aku berpikir yang tidak-tidak karena narsis, dia menyela.

“Jadi, bagian mana yang sakit ?”.

“Ini dok…” tunjukku, ke ibu jari kaki yang kulitnya sedikit sobek dekat kuku. Dia menghampirinya dan berjongkok disana.

Setelah melihatnya, dia tersenyum. Memang Ayahku terlalu berlebihan, luka seperti ini tidaklah perlu mendatangi dokter. Apalagi sekelas dr. Purnomo, tentu biayanya tidaklah murah. Tetapi, seperti itulah orang kaya membuang duitnya.

“Ini toh…ya ya”, dia mengangguk-angguk dan bangkit menuju tasnya untuk mengambil sesuatu.

Mengenai luka-ku bagaimana sudah dikasih tau Papi, dia hanya ingin melihat langsung takut ada sesuatu yang fatal akibat infeksi atau apa. Pak dokter mengambil buku kecil, dimana dia biasa menulis resep untuk ditebus pasien di apotik. Dia membubuhkan sesuatu melalui penanya, lalu merobek secarik kertas tersebut dan diserahkannya padaku.

“Bisa langsung ditebus yah dok, resepnya ?”.

“Iya, biar cepet hilang nyerinya…itu obat pereda dari dalam” terangnya.

“Oo…”, aku menggaruk-garuk pipi karena gatal.

“Pak Simiiin, Paaak…tolong kesini sebentar !” teriakku keras.

“Iyaaa…sebentar”, terdengar suara derap kaki, dan munculah si tua Simin di muka pintu.

“Ada apa Non ?”.

“Ini Pak, tolong tebus obat yah…” suruhku, kebetulan apotik tidak jauh dari rumah.

“Uangnya Non ?”.

“Ambil aja di kamar saya, dompetnya ada di dalam tas kecil warna Pink Pak”.

“Baik Non…”, Pak Karsimin naik ke atas, tak lama dia turun dan pergi keluar.

(Wah…tinggal gw berdua nih, Hmm…gimana kalau, kuserahkan saja tubuhku ini sebagai ucapan terima kasih), pikirku nakal.

“Itu tadi…obat penyembuh dari dalam dok ?”.

“Betul dik…”.

“Oo…”.

“Memangnya, obat penyembuh dari luar seperti apa dok ?” pancingku.

“Yaa…musti diurut-urut gitu…” jelasnya.

“Diurut gimana dok ?” tantangku, menarik selimut penutup tubuhku sedikit ke atas.

Pak dokter garuk-garuk kepala salting (salah tingkah), dia sempat melirik beberapa detik betis putihku yang dipenuhi bulu-bulu tipis, lucu juga untuk pria seumurnya. Sungguh aku tertantang menggoda pria seperti dia, tidak seperti kebanyakan cowo yang seumuran denganku. Terutama yang tampan dan berharta, pasti mudah kudapatan. Aku dengar dari Papi, dokter Purnomo telah ditinggal mati Istrinya 10 tahun yang lalu. Jadi, sudah 10 tahun dia menduda alias kedinginan (xixixi), kasihan khan ?.

“Diurut gimanaaa ?” tanyaku lagi dengan manja sambil membalik tubuh, sekarang kakiku yang ada di dekatnya.

“Y-ya-yaa-yaaa…di urut…” jawabnya singkat namun terbata-bata.

(Hi hi hi…dasar laki-laki, sama aja…godain lagi ah ^o^), aku tersenyum geli melihat dr. Purnomo yang bingung melempar pandangan. Melihat tubuhku salah, melihat ke tempat lain salah.

“Dokter bisa ajarin urut ‘gak ?” kataku, tidak tanggung-tanggung menarik selimut ke atas hingga setengah pahaku kini menjadi pemandangan gratis baginya.

Glek !, kudengar suaranya menelan ludah, tatapan matanya tiba-tiba berubah, sang Rubah menunjukkan ekornya. Melihat gadis belasan tahun blasteran memamerkan keindahan fisik, membuatnya merasa mubazir jika dianggurkan begitu saja.

“Ehm !” dia berdehem dan menghela nafas, lalu celingak-celinguk seperti maling.

“Dik Nia sendirian ?”.

“Uum…iya, trus gimana urutnyaa ?” kujawab cepat dan kembali menantangnya. Pak

dokter yang sudah terhasut setan mesum, duduk maju mendekatiku.

“Mari dik, kesinikan kakinya!” suruhnya mulai nekat sambil bangkit berdiri, pancinganku akhirnya mendapatkan ‘ikan’.

Kuangkat kedua kaki, dokter Purnomo duduk dan memapahnya. Dia menaruh tangan dan memberanikan diri memijat pergelangan kakiku.

(Emhh…nikmatnyaa…), mata sayuku, gigiku yang menggigit bibir bawah, jariku yang meremas sofa…seolah-olah meng-ekspresikan kata hati.

“Enak dok…Sssh..teruss, biar cepet sembuh” hasutku yang tidak perlu, karena tangannya kini semakin nakal meraba betis.

“Pijatan bapak enak ya Dik ?” tanyanya, aku menjawab dengan anggukan dan desahan yang tentu mengundang birahinya.

“Iya Pak, terus dong…enak….emhh !”, aku menggeliatkan tubuh. Dia semakin berani mengelus paha, bahkan menyentuh pangkalnya.

“Arrhh…Pak !” desahku lantang, ketika kurasakan jarinya mengelusi ‘bagian itu’.

Tubuhku menggelinjang, nafsu dokter Purnomo pun semakin naik dan tak terbendung lagi. Celana pendek beserta celana dalamku, dipelorotkannya dengan sekali tarik.

“Aawh !” aku ber-acting kaget, menutupi kemaluan dengan telapak tangan.

Melihat reaksiku yang malu-malu kucing, membuat dia semakin gemas saja. Celanaku yang sudah turun ke lutut, diloloskan dan dilemparnya jauh-jauh, seolah-olah aku tidak boleh memakainya lagi. Tanganku yang menutupi kemaluan juga dibukanya, sehingga kewanitaan yang selalu kucukur bersih itu ditatapnya nanar. Pak dokter tertegun beberapa saat memandanginya, kemudian dia berkata.
“Tubuhmu sempurna dik Nia !” gombalnya. Pipiku merona, tersanjung mendengar pujian seraya menggigit bibir bawah.

Baru saja dia hendak membenamkan wajah, terdengar pintu garasi terbuka yang artinya Pak Simin sudah kembali dari apotik, ini membuat kami mati kutu,

(Uuh, gagal deh lanjut !), keluhku, dr.Purnomo juga terlihat kecewa dikarenakan ‘nanggung’.

Kami cepat-cepat berpakaian, kembali bersikap seakan tidak terjadi sesuatu. Pak Simin masuk memberikan obat pesananku, lalu pamit ke kamarnya yang ada di belakang.
Pak Karsimin

Pak Karsimin

Aku sebenarnya ingin nekat mengajak dokter ke kamarku di atas. Namun, entah kenapa dia tersadar dari khilafnya. Pak dokter pamit pulang dengan tubuh lesu tak bersemangat. Aku tak bisa menahannya, dan malah jadi BT dengan tukang kebunku yang tak bersalah. Aku makan, minum obat dan tidur siang untuk melupakan libido yang tak tersalurkan. Menjelang sore sekitar pukul 4, aku terbangun, turun ke bawah melahap cemilan untuk menghilangkan lapar. Betul-betul manjur itu obat, nyeriku di kaki hilang total. Padahal baru saja minum sebutir, hebat memang dr. Purnomo. Tapi aah, aku jadi teringat lagi dengan beliau dan masalah libido tadi, juga BT dengan tukang kebun. Aku menuju pintu depan, biasanya jam-jam segini, Pak Simin sedang mencabut rumput, betul saja. (Awas, kubalas), dendamku, yang Pak Simin sendiri tak tau ujung pangkal permasalahan. Aku balik ke kamar, untuk persiapan perang. Kulepas bra dan celdam, kukenakan tank top berdada rendah dan celana pendek full press body. Sehingga, baik itu dada maupun vagina terceplak bentuknya. Sekiranya cukup, aku turun menuju teras depan rumah.

“Sore Non…” sapanya, seraya melempar senyum.

“Sore juga, lagi nyabut rumput yah ?” tanyaku menghampirinya.

“Iya nih, udah panjang…” sahutnya singkat.

“Oo…”, aku sengaja berjongkok di depannya.

“Uhuk ! uhuk !, Ehemm…”, Pak Karsimin merasa sesak di dada, kulihat tonjolan besar di selangkangannya. Aku tertawa menang dalam hati menyukuri.

“Mm, gimana sih…caranya nyabut rumput ? ajarin dong Pak !” pintaku, yang sebenarnya hanya bertujuan menggoda.

“Ehh…ya…iy-iYa” sahutnya tergagap, melihat vaginaku yang terceplak fisiknya di balik celana. Aku pura-pura tidak tau, kalau dia memelototinya lapar.

“Gini yah Pak ?”, tangan kananku menggenggam rumput untuk mencabut, sambil sengaja lagi mencondongkan tubuh hingga payudaraku diintipnya.

“PAK ?!”.

“Eh, iya Non ?”, Pak Karsimin tersentak kaget.

“Gimana doong ? ajarin Niaa…” kataku manja.

“O iya…gini, eh…”, dia terdiam, bingung harus mengajarkannya seperti apa, membantu bagaimana, karena aku sengaja menggenggam rumput keseluruhan. Tidak ada tempat bagi tangannya, selain harus menggenggam tanganku.

“Yaa, cabut Non !” suruhnya, tak berani meraih tanganku.

“Cabut gimana ? engga kuat !” omelku merengutkan wajah, sengaja agar dia lebih nekat.

“Y-ya udah…Non awas dulu tangannya !” sahutnya serba salah.

“Yaah, kalo Bapak yang nyabut…aku engga tau gimana rasanya dong…” kilahku.

“Udah ah, bantuin !” kataku lagi meraih tangannya yang gemetaran, menumpukkannya di pungguk tanganku.

Reaksinya mau mau malu, pasti ini pertama kalinya dia merasakan halusnya tangan gadis belia berwajah Indo.

“Ayo Pak, tariik !”, aku menggenggam rumput kencang, tapi sama sekali tidak menariknya, hanya acting agar dia yang menariknya melalui genggaman pada tanganku.

(Berhasil…hihihi), aku tersenyum, akhirnya dia berani menggenggam erat tanganku.

“Iih, Aaawhh…!!”.

“Non, ‘gak pa-pa ?” tanyanya merangkulku, karena setelah rumput berhasil tercabut, aku pura-pura jatuh dan kepalaku bersandar di dadanya. Dag ! dig ! dug !, jantungnya berdegup di telingaku.

“Engga papa, makasih ya”, aku tersenyum semanis mungkin sambil mengibaskan rambut [TP ^o^], membuat nafasnya tersendat-sendat.

Pak Simin betul-betul memandangku penuh nafsu. Jika dia tidak mengingat budi baik Papi padanya, pasti aku sudah diperkosanya habis-habisan.

“Pak Simin, liat deh…” kataku tertawa kecil seakan senang, sambil memasang wajah se-Innocence mungkin. Padahal sengaja, sedang menarik keluar seluruh syahwat yang dia miliki.

Kakinya yang berjongkok kulihat bergetar, kulirik sedikit, matanya memang sedang menelanjangiku. Ceplakan vaginaku yang paling dia pelototi, matanya seakan ingin keluar dari tempatnya. Yang kedua dadaku yang menyembul, tangan Pak Simin meremas rumput dan mencabik-cabiknya. Dia lakukan dengan tak sadar, hingga hanya rumput di sekitarnya saja yang gundul. Tangannya itu, pasti ingin melakukan hal tersebut pada payudaraku. Aku pun tak kalah horny, putingku mengeras membayangkan Pak Simin bebas semaunya melakukan hal itu padaku. Sayang aku harus jaim, namaku masih putih tak ternoda dalam kaca matanya.

“Nih Pak, Nia ke dalam dulu yaah !” kataku sembari meraih tangannya, menaruh rumput yang tercabut lalu berdiri dan pergi begitu saja.

Kurasakan tatapan matanya seakan menyorot pantatku dari belakang. Di sisi kebun yang terdapat pohon besar, aku menghentikan langkah.

“Mm, ini jamur ya Pak ?” tanyaku, merundukan badan menunggingkan pantat.

Pak Karsimin tidak menjawab, kutahu pasti dia sedang asyik memelototi body-ku dari belakang.

“IYA PAK ?!” tanyaku dengan suara keras. Menolehkan wajah ke arahnya, tetapi masih tetap nungging.

“I-iya Non !” sahutnya tergagap karena busted.

“Oo…”, aku memasang wajah selugu mungkin sambil berlalu meninggalkannya, kembali masuk ke ruang tamu.

Aku mengintip dari balik jendela yang tertutup horden, kulihat Pak Karsimin berjongkok menatap kosong, tampak sedang berpikir sesuatu. Aku yakin yang ada dipikirannya kalau tidak memperkosaku yaa, onani ^o^. Idih, ternyata betul. Kulihat tukang kebunku itu memasukkan tangannya ke dalam sarung, kemudian membuat gerakan yang tidak lain onani. Godaan berikutnya sudah kusiapkan. Kujinjing Polytron mini yang biasa kupakai menyetel musik untuk latihan Cheers, ke teras depan dimana sudah terdapat kaset di dalamnya. Kunyalakan tape dan kuputar kaset, mengalunlah lagu sexy back dari Justine Timberlake. Aku meliuk-liukkan pantat, sesuai judul seirama beat. Gerakanku jadi bukan saja gerakan cherrs, malah di dominasi gerakan erotis. Pak Simin pun jatuh terduduk, kakinya lemas. Dia terang-terangan berani memandangku, walaupun sesekali aku melenggak-lenggokkan kepala ke kiri dan ke kanan, sengaja melempar pandangan ke arahnya. Tampaknya, dia juga tau kalau aku sedang ‘pamer’, menggoda dirinya. Gila !, dia nekat mengeluarkan burungnya dan onani. Aku kini malah yang harus membuang muka, pura-pura tak melihatnya. Ternyata, dia lebih keladi dari yang kunyana.

Tubuhku semakin terasa panas, seperti ketika cheers saja, deg-deg ser namun semakin di tonton semakin merasa seksi. Aku melupakan gerakan cheers, melakukan tarian striptis. Tiang penyangga tingkat rumah berdekorasi ukiran seni, kugunakan untuk berpegangan dan berputar-putar disitu. Kudengar erangan Pak Karsimin semakin keras, kocokannya secepat kilat. Kugigit jari telunjuk, sebelah tanganku menampar-nampar pantatku sendiri, yang semakin lama semakin keras. Sama dengan desahanku, semakin lama semakin bernada tinggi ke arah menjerit orgasme. CROT CROT !!, Walaupun tak melihat langsung, kulirik sekilas Pak Karsimin ejakulasi, mennyemburkan maninya di kebun berumput hijau. Setelah aku yakin dia selesai meledakkan syahwat, aku berjalan mematikan kaset, lalu masuk ke dalam. Sebelumnya, kulihat dia hanya duduk bersila melongo ke arahku. Dia pasti bertanya-tanya apa maksudku, hanya sekedar pamer atau menggoda untuk naik ke ranjang. Kubiarkan dia dalam kebingungannya, aku cukup puas. Dari ruang tamu di balik jendela, kuintip dia sedang apa. Kulihat Pak Karsimin rebahan dengan nafas tersengal-sengal, penisnya yang cukup panjang kini tertidur lemas.

(Bangunin lagi aah hihihi…), aku bermaksud jahat.

Aku berlari ke kamar mandi, menanggalkan seluruh pakaian, hanya mengenakan handuk. Kulepit sengaja tinggi-tinggi di atas dada, sependek mungkin membungkus pahaku. Jika saja aku berjongkok seperti tadi, pasti vagina terlihat keseluruhan. Kuraih kunci mobil pribadiku, untuk berpura-pura mengambil sesuatu di sana. Aku pun keluar teras, kulihat dia masih rebahan dengan mata terpejam. Keisenganku pun menjadi-jadi, kutekan alarm mobil.

“Nguin-nguing-nguing-nguing !!”, Pak Simin terbangun kaget, kulihat dari pantulan kaca jendela mobil di halaman, aku menahan tawa sebisanya.

Kutekan alarm mobil agar berhenti mengaung, kubuka pintu dan pura-pura mengambil sesuatu. Sekiranya actingku cukup, aku keluar mobil dan menguncinya. Aku sengaja tak memandangnya, padahal kutau mata dia tak pernah mengedip dan terus menelanjangi. Masih di teras, tepat depan pintu masuk, sengaja kujatuhkan kunci ke lantai. Dimana Pak Karsimin, juga tepat ada di belakangku.

“Ups…!” aku berakting.

Kutundukkan badan untuk mengambil kunci, aku mendengar Pak Karsimin menegak ludah dengan keras, pasti vaginaku dipelototinya. Hanya segitu aksi pamerku ? tentu tidak. Masih dalam proses mengambil kunci berposisi nungging, kulepas lepitan handuk dengan gerakan yang seakan-akan tidak sengaja ketika kunci terpegang.

“Kyaaa…”, aku berakting menjerit.

“HHNNNNGGGGFFFKKHH !!!”, Pak Karsimin menahan nafas, kulirik di antara kakiku yang mengangkang penisnya mengacung konak sampai mentok ke perut.

“Iyaaaahhh…”, aku pura-pura panik.

Bukannya berjongkok mengambil handuk, aku malah berdiri dan bergerak kebingungan diantara mau mengambil handuk atau kunci mobil. Normalnya tentu mengambil handuk dahulu, tapi karena dalam masa pamer, aku bersikap demikian. Kedua tanganku menutup payudara dan vagina sekedarnya, malah jari sengaja kurentang lebar agar toket terlihat putingnya, vagina terlihat bibirnya. Saat kuambil kunci, kuraih dengan tangan yang menutup vagina. Alhasil, tentu dia melihat bodyku yang telanjang nungging, plus memek yang merekah dari belakang. Aku bangkit dan berbalik untuk mengambil handuk. Sengaja kugunakan kedua tangan, yang tentunya Pak Simin melihat tubuh telanjangku yang berkulit putih salju dari depan. Sengaja lagi aku bergerak selambat mungkin, kulirik mulut Pak Simin meneteskan liur. Kulihat dia bangkit, aku dag di dug, akankah dia nekat memperkosa ??. Aku buru-buru menutup tubuh bagian depan, berbalik badan masuk ke ruang tamu dengan bagian tubuh belakang bugil terpamer indah. Aku sengaja tidak menutup pintu, dan kembali mengintip di balik jendela. Kulihat dia masuk ke kamarnya yang ada di belakang halaman, ternyata dia lebih memiih onani. Menjelang sore, Bang Jaja pulang, pintu gerbang dibuka Pak Simin. Kuintip dari balik tirai jendela kamarku di atas, Bang Jaja berbicara sesuatu dengan Pak Simin, kulihat dia menyerahkan kunci mobil dan berlalu pergi.

Bang Jaja memang hanya supir harian, kerja jika ada Papi Mami. Selain itu, dia pulang ke rumah menemui Istri tercintanya. Pak Simin mengunci gerbang dan masuk ke dalam, dia pasti sedang menaruh kunci di laci ruang tamu.

(Wah, berduaan donk gua sama si Simin tua…), pikirku, aku pun kembali berniat nakal.

Setelah menyiapkan rencana di kepala, aku segera turun menyusul Pak Simin sebelum dia balik ke kamarnya.

“Paak ! Pak Simiiin !!” panggilku, kulihat dia hampir saja pergi.

“Iya Non, A-ada apa ?” sahutnya sedikit terbata, dia tau pasti aku akan bertingkah nakal menggodanya lagi seperti tadi siang.

“Uum, nti malem…temenin Nia makan yah, kita makan bareng !” suruhku, dan langsung naik kembali ke atas karena tak mau ditolak, pastilah dia sungkan makan bersama Nona majikan.

# Dinner together #

Malamnya, Bang Jaja pamit setelah mengambil kunci mobil padaku untuk menjemput Papi. Aku pergi ke kamar merias diri, tampil seseksi mungkin di depan Pak Simin. Kupakai rok mini transparan tanpa dalaman, kaus tanpa lengan berwarna hitam tanpa bra. Kulentikkan bulu mata, kuhias eyes shadow blue dan kuoles tipis bibir dengan Lippgloss pink. Sejam sebelum jam makan, kutelpon KFC untuk order delivery. Selesai berdandan, aku menuruni tangga melingkar rumah. Pak Karsimin terpana dengan apa yang dilihatnya, dandanan-ku tentu tak normal untuk makan malam, untuk ke ranjang sih iya. Mulutnya terus ternganga, aku tersenyum semanis mungkin ke arahnya. Dia menyeka mulutnya yang tak terasa mengalir liur, aku tertawa menang dalam hati. Sambil menunggu orderan datang, aku mengajaknya nonton bersama di ruang tengah. Karena Home theater, tetap enak tertonton walaupun Tv-nya jauh. Pak Simin duduk bersila di lantai, sedang aku duduk di sofa panjang, tempat aku biasa tiduran. Aku sedang berpikir keras, bagaimana cara aku menggodanya.

(Hmm…o-ya, begitu saja…), pikirku.

“Pak, nontonnya disini aja…dingin khan” kataku menepuk sofa di sampingku, seraya memasang wajah polos tak berdosa.

“Engga papa Non…Bapak udah biasa !” sahutnya, matanya melirik pahaku karena aku duduk mengangkat kedua kaki.

“Aah, aku khan kehalangan kepala Bapak nontonnya !” aku berkilah.

“Ooh, maaf Non !”, dia menggeser duduknya.

“Percuma Pak kalo Bapak masih disitu…disini aja Ahh !” aku memaksa dengan wajah cemberut.

Tak enak takut aku marah, Pak Simin pun bangkit. Sebelum bangun berdiri, kulihat dia membetulkan sarungnya, juga ketika berjalan menuju sofa. Tampak dia menekan-nekan selangkangannya yang menonjol itu.

(Oo, udah ngaceng toh hihihi), pikirku jahat dalam hati.

Dia pun duduk di sofa, kini kami dalam sofa yang sama, hanya dia di ujung aku di ujung. Aku melayangkan pandangan ke TV, sedangkan Pak Simin tidak konsen.

Kulonjorkan kaki kearahnya, memamerkan putih…mulus dan jenjangnya. Sesekali, aku menekukkan kedua belah kaki, terkadang sebelah melonjor sebelah terlipat. Jadilah Pak Simin, posisi menghadap ke TV, namun mata melirik ke diriku punya body. Dengan nakal aku sengaja menggaruk-garuk paha, sambil menggeser dikit demi sedikit rok mini. Hingga jika dilihat dari samping, pantatku dapat dinikmati. Kulirik, mata kanan Pak Simin memang miring ke samping, selangkangannya semakin menonjol saja. Sayang kepuasan matanya hanya sampai sini, karena bel berbunyi, tanda pengantar makanan telah datang. Pak Simin ke depan untuk menyambut dan membayar. Kami pun ke ruang makan, aku belum kehabisan akal untuk mengerjainya. Kuatur posisi bangku agar dia ada di sampingku, untuk kosodori ‘paha’. Pak Simin tak berdaya, kubuat konak tanpa bisa merasakan hangat vagina. Aku makan ayam bagian dada mentok, sedang dia kukasih paha. Aku duduk bersila di atas bangku, membuat Pak Simin sering menelan ludah. Sudah beberapa kali dia minum, karena tenggorokannya terasa kering.

“Enak Pak pahanya ?” tanyaku padanya tiba-tiba sekalian menyindir.

“E-enak Non…enaak” sahutnya tergagap, busted.

“Mbok Siti ko’ belum pulang ya Pak ? tadi sih ijin, pergi kemana sih ?”, kuajak dia berbicara, agar exibisionis terasa lebih santai.

“I-i-iya, Bapak lupa nyampein…dia kesini besok shubuh, lagi ada perlu sama kakaknya yang ada di Cengkareng…keponakannya sakit keras !” sahutnya, dengan mata masih saja jelalatan.

“O…Eii !” kujatuhkan sendok ke samping, aku menunduk sengaja menungging, pantatku pasti dipelototinya.

KRAUK !!, “Wadaw…” teriak Pak Simin, aku menoleh penasaran.

“Kenapa Pak ?” tanyaku, melihat dia memegang pipinya.

“A-anu, kegigit tulang Non…” jawabnya mengeluh.

(Rasain ! lu sih mata keranjang, bukan ngeliat paha ayam malah ngeliat paha gw), pikirku senang, sukses mengerjainya lagi.

“Ati-ati Pak !” suruhku, tetapi kembali pamer melipat kaki di atas bangku.

Biasanya, Pak Simin makannya cepat, kali ini aku juara satu. Kurapikan bekas makanan, dan menaruh piring di tempat cucian yang tak jauh.

“Aku duluan ya Pak, temenin Nia nonton lagi lho…” kataku tersenyum manis bertingkah manja, hidungnya langsung keluar ingus.

Aku berjalan meninggalkan dirinya, sambil melenggak-lenggokan pantat. Sesampainya di ruang tamu, kunyalakan Tv dan nonton di sofa menunggunya.

(Mudah-mudahan saja, dia selesai sebelum Papi datang…), harapku.

# Grope, while sleeping #

Kudengar suara langkah kaki, rupanya dia telah selesai. Aku langsung pura-pura tiduran menekuk kaki di sofa. Kurasakan sekali, matanya menelanjangiku. Pasti dia bingung mau bagaimana. Tapi akhirnya, Pak Simin duduk juga di tempatnya tadi duduk.

“Eh !!”, Pak Simin kaget, karena tiba-tiba aku meregangkan tubuh melonjorkan kaki dan menaruh di pangkuannya, membuat dia makin salting saja.

Kurasakan di betis yakni selangkangannya meninggi, dia makin konak Yes !!. Pak Simin menepuk-nepuk telapak kakiku, memanggil namaku untuk mengetahui keadaanku.

“Non, Non Niaa…” dia membangunkanku, namun aku sengaja seperti ini.

Lama kelamaan dia menyerah juga, yang kunanti-nanti datang juga. Tangannya ditaruh di betisku, lalu digesek-gesek untuk merasakan halusnya. Melihat reaksiku Nol, dia semakin ketagihan. Jarinya bergerilya menelusuri paha, sampai meremas pantatku kecil-kecil. Dengan hati-hati, dia mengangkat rok-ku, berniat memuaskan mata melihat isinya.

“HHNGGKH !!”, Pak Simin sesak nafas, dia spontan menyingkap rok-ku sepinggang.

Tubuhku dimiringkannya, sebelah kakiku diangkat dan dipapah ke bahunya. Seketika kurasakan dengus nafas yang menderu, menerpa belahan kemaluanku.

Sniff ! Sniff !!, dia mengendus wangi vaginaku.

Leeeepph !!, sebuah jilatan panjang yang telak di memek tiba-tiba, membuatku tak kuasa menahan desahan.

“Aaaaaaaahh…”, kuintip Pak Simin menyeringai melihat reaksiku. Pria seumurnya, tentu tidak hijau dalam masalah seks. Dia pasti tau kalau aku hanya pura-pura tidur, sengaja menjerumuskan godaan sampai ke hal ini.

Pak Karsimin tertawa cekikikan seperti orang gila tiba-tiba, selanjutnya dia melahap dan menjilat kewanitaanku bagai maniak seks, rakus sekali. Suara seruputan sampai-sampai mengalahkan suara Tv, hal ini menjadi boomerang terhadapku.

(Shit, enak bangeet…), dalam hatiku, tubuhku menggelinjang nikmat tak karuan.

“Sluuurph memek bule…Shrrrrrph Aaaahh, gurih…enak !!” celotehnya.

Senjata makan Nona buatku, aku menyiksa birahi diriku sendiri. Kutahan desahan sebisa mungkin, kugigit bibir bawah untuk menutup suara keluar.

“Emmh…!” aku tersiksa, gairahku meletup-letup, namun tak bisa ku-expresikan. Baik itu melalui desahan, maupun jambakan tangan pada kepala si penyeruput.

Aku hanya bisa mengapit kepalanya karena geli-geli enak, yang percuma karena akan kembali dibentangkan lagi olehnya. Pak Simin menambah serangan, menggerepeh paha dan meremas pantatku. Jarinya dicelup-celupkan ke liang senggamaku yang sudah becek, hingga membuahkan bunyi, Clek..clek..clek..clek !!

“Emmmhh…AAAAAAAAAAAAHHHHH…SSSSHHTT !!” aku orgasme dengan mata terpejam, dan kaki mengapit keras kepalanya.

Kulupakan sejenak status kami, tak peduli bahwa dia adalah tukang kebunku. Yang jelas, mulutnya yang rakus memek itu, berhasil membuatku orgasme. Kenikmatan berganda, di kala orgasmeku yang belum mereda, adalah emutan panjang di bibir vagina. Tubuhku mengejat-ngejat nikmat, Pak Simin tertawa sinting menyaksikan kekalahanku. Mataku masih terpejam, namun dadaku naik turun karena nafasku tersengal-sengal. Dia mengelus-elus pahaku, bangga dengan kemenangannya menaklukanku, dimana aku munafik untuk mengakuinya. Pak Simin melepaskan diri, kuintip dia rupa-rupanya sedang menanggalkan sarungnya. Ternyata, diapun tanpa dalaman, penisnya yang mengacung kini mengincar vaginaku.

(Shit ! gimana niih…?!), pikirku kebingungan.

Maksudku tidak sampai sejauh ini, tidak sampai bersetubuh. Bisa saja aku bangun dan kemudian berakting mengomelinya. Tapi…aku akan gagal mendapatkan kenikmatan berikutnya. Kenikmatan yang lebih nikmat daripada tadi, masuknya penis ke vagina. Selagi aku masih bingung, Pak Simin sudah mengambil posisi mendekati kewanitaanku. Dia kembali memiringkan tubuhku, lalu berjongkok disana. Dipapahnya kakiku sebelah di bahunya, agar lebih mudah memasuki milikku. Aku bingung, Pak Simin melekatkan penis dan bergerak menggesek kewanitaanku. Aku mendesah lirih, sepertinya, aku menyerah saja pada kenikmatan yang terlalu sayang untuk ditolak. Dia membuka lebar bibir kemaluanku, penisnya telah tepat mengarah kesitu.

(Ayo Pak ! setubuhi aku, senggamai aku sampai aku kelojotan bahkan hingga sakit jika jalan…penuhi liangku dengan mani-mu, acak-acak dalamnya sesukamu…entot aku, perkosa aku…milikku adalah milikmu…), dalam hatiku lebai, sudah kepalang horny. Namun sayang, sial bagi kami.

Din Diiiin !!, klakson mobil yang berarti Papi telah pulang.

(Shit ! tanggung banget sih datengnya !!), keluhku, Pak Simin juga bersungut-sungut.

“ADUH !! MEMEK DEPAN MATA, TINGGAL SODOK, WUEDYAAN !!!” omel Pak Simin kesal, gagal maning-gagal maning.

Aku saja yang sudah dapat klimaks sekali merasa tanggung, apalagi Pak Simin. Dia menggebrak-gebrak sofa seperti orang STRES !!, aku memakluminya. Penisnya belum rejeki atas vaginaku, belum jodoh. Pak Simin dengan cepat mengenakan sarung, lalu pergi meninggalkan diriku. Setelah dia keluar, barulah aku segera naik ke atas untuk melepas pakaian dan membersihkan diri dengan mandi susu. Selesai mandi, aku ke kamar Papi untuk menyapanya. Papi sempat bertanya aku tadi dimana sewaktu beliau datang, aku menjawab yang kebetulan tidak perlu berbohong bahwa sedang mandi. Papi hanya menggangguk, aku pamit tidur dan balik ke kamar.

|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||

Esoknya, aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Aku segera mandi dan sarapan. Lalu menuju kamar Papi. Pintu kamarnya tampak terbuka, dia sedang beres-beres untuk ke Swedia menyusul Mami. Aku masuk dan memeluknya manja dari belakang, karena akan berpisah dengannya kurang lebih seminggu. Papi tertawa, meledek aku yang sudah besar tapi masih seperti anak kecil. Walaupun dia memaklumi karena aku anak satu-satunya dan perempuan pula. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.

“Maaf tuan…Pak Hasan sudah datang !” kata suara yang rupanya mbak Siti, dia kembali ke dapur. Raut wajahku pun langsung berubah, Papi memandangku dengan wajah penuh tanda tanya.

“Kenapa Non ?” tanya Papi meledek.

Biasanya Papi menggunakan panggilan ‘Non’ kalau sedang ingin bercanda, aku merengut manja menatapnya.

“Sudahlah, jangan terlalu marah sama dia…khan engga sengaja bikin ubin kamar mandi jadi rusak !” nasihat Papi.

(Bukan itu piii…aduuhh !!), keluhku dalam hati.

“Yuk ke bawah…” ajaknya, kami pun menuju ruang tamu.

Aku melihat Pak Hasan dan Asep sedang duduk di sofa, melempar senyum tanpa dosa ke arah kami.

“Apa khabar Pak ?” sapa Pak Hasan mengawali, menawarkan jabatan tangan.

“Ya, ya baik…berduaan aja ?” sahut papi menyambut jabatan tangan.

“Iya…khan yang musti diperbaiki engga banyak, jadi tukang satu…kernet satu, cukup !”.

“Oh gitu, ok silahkan duduk !”.

“Trimakasih, Non Nia juga gimana khabarnya ?” tanya Pak Hasan padaku sok ramah.

“Baik !!” sahutku ketus, mereka tertawa yang maksudnya hanya aku dan mereka yang mengerti, sementara Papi tidak.

Kemudian Papi dan kedua kuli gila seks itu membicarakan mengenai biaya perbaikan. Setelah selesai dan terjadi kesepakatan, Papi dan pak Hasan kembali berjabat tangan. Mereka menawarkan jabatan tangan juga padaku, namun aku menolaknya. Papi tertawa sambil mengelus-elus punggungku, ia menyangkanya aku marah karena kakiku yang terluka. Padahal bukan itu, tetapi hal yang lebih besar lagi. Mereka tertawa seolah-olah memaklumi, padahal sebaliknya. Mereka akan semakin bergairah dalam menyalurkan dendam birahi jika ada kesempatan menyetubuhiku. Pria macam mereka, semakin kami wanita menolak galak melawan, malah semakin bernafsu gila.

“Nia, Papi berangkat dulu yah !” pamitnya mengelus sayang rambutku.

Aku mencium pungguk tangannya, kuantar dia ke mobil. Papi bilang akan men-transfer uang jajan di jalan ke rekeningku. Aku langsung tersenyum manis senang, Papi mencubit pipiku gemas.

“Mbok, aku jalan dulu…titip Nia !”.

“Tuan…anu maaf, saya baru dapat khabar…keponakan saya yang sakit keras…me-me-meninggal Tuan !!”.

“Ya Tuhan…aku turut berduka mbok” sahut Papi.

Aku yang dekat dengan mbok Siti karena anak tunggal, bergerak mendekatinya dan mengusap-usap punggungnya, larut dalam duka nestapa bersama.

“Iya tuan trimakasih…jadi, saya mau izin seminggu !” kata mbok Siti seraya menyeka air mata.

“Ya-ya, engga papa…” jawab Papi mengambil dompet di kantung belakang celananya, lalu mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu untuk diserahkannya ke Mbok Siti.

Mbok Siti menerima pemberian, mengucapkan terima kasih dan pamit lebih dahulu. Aku meneruskan jalan bersama Papi ke parkiran, Jaja membukakan pintu belakang mobil, Pak Karsimin menggeser pintu gerbang.

“Pak Simin, titip Nia yah !” teriak Papi pada si tukang kebun pervert berumur.

“Beres tuan, hehehe…” sahutnya, yang kemudian menyeringai ke arahku.

(Shit, jangan-jangan dia mau lanjut yang kemarin…), dalam hatiku.

Mobil Papi pun melaju meninggalkanku. Kini, tinggalah aku bersama Pak Simin dan dua kuli pemerkosa.

“Aku ke dalam ya Pak…”.

“Iya Non, Bapak juga nerusin kerjaan nih sebentar lagi…nanti juga Jaja pulang abis anter Tuan, Non kalo ada perlu apa-apa cari aja saya di belakang yah !” terangnya.

Aku mengangguk dengan hati yang lega. Setidaknya, dia akan menjagaku dari niat jahat dua kuli itu. Aku kembali ke ruang tamu, Pak Hasan dan Asep tampak sudah memulai pekerjaannya di kamar mandiku yang ada di atas karena bising suara pukulan palu. Kunyalakan Tv tidur selonjoran di sofa, memakai celana pendek dan kaus tanpa lengan. Betul saja dugaanku, tak berapa lama Pak Simin mendatangiku. Menurut laporan penis, vaginaku masih punya saldo hutang birahi.

(Shit, si tua bangka muka memek dateng nyari gw mau ngentot…), keluhku.

Sayang waktunya tak tepat, aku sedang tidak mood. Mana ada dua orang yang kubenci lagi, aku terpaksa harus tegas menolaknya.

“Non Nia, lagi nonton ?” tanyanya sambil tersenyum mesum.

“Iya…” sahutku ketus singkat, berharap dia pergi karena tak tega aku menolaknya.

“Bapak temenin yah…” katanya dengan cengiran, hingga giginya yang hitam dan mulai ompong itu terlihat olehku.

“Engga usah Pak kali ini…” sahutku memberinya kode, namun dia terlalu udik untuk mengerti.

“Oo ya udah…” balasnya langsung terdiam, aku jadi semakin tak enak.

“Non engga senam lagi kaya kemaren ?” tanyanya lagi tiba-tiba tak menyerah.

Aku tau dia memancing, tapi ada Pak Hasan yang membuatku BT dan tak mungkin aku melakukan hal kemarin ada dia. Secara tak langsung, Pak Simin menyudutkanku. Serba salah dan tak mungkin kujelaskan masalahku, Papi saja tidak tau.

“Ada tukang bangunan khan Pak, engga mungkin sekarang-lah…Nia malu donk, udah Bapak keluar deh jangan ganggu Nia dulu !” kataku telepasan ketus, Pak Simin terlihat kecewa dan sedikit marah dari guratan di wajahnya.

Dia bangkit dan berjalan cepat meninggalkanku, aku merasa bersalah jadinya. Habis, harus bagaimana lagi ?. Sementara ini, Pak Simin pasti berpikiran bahwa aku hanya mempermainkan dirinya. Seharusnya aku langsung minta maaf padanya. Dalam masa kalutnya hati dan pikiran, mataku kriyep-kriyep, kata orang sih tidur ayam. Beberapa menit kemudian mataku gelap dan memetik kembang tidur. Aku bermimpi, mimpi kedatangan dua pria tampan. Keduanya bergerak menelanjangi dan menggerayangiku. Melihat ketampanannya aku pasrah, satu pria menciumi pipiku penuh nafsu, satunya menggerayangi pahaku dengan gencar. Tapi aneh ? cumbuan mereka kasar sekali, tidak sesuai dengan wajah, tidak romansa dan tak senada. Pria yang menciumi pipi, sekarang menghisap payudaraku. Pria satunya yang menggerayang paha, melahap rakus kewanitaanku. Keduanya lapar dan dahaga, walau tak kupungkiri aku menikmatinya. Kuangkat kelopak mata sedikit demi sedikit.

(Aah, kenikmatan ini nyata…tapi, mana ada pria tampan ? di rumah semuanya pria buruk muka ?!), aku tersadar dengan mata terbelalak.

(AAAARGHH…SHIIITT !!!).

To be continued…

Part. 1 – Exibisionis.

Part. 2 – Rape & Gangbang.

By : Novita Andhiny (Diny), sexyspheare@lovemail.co.uk
Diposkan oleh Cerita Cerita Sex 17 tahun di 00:57 :: Leave a comment...4 comments
Label: Pemerkosaan
Magical Dildo: Lust in Lift
0



Jam enam sore di gedung perkantoran berlantai 20 itu terlihat mulai lenggang, banyak karyawan kantor sudah pulang, yang tersisa hanya mereka yang lembur, satpam yang menjaga gedung, dan para petugas kebersihan yang menyelesaikan pekerjaannya. Zuhri adalah salah satu di antaranya, ia adalah office boy yang bekerja di kantor itu. Ia sedang mengumpulkan sampah-sampah di lantai 12 ke dalam bak sampah dorong sambil bersiul-siul kecil. Ketika sedang bersih-bersih di sebuah ruangan yang disekat partisi, matanya diam-diam mencuri pandang pada seorang gadis cantik yang sedang sibuk di depan komputernya sambil mengobrol lewat ponselnya. Gadis itu bernama Arline, 24 tahun, salah satu staff accounting di perusahaan asuransi yang terletak di lantai 12 itu, saat itu ia sedang menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Sudah sering Zuhri melongo dan menelan ludah karena pesona kecantikan Arline, apalagi gadis itu sering memakai baju seksi di kantor. Hari itu Arline memakai kemeja putih lengan pendek di balik blazernya dipadu rok biru tua yang menggantung sejengkal di atas lutut. Pahanya yang ramping dan mulus itu dibungkus stoking transparan yang senada dengan warna kulitnya. Zuhri merasakan celananya semakin sesak saja ketika lewat di depan gadis itu yang tersenyum basa-basi padanya.
Arline

Arline

“Idiihhhhh” wajah Zuhri mendadak berubah saat ia memalingkan wajahnya ke depan, Mpok Minah tersenyum lembut kepadanya, kemungkinan besar Mpok Minah Naksir berat pada Zuhri, wajah Mpok Minah yang berbanding terbalik dengan Arline, bagaikan langit dan bumi, bagaikan hitam dan putih, yin and yang, membuat Zuhri bergidik membayangkannya

“Nasib…nasib…barang bagus tapi cuma bisa dipelototin aja!” keluhnya dalam hati.

Zuhri merasa bagai pungguk merindukan bulan, tentu saja dengan tampang yang jauh di bawah standar, wajah ndeso dengan bibir tebal juga kocek yang untuk menghidupi diri sendiri saja kadang setengah mati, mana mungkin bisa mendapatkan gadis cantik berpendidikan seperti Arline. Di usianya yang sudah menginjak 31 tahun, Zuhri belum pernah berpacaran, karena sifatnya yang pendiam dan susah bergaul itu. Paling banter dulu di kampungnya pernah dekat dengan seorang gadis, tapi gadis itu pun akhirnya menikah dengan pria lain pilihan orang tuanya. Ia ke ibukota untuk mengubah nasib dengan mendapat uang lebih banyak tapi nyatanya seperti lagu “siapa suruh datang Jakarta”.

Ia menghela nafas pelan sambil membuka bak sampah dorongnya dan menuangkan sampah dari tong sampah dari bawah sebuah meja. Sebelum menutup kembali tutup bak sampah itu, mendadak matanya tertumbuk pada sebuah benda berwarna merah mencolok.

“Eh apaan tuh?” tanyanya dalam hati

Zuhri meraih benda itu dari antara tumpukan sampah-sampah lain, ternyata adalah sebuah dildo berbentuk aneh, ujungnya berbentuk kepala babi. Batangannya yang sepanjang kurang lebih 25cm terbuat dari bahan karet yang lembut.

“Wew…kok bisa ada barang ginian ya?”

Setelah membersihkan ruangan itu, Zuhri tidak segera turun ke bawah, ia ke ruangannya terlebih dulu untuk minum dan istirahat sebentar. Dinyalakannya TV kecil di ruangan itu, di TV nampak Grace Natalie sedang mewawancarai Ali Muchtar Ngabalin, anggota DPR yang pro UU Pornografi.

“Kapan gua diwawancara sama Mbak Grace ya!” katanya dalam hati menatap wajah cantik salah satu pembawa berita favoritnya itu.

Ketika iklan, Zuhri mengeluarkan dildo aneh tadi dari saku celananya dan diamat-amatinya sejenak.

“Hehehe…jangan-jangan punya si nenek sihir Selmy itu” ia nyengir-nyengir membayangkan Bu Selmy, salah satu staff senior yang galak dan suka ngomel-ngomel terhadap siapapun yang kerjanya tidak sesuai keinginannya, ya namanya juga perawan tua, mau apa lagi coba?

Iseng-iseng Zuhri menekan tombol yang terletak di bawah dildo itu dan bbbzzzzz…..benda itu pun bergetar.

“Weis…masih jalan lagi!”

Namun tiba-tiba getaran benda itu makin keras saja seperti alat pengebor jalan sehingga Zuhri pun sampai kaget dan benda itu terlepas dari genggamannya saking kuatnya getarannya. Ketika jatuh ke lantai, bles…tiba-tiba seberkas cahaya yang sangat menyilaukan membuat Zuhri tidak kuat hingga harus menutup matanya dengan kedua tangan.

“Buset…alamak…apaan nih!?” ia sampai jatuh ke lantai karena kaget.

“Huahahaha….!” tiba-tiba terdengar sebuah suara tawa

“Heh…sapa lo? Mahluk apaan lo?” Zuhri melongo dan menunjuk-nunjuk pada pria berkostum aneh yang muncul di hadapannya itu.

Pria kurus tinggi itu memakai kostum yang eksentrik, sebuah setelan ketat yang dadanya terbuka sehingga menunjukkan bulu-bulu dada dan tulang-tulang yang tercetak di kulitnya, juga memakai topeng merah dan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya, hanya bagian mulut yang terlihat yang dihiasi kumis dan jenggot tipis.

“Wahahaha…kenalin gua Jin Dildo hahhaa!” pria aneh itu memperkenalkan diri tanpa berhenti tertawa.

“Apa? Jin…Dildo? Jadi lu berasal dari barang itu?” tanya Zuhri yang masih terheran-heran sambil memandang dildo babi yang tergeletak di lantai.

“Yo’i….tepat sekali, kaya jin lampunya Aladin itu loh, cuma kalau gua dari dildo” jelasnya.

Zuhri mencubit-cubit pipinya sendiri masih tidak percaya dan mengira ini hanyalah mimpi. Bisa-bisanya di jaman serba komputer begini ada jin-jinan, jin dildo pula, benar-benar konyol sehingga ia belum mempercayai pengelihatannya sendiri. Dengan menggunakan jari telunjuk Zuhri mencoba mencokel belek di sudut matanya, ajib benar, Jin Dildo masih berdiri di tempatnya, berarti ini bukan halusinasi..!!

Jin Dildo

Jin Dildo

“Karena kamu telah mengeluarkan saya, maka saya juga akan memberikan kamu satu permintaan” lanjutnya dengan gaya bicara yang aneh.

“Hahaha…bener nih? Kalau gitu gua minta duit setrilyun bisa dong?” Zuhri masih belum percaya dan memandang sinis pada pria itu.

“Wah-wah-wah…bukan permintaan seperti itu” katanya lagi, “kalau kamu minta duit, minta jadi penguasa dunia, minta hidup abadi, itu sih saya gak bisa”

“Yeee…katanya jin bisa ngabulin permintaan, taunya cuma jin karbitan” Zuhri melambaikan tangan dengan wajah sinis pada pria aneh itu.

“Wowowo…denger dulu dong coy, gua tuh cuma bisa ngabulin permintaan tentang seks, jadi fantasi seks setiap orang yang ngeluarin gua, gua sanggup mewujudkannya!” terangnya sambil tangannya ikut bermain seperti pelawak pantomim.

Zuhri bengong menatap pria yang mengaku jin itu. Ia tak percaya mendengar pengakuan

pria itu. Bisa-bisanya dia membual dapat mewujudkan fantasi seks orang yang membebaskannya dari dildo aneh itu, ini semua hanya ada dalam dongeng anak-anak, pikirnya.

“Jadi kamu masih belum percaya? Gimana kalau saya buktikan dulu?” tantang pria aneh itu, “nah liat tuh si penyiar berita cantik itu, kamu pengen kan ngeliat dia ngeseks di depan layar waktu bawain berita?” tanyanya.

“Wahaha…pengen banget lah, tapi cuma mimpi kali yee!” kali ini Zuhri tertawa geli mendengarnya karena hal itu adalah mustahil.

“Tekk…” Jin Dildo menjentikkan jarinya dan senyum lebar di wajah Zuhri segera memudar berganti melongo memandang layar televisi.

————————————————
Grace Natalie vs Ali Muchtar Ngibulin

Grace Natalie vs Ali Muchtar Ngibulin

……..

“Oke baik Pak…sekarang ini kan batasan mengenai pornoaksi sendiri itu kan masih belum jelas, nah, kalau menurut Pak Ali sendiri yang dimaksud pornoaksi itu yang seperti apa aja sih Pak?” tanya Grace Natalie pada pria bersorban dan berjenggot itu mengenai UU yang kontroversial tersebut.

“Aaahh…baiklah mengenai hal yang satu ini saya akan berikan contoh konkritnya” jawab Ali Muchtar Ngabalin sambil mendekatkan duduknya ke arah Grace yang mewawancarainya.

“Yang seperti ini Mbak bisa dikategorikan sebagai pornoaksi” lanjutnya sambil meletakkan tangannya di paha Grace dan bergerak menyingkap rok hitam selututnya hingga paha mulusnya terlihat, “juga yang seperti ini” tangannya yang satu meraih payudara kiri Grace dan meremasnya dari balik blazernya.

“Pak…tolong jaga tingkah Bapak, kita lagi siaran!”, kata Grace tegas, tapi anehnya dia membiarkan tangan pria itu tetap mengelus-elus pahanya, wajah cantiknya terlihat merona merah, matanya makin sayu

“Pak ini…mmmm!” Grace hendak berdiri dan menyentaknya, namun Ali Muchtar dengan sigap mendekap tubuhnya dan memagut bibirnya dengan ganas.

Anehnya Grace malah menyambut pagutan pria itu dengan tak kalah agresif. Kamera mendekat dan menfokuskan ke arah mulut mereka sehingga lidah mereka yang saling membelit terlihat jelas di layar kaca. Tanpa melepas cumbuan, tangan Ali Muchtar mempreteli satu-satu kancing baju Grace sehingga menyembullah buah dada penyiar berita cantik itu yang masih dibungkus bra hitam berenda. Grace yang sudah larut dalam birahi menggerakkan tangannya melepaskan pakaian luarnya yang telah dipreteli kancingnya sehingga dari pinggang ke atas ia hanya tinggal memakai bra. Ali Muchtar menarik turun cup bra yang sebelah kiri lalu mulutnya yang tadinya mencium bibir Grace dengan cepat berpindah ke payudaranya yang sudah terbuka. Tangannya yang lain dengan lincah menarik turun resleting roknya lalu meloloskannya dari paha jenjang wanita itu.

“Nah kalau yang ini namanya pornografi yaitu mempertontonkan aurat di depan umum” kata Ali Muchtar sambil menjilat puting Grace yang berwarna coklat, saat itu kamera terfokus pada wajahnya yang tengah mesum itu.

Grace mendesah-desah dengan wajah menengadah merasakan kenikmatan yang menjalari tubuhnya. Tangannya lalu menurunkan jas pria itu. Setelah itu ia membiarkan tubuhnya dibaringkan pria itu pada sofa, lalu pria itu melepaskan kancing branya yang terletak di dada. Kini payudara Grace terekspos jelas, kedua gunung kembar itu nampak naik turun seirama nafas pemiliknya yang memburu. Penyiar berita cantik itu kini tinggal mengenakan celana dalam dan sepatu haknya. Pria bersorban itu menyeringai mesum menatap tubuh mulus Grace. Ia membuka sabuknya dan menurunkan resleting celananya sendiri.

“Sekarang saya akan peragakan bagaimana kaum pria juga bisa dikenai pasal undang-undang ini” katanya sambil membuka celana

Grace tampak terhenyak melihat penis Ali Muchtar begitu benda itu menyeruak keluar dari balik celana dalam pria itu. Ukurannya termasuk besar dengan kepala bersunat, bulu-bulunya juga selebat janggut yang tumbuh di bawah mulutnya. Pria itu meraih tangan Grace menggenggam penisnya yang telah ereksi itu, ia turun dari sofa dan berdiri di hadapan Grace.

“Kalau ini dikategorikan pornoaksi, melakukan aksi yang membangkitkan nafsu birahi di depan umum” katanya sambil membawa wajah cantik Grace ke selangkangannya, kepala penis pria itu tinggal berjarak 1 cm saja dari bibir Grace.

Tahu apa yang diinginkan si anggota dewan ‘yang terhormat’ itu, Grace mulai menjilati dan menghisap penis itu dengan bernafsu. Kamera mendekat ke wajah cantiknya mensyuting wajah penyiar berita cantik itu yang sedang melakukan oral seks, pipinya tampak menggelembung karena kepala penis pria itu. Ali Muchtar mendesah keenakan, gairahnya semakin meledak terutama ketika matanya bertemu mata Grace yang sesekali memandang ke atas.

“Uuuhh…sepongan Mbak Grace emang top banget!” lenguh pria bersorban itu keenakan.

Sambil mengulum penis itu, Grace juga meremas-remas payudaranya sendiri, dari mulutnya terdengar gumaman tak jelas. Tak lama kemudian tangan kirinya yang meremas payudaranya itu merambat ke bawah dan masuk ke celana dalamnya, satu-satunya kain yang tersisa di tubuhnya. Nampak tangannya bergerak-gerak di balik celana dalam hitam itu.

Ali Muchtar, yang makin merem-melek menahan nikmat, menarik lepas penisnya dari mulut Grace sebelum ejakulasi dini. Ia kembali duduk di sofa dan mendekap tubuh mulus Grace.

“Sudah jelas kan mengenai apa itu pornografi dan pornoaksi itu?” tanya Ali Muchtar sambil menciumi payudara Grace yang montok.

“Iyah Pak…aahh…jelasshh!” desah Grace dengan mata terpejam karena pria itu menyedot-nyedot putingnya.

Ia nampak pasrah ketika tangan pria brewok itu menarik lepas celana dalamnya bahkan menggerakkan kakinya seolah membantu pria itu menelanjanginya. Kini tubuh Grace Natalie, sang penyiar berita cantik itu sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Ali Muchtar lalu menaikkan kaki kanan Grace ke sofa kedua belah pahanya mekangkang dan memperlihatkan vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat.

“Nah…menunjukkan alat kelamin di depan kamera seperti ini juga bisa disebut pornoaksi” kata Ali Muchtar sambil menunjuk vagina Grace yang disorot kamera.

“Sekarang saya tunjukkan juga kegiatan lain yang bisa dikenai pasal pornoaksi misalnya begini…” jelasnya sambil menempatkan diri di antara kedua paha wanita itu, satu tangannya memegangi penisnya untuk diarahkan ke vagina yang sudah basah itu. Kepala penis yang mirip jamur itu pun menyentuh bibir vagina Grace, namun pria itu tidak segera memasukkannya, ia menggesek-gesekkannya terlebih dulu sehingga penyiar cantik itu menggeliat dan mendesah karena rasa geli yang nikmat.

“Masukin Pak…aaahhh…saya mohon!” desahnya sambil meremasi payudaranya sendiri.

Ali Muchtar menyeringai melihat reaksi Grace, wajahnya yang sudah seperti bandit padang pasir itu semakin terlihat memuakkan dengan senyum mesumnya itu. Saat itu barulah ia menekan penisnya hingga memasuki vagina Grace. Penyiar cantik itu pun membeliakkan mata dan mendesah, penis pria berjanggut itu semakin dalam memasuki vaginanya dilanjutkan dengan gerakan menyodok. Mula-mula sodokan itu cukup lembut, namun sodokan-sodokan berikutnya semakin keras dan cepat sehingga sepasang payudara Grace ikut bergoncang-goncang mengikuti sentakan tubuhnya.

Ali Muchtar terus memompa vagina Grace, tangannya makin kuat meremas-remas payudara wanita itu. Kamera kini menangkap wajah Grace yang tengah mengap-mengap mengeluarkan desahan nikmat, ia terlihat makin menggairahkan dengan ekspresi seperti itu apalagi kedua pipinya yang putih bersemu kemerahan menahan rangsangan. Sepuluh menit kemudian, pria itu melepas penisnya dari vagina Grace kemudian ia membaringkannya menyamping menghadap kamera. Paha kiri penyiar cantik itu ia angkat dan sangkutkan ke bahunya. Setelahnya kembali ia masukkan penisnya ke vaginanya, kali ini nampak lebih mudah karena lubang intim itu sudah sangat basah. Pria itu melanjutkan genjotannya, dengan posisi demikian ia dapat merasakan pahanya yang berbulu itu bergesekan dengan paha mulus Grace. Ia menggelinjang dan mendesah setiap kali anggota dewan itu menyentakkan pinggulnya, tangannya kadang meremasi sofa dan kadang meremas payudaranya sendiri. Genjotan itu makin lama makin kuat, akhirnya Grace dilanda orgasme hebat, pinggangnya sampai melengkung seolah mengekspresikan nikmat yang amat sangat itu. Beberapa kali tubuhnya tersentak sentak sampai akhirnya melemas, kakinya yang melejang-lejang sampai pria itu harus memeganginya dengan kuat agar tidak tertendang. Namun ia masih menggenjotnya dengan bersemangat hingga sekitar lima menit kemudian. Ali Muchtar mencabut penisnya dari vagina Grace lalu dengan agar buru-buru ia berdiri di dekat wajah wanita itu.

“Crett…crett…aaaahhh!” desahnya sambil menyemprotkan spermanya ke wajah Grace yang telah terkulai lemas di sofa.

Cairan putih kental itu menyemprot deras bagaikan kilang minyak, bercipratan membasahi wajah cantik itu. Grace membuka mulutnya membiarkan cipratan itu masuk, rambutnya yang hitam pendek itu juga terkena cipratan sperma. Setelah semprotannya reda, Grace meraih penis itu lalu menjilati sisanya yang masih menetes pada kepala penis itu. Ali Muchtar mendesah keenakan sambil meremas rambut Grace karena menahan nikmat penisnya yang seperti jamur hitam itu disedot-sedot. Sesudahnya, Grace mengelap cipratan di wajahnya dengan jarinya, dihisapnya jari-jarinya yang belepotan sperma itu.

Ali Muchtar menghempaskan dirinya di sofa setelah menikmati orgasme dahsyat tadi. Ia meraih tubuh telanjang Grace yang belum pulih benar. Ia naikkan wanita itu ke pangkuannya dalam posisi menyamping, tangannya yang satu menyangga punggung wanita itu dan satunya meraba-raba tubuh mulusnya.

“Demikian penjelasan saya tentang pornografi dan pornoaksi, apa ada yang ditanyakan lagi?” katanya.

“Mmhh…baik Pak, sekarang kita akan hadirkan narasumber lain untuk sshhh…membahas lebih jauh” kata Grace masih terengah-engah.

“Silakan…saya harap narasumber yang cantik supaya kita bisa main bareng ronde berikutnya” katanya mesum sambil mengelusi paha dalam Grace.

“Baiklah pemirsa…kita sambut narasumber berikutnya…Ratna Sarumpaet!!”

Ali Muchtar langsung terhenyak mendengar nama itu terlebih ketika wanita paruh baya itu muncul dengan mengenakan lingerie seksi membuat penisnya tambah menyusut, wajahnya memucat seperti orang mati.
Ratna Sarungkaret ehh...Sarumpaet

Ratna Sarungkaret ehh...Sarumpaet

“Selamat malam Pak Ali, ayo sekarang kita bahas pro kontra UU Pornografi!” sapa Ratna genit, “kalau saya pakai kaya gini itu porno gak Pak?”

“Waaaa…kenapa yang nongol kok kaya gini?” Ali Muchtar bangkit dari sofa dan mundur-mundur melihat wanita itu mendekati mereka.

“Ayo dong Pak…Bapak kan suka nyerang saya terus tiap bicarain undang-undang ini, ayo sini dong Pak katanya mau main bareng!”

“Wadow tobat!! Gak mau!! Saya pulang aja!” Ali Muchtar langsung berbalik dan Ratna Sarumpaet langsung mengejarnya.

“Demikian pemirsa tentang pembicaraan malam ini tentang pornografi dan pornoaksi” kata Grace ke arah kamera dengan gayanya ketika membawakan berita namun tanpa memakai pakaiannya, sesekali ia nampak menyeka ceceran sperma di bibirnya, “saya Grace Natalie undur diri”

“Aaaahhh…tuuuluuunggg!! Saya mau diperkosa!!” Ali Muchtar lewat di belakang sofa berlari tanpa celananya yang belum sempat dipakai, sorbannya sudah miring sebelah, kemeja dan jasnya sudah acak-acakkan. Sedetik kemudian Ratna Sarumpaet juga muncul lagi di depan kamera berlari mengejar sambil memanggil nama pria itu.

———————————————-

Zuhri mengucek-ngucek matanya seakan belum percaya pada pengelihatannya sendiri.

“He..he..he… bagaimana? Kamu sudah percaya?” tanya Jin Dildo.

“Ppp.. pef.. percaya, PERCAYA jadi…jadi semua ini kamu yang ngatur?”

“Yo’i…kamu kira saya gak serius? Sekarang apa fantasi seks terliarmu? Saya akan bantu mewujudkannya” kata Jin Dildo sambil menggaruk-garuk selangkangannya.

Zuhri memegang dagu dan memikirkan apa yang akan dimintanya dari jin ini.

“Nih ambil!” sahut Jin Dildo seraya melemparkan sesuatu pada Zuhri yang masih belum selesai berpikir setelah lima menit

“Buat apaan ini? katanya mau mengabulkan permintaan, koq malah dikasih kondom??”

“Yee denger dulu dong, kamu cukup melemparkan kondom itu ke arah wanita yang kamu sukai, setelah itu permintaanmu untuk bercinta dengannya akan terkabul!!”

“WAh, nggak bener nihhhh!! Gimana kalau kondomnya nggak berfungsi?? gimana kalau dikasih testernya dulu”

“TESTER ??? Loe pikir kue ?? ya udahlah ngalarisan, nihhhh…ambil!”Jin Dildo memberikan kondom yang ukurannya lebih kecil untuk dipakai sebagai tester.

Zuhri lalu keluar dari ruangannya, didengarnya suara langkah kaki di koridor samping, ia segera mendatangi asal suara. Seorang gadis cantik sedang berjalan ke arah tangga turun dekat lift, nampaknya ia hendak ke lantai di bawahnya saja karena tidak mengambil lewat lift. Dengan hati was-was Zuhri mengeluarkan kondom tester dari Jin Dildo. Dasar Zuhri, biarpun cuma sebagai tester ia tidak mau merugi, dipilihnya yang bening pula. Dengan gerakan cepat dari atas tangga Zuhri menjatuhkan kondom tester di tangannya ke arah si gadis yang sedang berjalan turun

“Criiinggg….”

“ehhh ?? LHAAAAAA….!!”

“Plekkkkk…..” lemparan Zuhri malah meleset dikit dan mengenai sesuatu yang lain yang membuat lutut Zuhri gemetar hebat.

“Mas , sini dooonggg…”terdengar suara merdu imitasi.

“Ehhh…enggak.., enggak makasih….”

“Masss ayooo dooonggg!“ suara itu terdengar semakin merdu dan manja.

“Nggakk usah,,., nggak usahhhh…, MAKASIHH…suzz!” Zuhri segera mundur teratur.

“MASSS SINI DOOOONGGG, WOIII, MO LARI KEMANA!?? GUA BERI LUHHH!!” nada suara merdu dan manja itu mendadak berubah menjadi aslinya.

“MAMPUS dahh…!!, WOAAWWWWW!” tanpa harus berpikir dua kali Zuhri mengeluarkan ilmu meringankan tubuh dan berlari sekencang-kencangnya tanpa menoleh ke arah suara berat mirip seperti suara bass betot itu

“NGOSS—HHH, Ngoossh, uhukkk, NMGOSSS” setelah berlari putar-putar menghindari pengejar itu Zuhri akhirnya memasuki ruanganna sendiri dan berhenti berlari, sesekali ia menengok lewat jendela ke luar dengan wajah ketakutan. Di belakangnya muncul kepulan kabut yang semakin tebal dari balik kabut muncullah Jin Dildo.

“Nahh gimana? ampuh bukan??” tanyanya sambil menyeringai

“Ampuh apanya?? Kira-kira dong, masa saya dikasih yang kaya begituan, saya ini normal Om Jin, !! sukanya ama yang bening bening!! ”Zuhri membentak Jin Dildo

“Lohhh, yang salah sasaran kan ente buka ane!! yang kena lempar malah Ivan Gunawan!” Jin Dildo balas membentak, nyali Zuhri langsung menciut melihat sikap galak Jin Dildo.

“Tenang Omm, tenangg…orang sabar banyak rejeki”

“Ya sudah, sekarang ga usah pake kondom-kondoman, langsung aja ucapin permintaannya, ingat cuma satu permintaan, kalau sampai salah..KASIAN DEH LOEEE!”

“Langsung aja? Jadi ga usah pake lempar-lemparan kondom kaya tadi?”

“Yup tinggal ucapkan keinginan, nanti gua yang ngatur gimana kejadiannya, gitu aja” Jin Dildo mengangguk

“Ya illah…kenapa baru sekarang bilangnya? Gua udah ampir diembat sama diva jadi-jadian tau ga sih!” kata Zuhri dengan wajah dongkol, kecele, dan agak sebal dengan si jin ini.

“Ya abis situ mikirnya lama banget tadi, ya gua kasih itu aja biar instan tinggal lu lempar!” tangkis Jin Dildo.

Meskipun sebel, Zuhri kini memikirkan baik-baik apa fantasi terliarnya yang terpendam, ia tak mau salah lagi karena kesempatannya cuma satu saja. Kini ia baru teringat lagi dengan Arline yang diidam-idamkannya, saking antusiasnya tadi ia sampai lupa memikirkan gadis idolanya di kantor ini. Senyumnya langsung mengembang di bibir tebalnya.

“Hhhmmm ini aja, di kantor sini ada karyawati cantik banget namanya Arline, dia sekarang di lagi beresin pekerjaan di ruangannya, coba atur supaya saya bisa ngentot sama dia, gimana bisa ga?” tanya Zuhri penuh harap.

“Cuma gitu aja? Dengan cara bagaimana? Ingat permintaannya cuma satu, coba pikir baik-baik fantasi seks seperti apa yang kamu inginkan bersama dia karena setelah ini kamu tidak akan bisa meminta lagi” tanya Jin Dildo meyakinkan Zuhri sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya.

Zuhri berpikir ulang lagi, bagaimana prosesi seks yang diinginkannya, benar juga kata jin itu, ini kesempatan sekali seumur hidup jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“Ah begini aja, gua pengen terlibat seks di dalam lift sama Non Arline, kalau bisa sih pesta seks jadi ada cewek lain juga hehehe…” jawab Zuhri, ia teringat lagi film semi yang ditontonnya beberapa hari lalu dimana ada adegan sepasang kekasih bercinta di dalam lift.

“Ohoho…fantasi yang bagus, as your wish!” katanya

“Es yur wis? Apaan tuh? Mantranya ya?” tanya Zuhri bingung.

“Itu bahasa Inggris artinya sesuai permintaanmu, dogol!” kata si jin sambil menggeplak kepala Zuhri.

“Dasar jin galak, gua kan ga pernah belajar bahasa Inggris” Zuhri mengelus-elus kepalanya.

“Nah sekarang yang kamu lakukan tinggal ke lift dekat tangga darurat terus masuk ke dalamnya!”

“Terus? Masa gitu aja?”

“Udah ikutin aja kata gua, selanjutnya lu tinggal liat sendiri, sana cepet!” perintah Jin Dildo.

Masih antara percaya dan tidak, juga takut gagal seperti sebelumnya, Zuhri mengikuti saja apa kata jin itu. Ia melangkahkan kakinya menuju lift yang dimaksud. ‘Ting’ setelah tiga menit akhirnya lift membuka di lantai 12, di dalam nampak seorang pria berkumis tipis berusia 40tahunan bertubuh agak gemuk dan seorang pria setengah baya berambut sudah mulai memutih yang tubuhnya sudah mulai bongkok.

“Yang bener aja? Isinya kok kaya gini? masa gua disuruh main pedang-pedangan ama mereka?” keluh Zuhri dalam hati memandang pada kedua orang itu.

“He…mau masuk atau ngga? Kok malah bengong disitu?” tanya si pria berkumis tipis.

“Ehehe…iya, iya saya mau masuk!” ia memilih untuk masuk saja karena ingin menguji kemampuan si Jin Dildo.

Setelah pintu menutup lift naik ke atas, detik demi detik terasa lama bagi Zuhri yang sudah was-was takut kalau pesta seks yang dimaksud si jin adalah bersama kedua orang ini.

“Aduh emak harusnya gua gak masuk tadi, mana Non Arlinenya, tadi banci kaleng, sekarang masak sama dua bandot ini sih?” keluh Zuhri dalam hati sambil menjeduk-jedukkan kepalanya pelan ke dinding lift.

“Nih orang kenapa sih? Nasib…nasib udah pulang malam, selift ama wong gendeng lagi” kata si pria gemuk dalam hati sambil memandang aneh pada office boy itu.

Si pak tua juga mengernyitkan dahi melihat tingkah aneh pemuda itu. ‘Ting’ lift membuka di lantai 16, kali ini barulah mata Zuhri berbinar-binar karena yang masuk memang sesuai harapan. Seorang gadis berambut panjang berparas cantik, tubuhnya yang ideal dibungkus kemeja putih dengan aksen kotak-kotak pada pinggirannya serta rok bermotif senada dengan motif pakaian atasnya. Gadis ini bernama Karina, 22 tahun, sekretaris salah satu perusahaan di gedung ini. Bukan hanya Zuhri, kedua orang pria itu juga turut terpesona pada kecantikan Karina. Lift kembali menutup dan kini menuju ke bawah, di lantai 12, ‘ting’, inilah yang diharap-harapkan Zuhri sejak tadi, wajahnya langsung berubah cerah melihat yang menunggu di depan pintu lift. Si cantik Arline kini hendak pulang, ia membawa map dan tas jinjingnya dan melangkah memasuki lift itu.

Karina

Karina

Kini di dalam lift ada dua orang gadis cantik dan tiga orang pria. Pria gemuk berkumis tipis itu bernama Nurdin, seorang karyawan salah satu perusahaan di gedung ini yang juga baru selesai kerja dan hendak pulang, sementara pak tua itu biasa dipanggil Pak Oding, seorang petugas pembersih toilet. Ketika lift baru saja melewati lantai 8, tiba-tiba terdengar bunyi seperti benturan dan lift berhenti diikuti sedikit goncangan yang membuat kedua gadis tersebut menjerit panik. Pak Nurdin, yang berdiri dekat tombol lift, mencoba berinisiatif dengan menekan tombol OPEN, namun pintu lift tidak mau terbuka, begitu juga tidak ada reaksi ketika ia menekan tombol lainnya sembarangan. Tampaknya mereka terjebak di dalam lift itu.

“Gi…gimana ini?” Karina kelihatan panik sambil memandang semua orang di lift.

“Jangan panik! Sebentar lagi pasti ada yang memperbaiki lift ini, anu Pak tekan tombol yang gambar lonceng itu buat panggil petugas” ujar Zuhri pada Pak Nurdin mencoba menenangkan Karina dan Arline.

“Mana? Kok gak jalan nih? Masa intercomnya juga mati?” kata Pak Nurdin memencet-mencet tombol itu tanpa ada suara balasan dari sana.

“Tenang…tenang, saya coba hubungi orang di luar pake HP!” sahut Arline yang kelihatan lebih tenang seraya mengeluarkan HP dari tasnya, semua menatap penuh harap padanya.

“Oh my God…” katanya dengan ekspresi dongkol menatap layar ponselnya

“Kenapa Non?” tanya Pak Oding

“Gak…gak ada sinyal…duh ayo dong ayo!!” kata gadis itu sambil berjalan ke arah lain dan menggerak-gerakkan tangannya yang memegang ponsel berusaha mencari sinyal namun usahanya sia-sia.

“Ada yang punya HP lagi ga?” tanyanya memandang pada Karina.

“Gak…punya gua juga baru habis batere tadi sekarang gak nyala” Karina menggeleng, wajahnya kelihatan makin cemas.

“Ada…coba yang saya!” Pak Nurdin segera membuka tas kerjanya dan mengeluarkan ponselnya, “waduh sialan…gak ada sinyal juga!” omelnya sambil menyentak kaki.

Zuhri dan pak tua Oding menggeleng karena mereka tidak punya ponsel.

“Gawat, kita terkurung di sini tanpa bisa hubungin orang di luar” kata Pak Nurdin sambil geleng-geleng kepala.

Kelima orang itu terdiam menyandarkan punggung masing-masing ke dinding lift sambil memikirkan jalan keluar. Pak Nurdin masih mondar mandir berusaha mencari sinyal.

“Itu Jin gimana sih? Tadi gua ampir dimangsa banci kaleng, sekarang gua dikurung di lift? Mana pesta seksnya?” keluh Zuhri dalam hati, ia merasa tidak ada tanda-tanda ke arah sana karena sekarang semua sedang memikirkan caranya keluar dari sini.

Lima menit berlalu, suhu di dalam lift semakin meningkat tapi belum ada tanda-tanda positif. Arline menekan-nekan tombol di lift berharap ada reaksi namun hasilnya sia-sia.

“Apa kita bakal lama di sini? Sa…saya mulai ssshh…ga enak badan” kata Karina yang tiba-tiba merasa gerah yang tidak wajar, ia merasakan jantungnya berdetak makin kencang, darahnya makin berdesir dan dirasakannya selangkangannya pun mulai mengeluarkan cairan tanpa bisa ia kendalikan.

Dilihatnya Arline, ternyata gadis itu pun mengalami hal yang sama. Ia mulai tampak tidak tenang dan gelisah, kakinya pun ditutup rapat sambil mulutnya menggigit bibir bawahnya. Namun ia sedapat mungkin menyembunyikan perasaan aneh itu agar tidak terlihat yang lain. Bukan hanya dialami kedua gadis itu, hal serupa pun dirasakan oleh ketiga pria di dalam lift itu. Hormon-hormon seks mereka seperti bergolak sehingga penis mereka mengeras menyesakkan celana, mata mereka pun memandang nanar pada kedua gadis cantik yang terjebak bersama mereka. Zuhri mulai menyadari ini pastilah hasil perbuatan Jin Dildo, tapi belum berani bertindak apapun, yang lain pun jadi tidak bersuara memendam birahi yang tiba-tiba melanda mereka itu sehingga suasana di lift sempat hening sejenak, yang terdengar hanya suara nafas yang mulai tidak teratur dan suara tubuh bergeser sedikit. Pak Nurdin beberapa kali mengelap keringat di dahinya dengan saputangan, ia juga heran mengapa dalam situasi seperti ini birahinya datang tiba-tiba. Mata Karina merem-melek, ia sudah tidak tahan lagi dengan libido yang semakin bergolak dalam tubuhnya, ia pun mendekati Pak Nurdin yang berdiri paling dekat dengannya.

“Pak…ssshh…tolong yah, saya udah gak tahan!” selesai berkata ia langsung memeluk pria tambun itu dan melumat bibir tebalnya.

“Non saya juga ikutan yah…sama nih gak tahan!” kata si pak tua penjaga toilet seraya mendekap tubuh Karina dari belakang, tangannya langsung menggerayangi bagian dada gadis itu dari luar kemeja kerjanya.

Zuhri dan Arline terbengong-bengong memandangi Karina berciuman panas di antara kedua pria itu. Meskipun keduanya juga telah terangsang berat namun belum berani mengungkapkannya. Sementara itu, Karina dan kedua pria itu semakin panas saja, Pak Nurdin serta merta menyambut cumbuan gadis itu, tangannya merayap ke bawah menyingkap rok gadis itu dan mulai membelai paha belakangnya. Di belakangnya, Pak Oding mulai mempreteli kancing baju gadis itu satu persatu hingga akhirnya pakaian itu terbuka dan terlihatlah bra ungu di baliknya.

“Ka…kalian ngapaian?” tanya Arline terperangah memandangi mereka, ia sendiri semakin terangsang, tangannya yang dilipat di dada diam-diam meremas payudaranya sendiri dari balik kemejanya.

“Hei…tunggu apa lagi tuh? Bengong aja?” Zuhri tiba-tiba mendengar bisikan tanpa wujud di telinganya.

Mata Zuhri bergantian memandangi Arline dan Karina, kemaluannya telah mengeras namun sebagai seorang pria yang pemalu dan belum pernah menyentuh perempuan ia masih belum berani bergabung.

“Hehehe…dasar perjaka tingting, cewek idamanlu udah horny juga…tinggal lu sikat, tunggu apa lagi!” kata bisikan itu lagi.

Dengan gemetar tangan Zuhri bergerak ke bawah mencolek pantat Arline.

“Aawww!!” Arline memekik dan langsung memelototi Zuhri, “kamu kurang ajar…mmhhh!”

Gadis itu mendorong Zuhri ke dinding lift lalu secepat kilat memagut bibir Zuhri dengan bibirnya. Walau agak kaget, Zuhri pasrah ketika lidah gadis itu merangsek masuk ke dalam rongga mulutnya. Satu tangan Arline mengelus-elus bagian depan celana Zuhri, sementara tangan lainnya menelusuri dada dan perutnya.

Arline menarik turun resleting celana office boy itu lalu tangannya langsung menyusup masuk ke celana dalamnya mengocok benda panjang di baliknya. Setelah itu ia melepas ciumannya dari bibir Zuhri dan berlutut di depannya, dipelorotinya celana panjang pria itu beserta celana dalamnya. Penis yang hitam dan panjang itu langsung mengacung di depan wajah cantiknya.

“Uoohh!” Zuhri mendesah nikmat ketika untuk pertama kalinya kepala penisnya yang bersunat itu dijilati oleh seorang wanita.

Ia bengong melihat penisnya dimainkan oleh Arline, gadis itu mengocoki penisnya sambil menjilati kepala dan batang penisnya. Sementara di depannya, Karina masih berciuman dengan panas dengan Pak Nurdin, namun kini seluruh kancing pakaiannya telah terbuka, kedua cup bra nya juga telah terangkat sehingga payudaranya yang berukuran sedang itu menyembul keluar.

“Apa yang terjadi? Ini masih di lift, mereka ini siapa sampai aku bisa berbuat begini dengan mereka? tapi…tapi aku gak bisa mencegah, malah menikmati semua ini? Kenapa ini?” Karina bertanya-tanya dalam hati.

Sekretaris cantik itu tidak mengerti karena dalam hatinya dia sama sekali tak menginginkan percumbuan ini, tapi entah kenapa ia hanya bisa diam dan tak sanggup menolaknya. Ia merasa tubuhnya bereaksi di luar kontrolnya, libidonya seperti meledak-ledak menuntut pemuasan dengan cara apapun juga. Lidahnya mulai mengikuti permainan lidah Pak Nurdin dan bibirnya pun ikut menghisap mulut pria tambun itu. Putingnya semakin mengeras saja ketika tangan keriput Pak Oding meremasi payudaranya dan jari-jarinya yang nakal memencet dan memilin putingnya. Pak Nurdin mengangkat roknya dan tangannya merambat naik mengelusi paha mulusnya. Sensasi nikmat itu semakin bertambah ketika ia merasakan paha yang satunya juga dielus-elus oleh si penjaga toilet yang mendekapnya dari belakang. Ia menggerakkan bola matanya ke samping dan melihat Arline sedang berlutut di depan office boy itu dan mengoral penisnya dengan bernafsu.

”Ada apa sebenarnya ini? Semua ngeseks tanpa malu-malu di tempat ini? Aku…aku…aahh!” Karina makin bingung dan tidak mampu mengendalikan diri lagi, apalagi rangsangan demi rangsangan semakin membuatnya terbuai.

”Uhhh…Non, enak banget…oohh…geli…asyik!” Zuhri menceracau tak karuan merasakan permainan mulut Arline pada penisnya, lidahnya yang hangat itu menjilati memutar kepala penisnya, terkadang menjilat lubang kencingnya, dipadu dengan hisapan dan kulumannya, kepala gadis itu nampak maju mundur melayani penis Zuhri.

Lima menit kemudian, tiba-tiba Arline menghentikan sepongannya membuat Zuhri yang sedang asyik-asyiknya menikmati pelayanan mulutnya kecewa. Tatapan mata gadis itu begitu sayu dan wajahnya merona merah pertanda ia telah dilanda birahi tingkat tinggi. Tanpa dikomando, Zuhri menyandarkan tubuh gadis itu ke sudut lift lalu berjongkok di hadapannya. Tangannya segera mengangkat rok hitam yang dikenakan gadis itu dan diciuminya bagian selangkangannya yang masih tertutup celana dalam dan stoking. Ia menggesek-gesekkan jarinya pada bagian tengah selangkangan gadis itu sehingga wilayah itu semakin berlendir dan merembes hingga membasahi celana dalamnya. Zuhri mulai menurunkan perlahan-lahan stoking dan celana dalam yang dipakai gadis itu. Arline yang sudah dikuasai nafsunya juga melepaskan sepatu haknya, lalu mengangkat kakinya satu demi satu membiarkan celana dalam dan stocking itu lepas. Kini terpampang sudah paha Arline yang mulus juga kemaluannya yang berbulu hitam lebat itu.

”Ooohh….ssshhh…yaahh!” erang Arline sambil menggigit bibir bawah dan meremasi rambut Zuhri ketika lidah pria itu menjilati bibir vaginanya.

Arline mendesah nikmat walaupun teknik menjilat Zuhri tidak berpengalaman, situasi lah yang membakar birahinya. Apalagi kini di hadapannya, Karina yang pakaiannya telah terbuka tengah berlutut sambil menyepong dan mengocok penis Pak Oding dan Pak Nurdin secara bergantian. Kedua pria itu mendesah-desah karena kelihaian Karina memanjakan penis mereka. Sesekali matanya yang bulat indah melirik ke arah mereka yang merem melek keenakan, sungguh seksi ekspresinya ketika itu. Lima menit kemudian, Pak Nurdin yang ingin mendapat kenikmatan lebih, melepaskan kocokanku dan pindah berlutut di belakang si sekretaris cantik itu. Ia angkat pantat gadis itu hingga sedikit menungging, roknya diangkat hingga sepinggang kemudian ia menurunkan celana dalam krem yang masih pada tempatnya itu.

“Aaahhh!” Karina mendesah dan menggeliat merasakan benda tumpul bergesekan dengan bibir vaginanya.

“Masukin aja Pak, saya udah kepengen banget!” pinta Karina sambil menengok ke belakang.

Pak Nurdin pun tanpa buang waktu segera menekan kepala penisnya memasuki vagina gadis itu yang telah becek. Erangan Karina mengiringi proses penetrasi itu.

“Eengghh…enak Non, hangat, legit!” komentar Pak Nurdin menikmati jepitan vagina Karina.

Pria tambun itu pun mulai menggenjot tubuh Karina, tangannya meraih payudara gadis itu dan meremasinya dengan gemas.

“Yuk Non, nyepongnya terusin dong!” sahut Pak Oding seraya menjejali penisnya yang sempat terabaikan sejenak ketika penetrasi tadi ke mulut gadis itu.

Karina semakin bersemangat mengoral penis pak tua itu sambil menikmati sodokan-sodokan Pak Nurdin. Penis itu dihisapnya kuat-kuat, sesekali lidahnya menjilati ‘helm’nya. Teknik ini membuat Pak Oding blingsatan tak karuan sampai dia menekan-nekan kepalaku ke selangkangannya. Kocokan terhadap juga semakin dahsyat hingga desahan ketiga pria ini memenuhi ruangan lift.

“Nnnhhh…nnnnhhh…” lenguh Pak Nurdin merasakan setiap sensasi jepitan daging kemaluan Karina, benar-benar nikmat vagina si sekretaris cantik itu, ia makin bernafsu merojok-rojokkan penisnya ke liang senggama Karina.

Setelah beberapa saat lamanya disetubuhi Pak Nurdin, tiba-tiba badan Karina mengejang, kedua kakinya dirapatkan.

“AAAAGGHHH… … .” erang Karina mencapai orgasme yang dahsyat.

Tubuhnya menggelinjang kemudian melemah, tangannya masih mengocok penis Pak Oding, vaginanya yang terlihat mengeluarkan cairan membasahi selangkangannya begitu Pak Nurdin mencabut penisnya. Setelah beberapa lama persetubuhan itu berlangsung. akhirnya pria tambun itu pun menyemprotkan spermanya dengan sodokan yang keras ke dalam vagina Karina.

Arline yang sedang menikmati jilatan Zuhri pada vaginanya semakin terangsang menyaksikan Karina digarap kedua pria itu. Ia membuka kancing kemejanya sendiri dan mengeluarkan payudaranya dari balik cup branya. Ia meremasi payudaranya sendiri dan memain-mainkan putingnya yang telah mengeras. Ia merasa ada sesuatu yang merasukinya sehingga tidak mampu menahan hasrat dan tidak malu-malu lagi bertingkah binal seperti ini.

“Sssshh…udah…cepet masukin, gua udah kepengen nih!” Arline menarik rambut Zuhri yang sedang menghisap vaginanya.

“Uuppsss…sabar Non kok dorong-dorong gitu!” kata Zuhri karena didorong gadis itu hinggu terduduk di lantai lift.

Dengan agresif Arline segera naik ke selangkangan Zuhri dan meraih penisnya. Zuhri melongo dan nafasnya semakin memburu melihat wajah Arline yang telah memerah dan dadanya yang terbuka memperlihatkan sepasang payudaranya yang bulat montok.

“Uuuuhh…Non!!” erang Zuhri dengan mata membeliak melepas keperjakaannya yang telah berlangsung selama tiga dekade, vagina Arline menelan penisnya perlahan-lahan, menjepit dan memberi kehangatan pada penisnya.

“Aaaahhh!” Arline juga mendesah seiring tubuhnya yang menekan ke bawah menyatukan tubuhnya dengan tubuh si office boy itu.

Tanpa menunggu lama, gadis itu mulai menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Zuhri. Mata mereka saling bertatapan, wajah Arline yang terangsang berat dengan tatapan matanya yang liar itu sungguh membuat Zuhri semakin terpesona. Ia melepaskan kemeja dan bra gadis itu sehingga kini tubuh bagian atas Arline topless, yang tersisa tinggal roknya yang telah terangkat hingga pinggang dan stoking yang membalut paha jenjangnya. Mata Zuhri menatap nanar pada buah dada Arline yang terpampang tepat di depan wajahnya. Tangannya meraih payudara kanannya dan mulutnya melumat yang kiri.

“Slllphhhhhh… slllppphhhh… ckkk…slllphhhh” lidah Zuhri menjilati putting Arlline kemudian mulutnya memangut bulatan payudaranya yang putih besar tanpa terlewatkan satu centi-pun, dengan lembut Zuhri mengusap-ngusap bongkahan payudara gadis itu.

Arline mendekap kuat kepala Zuhri yang tengah asyik menyusu di dadanya. Mulut office boy itu memanguti beberapa tempat sehingga Arline mendesah tak karuan, gairahnya melonjak-lonjak tanpa tertahankan. Arline sempat menjerit beberapa kali, gerak naik-turunnya pun makin cepat sehingga membuat Zuhri sedikit ngilu pada selangkangannya karena bolanya beberapa kali tertekan, namun kenikmatan yang didapat jauh lebih besar.

Setelah Pak Nurdin mencapai orgasme bersama Karina, Pak Oding, si penjaga wc tua itu buru-buru menggantikan posisinya. Ia mengambil tempat di antara kedua paha Karina yang setengah berbaring di lift dengan menumpukan kedua sikunya pada lantai lift.

“Bapak entot yah Non!” katanya meminta ijin sambil menempelkan kepala penisnya pada bibir vagina si sekretaris cantik.

Karina mengangguk sambil mendesah pelan, ia meraih penis itu membantunya masuk ke vaginanya yang gatal dan menunggu dengan gelisah tanpa sabar. Dituntunnya penis pria setengah baya itu menuju liang senggamanya. Ia merasakan katup bibir kemaluannya langsung mengencang seakan tidak rela penis pria itu menembusnya. Ia merasakan kegatalan pada tepi-tepi klitorisnya yang terus mengeras tegang dan ketat menahan tusukan penis Pak Oding. Tetapi itu hanyalah ironi dari keinginan yang meledak-ledak dalam bentuk penolakan “jangan – tidak” yang dibarengi gelinjang-gelinjang nafsu birahi dari seluruh tubuhnya. Pada akhirnya semuanya tak ada yang mampu menghadang. Penis Pak Oding dengan kepala mirip jamur itu secara pelan dan pasti telah merangsek maju, menggedor-gedor gerbang vaginanya secara pasti dan tanpa kenal menyerah. Karina merasakan mili demi mili penis Pak Oding menerobos bibir dan kemudian dinding awal menuju liang kenikmatannya. Ia mendengarkan dan merasakan bagaimana lenguh dan desah pria tua itu saat penisnya melesak masuk di lubang sempitnya. Karina mengerak-gerakkan pinggulnya memancing agar pria itu mengocoknya. Setiap ada sedikit gesekan antar kelamin mereka, memberinya kenikmatan yang khas dan vaginanya sepertinya mengerti, ia merasa vaginaku makin becek saja. Pak Oding bergumam tidak jelas, nafasnya tidak teratur, dia mulai memaju-mundurkan penisnya dengan frekuensi sedang dan stabil, terkadang memutarnya seperti mengaduk sehingga membuat sekretaris cantik itu menggelinjang tak karuan. Di tengah genjotannya, tangan si penjaga wc tidak pernah absen menjelajahi kemulusan tubuh Karina. Pinggul gadis itu bergerak liar tanpa terkendali akibat kenikmatan yang melandanya, demikian pula erangan dari mulutnya. Ia tidak perduli lagi, ia hanya perduli akan kenikmatan yang sedang dirasakannya, tidak perduli dengan orang lain di lift ini karena semua sedang larut dalam birahi. Sedikit lagi…yah sedikit lagi…ia bergerak semakin liar merasakan orgasme yang sudah mendekat. Hingga satu titik…ia melolong panjang, seluruh otot tubuhnya mengejang seolah diterpa suatu gelombang yang dahsyat. Selama beberapa detik ia merasa kosong dan akhirnya kembali melemas.

Pak Nurdin yang penisnya sudah keras lagi mendekati Arline yang sedang woman on top di atas selangkanan Zuhri.

“Masukin ke mulut ya!” perintah Pak Nurdin memegang batang penisnya yang terarah ke wajah gadis itu.

Arline yang gairahnya sudah di ubun-ubun tanpa malu-malu meraih penis itu dan memasukkan kepala penis itu ke mulutnya. Pak Nurdin mendesah merasakan kehangatan mulutnya, sentuhan lidahnya memberi sensasi nikmat padanya. Karena ukurannya lumayan besar, sesekali Arline mengeluarkan penis itu dari mulutnya untuk dikocoknya pelan, kemudian dikulumnya lagi. Penis itu semakin mengeras dan berkedut-kedut di dalam mulutnya. Sesungguhnya Zuhri merasa sedikit cemburu melihat Arline yang dipujanya mengoral penis si gendut Nurdin, namun juga makin terangsang sehingga ia makin sering menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas sehingga penisnya makin menghujam ke dalam vagina gadis itu. Jepitan vagina Arline ditambah goyangannya yang liar benar-benar memberikan Zuhri sensasi luar biasa. Sebentar lagi ia akan mencapai puncak ditandai dengan penisnya yang semakin berdenyut.

“Aahh…Non…enakkkhhh…Non Arline…uuuhh!” desah Zuhri dengan mata membeliak-beliak dan tangan meremasi payudara gadis itu merasakan klimaks yang semakin dekat.

Akhirnya dengan erangan panjang Zuhri merasakan penisnya menyemprotkan isinya ke dalam vagina Arline. Cairan itu memenuhi vagina Arline sehingga membuatnya licin dan terdengar bunyi berdecak ketika kelamin mereka bertumbukan. Zuhri meraih orgasme pertama yang dahsyat dari gadis itu, bahkan setelah spermanya tidak keluar lagi, Arline masih tetap naik turun di atas selangkangannya. Goyangannya baru berangsur-angsur berkurang ketika penis Zuhri mulai melemas lagi. Pak Nurdin memberi syarat untuk ganti posisi, ia meraih lengan gadis itu dan membantunya berdiri. Arline kini bersandar ke pintu lift dengan pinggul menungging. Pria tambun itu mendekap tubuh langsingnya dari belakang dan menempelkan kepala penisnya pada selangkangan gadis itu.

“Aaaahhh…Pak!” erang Arline ketika dirasakannya benda tumpul menyentuh bibir vaginanya dan menekan masuk.

Pak Nurdin segera menghela pinggulnya setelah berhasil menancapkan penisnya pada vagina gadis itu. Kini tubuh keduanya berpacu mencapai kenikmatan.

“Eeehh…Non…apain?” tanya Zuhri pada Karina yang merangkak mendekati dirinya yang masih terduduk di lantai lift.

Karina tidak menjawabnya, namun sorot matanya yang sayu mengatakan ia ingin bercinta. Tanpa berkata apapun tangannya meraih penis Zuhri lalu ia menundukkan kepala ke arah situ dan ‘hap’ penis itu pun masuk ke mulutnya.

“Wuaduhh…Non, uhhh…hhhhsss….uenak!” erang Zuhri sambil meremas-remas rambut sekretaris cantik itu.

Lidah Karina bergerak liar menyapu kepala penis dan lubang kencing si office boy itu sehingga membuatnya berkelejotan dan merem melek keenakan. Sebentar saja penis Zuhri sudah mengeras lagi setelah sebelumnya sempat menyusut pasca orgasme dengan Arline tadi.

“Sshhh…udah dulu Non…ntar keburu keluar lagi!” sahut Zuhri seraya mengangkat kepala Karina sehingga penisnya terlepas dari mulut gadis itu.

Ia membaringkan tubuh Karina yang yang pakaiannya sudah terbuka sana-sini itu di lantai lift dan berlutut di antara kedua pahanya.

“Iyah…cepet masukin!” pinta Karina lirih, ia membuka lebar kedua pahanya dan jarinya membukakan bibir vaginanya yang sudah sangat basah.

“Hihihi…hoki lu, baru lepas perjaka dah dapet dua bidadari!” kata sebuah suara tanpa wujud yang hanya dapat didengar Zuhri.

Zuhri menempelkan kepala penisnya pada bibir vagina Karina dan menekannya. Karina mengerang dan tubuhnya menggeliat ketika penis itu menerobos masuk menggesek dinding-dinding vaginanya yang peret.

“Uuhh…enaknya!” kata Zuhri dalam hati menikmati sempitnya himpitan vagina Karina pada penisnya.

Sebentar kemudian ia mulai menggenjot vagina Karina setelah menaikkan kedua betis gadis itu ke bahunya. Sambil berpegangan pada kedua paha gadis itu, Zuhri semakin bernafsu menyetubuhinya. Karina mendesah-desah nikmat sambil meremas-remas payudaranya sendiri.

Kini Karina tak bisa memikirkan apapun selain merasakan kenikmatan yang amat sangat yang melanda vaginanya. Setiap genjotan Zuhri memaksanya merintih keenakan, apalagi kadang ia menyodok dengan keras, membuatnya melayang didera kenikmatan yang luar biasa. Sensasi ini masih ditambah dengan datangnya Pak Oding yang minta jatah lagi, ia berlutut di sebelah kepala gadis itu yang langsung membuka mulutnya. Pria tua itu segera melesakkan penisnya untuk mendapatkan servis oral dari Karina. Kurang lebih lima menit kemudian, Pak Oding menarik lepas penisnya yang telah mengeras lagi dari mulut Karina. Namun ia kini mendekati Arline yang sedang digarap oleh Pak Nurdin dalam posisi berdiri. Si penjaga wc tua menarik wajah gadis itu dan melumat bibirnya, tangannya yang keriput meraih payudaranya dan meremasinya. Sementara itu, Zuhri semakin cepat menggenjoti vagina Karina, ia merasakan penisnya semakin berdenyut-denyut dan sebentar lagi akan klimaks.

“Hhuuhh…Non, enak bangethh…hoohh…hhsss!” erangnya sambil terus memacu tubuhnya yang sudah bercucuran keringat.

“Terus Mas…terussshh…lebih kerasss!” Karina juga mengerang-ngerang nikmat, tangannya meraih leher Zuhri dan menariknya ke depan sehingga pria itu kini menindih tubuhnya.

Ia menggelinjang-gelinjang menikmati sodokan penis Zuhri pada vaginanya sambil berpagutan dengan pria itu. Setelah kira-kira sepuluh menit, Zuhri mencapai orgasmenya dengan menyemburkan spermanya ke vagina Karina. Bersamaan dengan itu, Karina yang nafsunya sudah di awang-awang pun mencapai orgasmenya ketika dirasakannya semburan hangat dalam vaginanya. Mereka berdua berbaring terengah-engah kelelahan. Saat itu Pak Nurdin juga baru saja melepas penisnya dari vagina Arline yang juga telah orgasme. Tubuh gadis itu merosot hingga duduk bersimpuh di lantai lift. Pak Nurdin mendekatkan penisnya yang masih keras ke wajahnya. Tahu apa yang harus dilakukan, Arline meraih penis itu dan mengulumnya sementara tangannya yang satu meraih penis Pak Oding dan mengocoknya lembut.

Zuhri mencabut penisnya dari vagina Karina, gadis itu lalu menggeser tubuhnya ke sebelah Arline dan mengangkatnya hingga duduk bersimpuh. Kini kedua gadis itu dikepung tiga pria. Tangan dan mulut mereka bergantian mengulum dan mengocok penis ketiganya. Pak Nurdin keluar lebih dulu, spermanya yang kental muncrat membasahi wajah dan sebagian rambut Arline. Setelah melakukan cleaning service yang mantap, Arline beralih ke penis si penjaga wc yang saat itu sedang dikocok oleh tangan Karina. Maka kini Arline mengoral Pak Oding dan Karina mengoral Zuhri, sementara Pak Nurdin yang baru orgasme bersandar lemas pada dinding lift. Tak sampai sepuluh menit kemudian, Pak Oding juga mencapai orgasmenya. Spermanya menyemprot di dalam mulut Arline yang telah siap dengan teknik menghisapnya. Gadis itu nampak berkonsentrasi menelan dan mengisap penis tua itu sehingga tidak sedikitpun dari cairan sperma itu meleleh di pinggir mulutnya. Hisapannya tentu saja membuat Pak Oding makin menggelinjang.

“Uuuhh….aahhh…Non, iseppphhh terusshh!” erangnya parau

Sementara Zuhri juga merem-melek keenakan menikmati sapuan-sapuan lidah Karina pada penisnya. Selain mengoral, tangan gadis itu juga aktif mengocoki batang penisnya. Zuhri tidak sanggup lagi menahan penisnya yang makin berkedut-kedut hendak meledakkan sesuatu di dalamnya. Cret…creett…uuhhh…akhirnya Zuhri mendesah ketika meraih klimaksnya. Saat itu Karina sedang mengocok penisnya, gadis itu segera menyambut cipratan cairan putih itu dengan membuka mulutnya. Sperma itu sebagian besar masuk ke mulutnya, namun sebagian lainnya membasahi bibir dan wajahnya. Karina meraih penis itu dan menjilati sisa-sisa spermanya seolah tak rela tidak kebagian cairan itu. Keduanya lalu berpelukan dan berciuman dengan penuh nafsu, payudara mereka saling berhimpitan. Arline menjilati ceceran sperma pada wajah Karina, sementara ketiga pejantan itu telah terduduk lemas di pinggir lift.

Beberapa menit kemudian, semua yang di dalam lift mulai sadar, kembali ke alam nyata. Perlahan akal sehat mereka kembali pulih karena birahi yang tadi selalu menyala walaupun selesai bercinta, sekarang tampaknya sudah terpuaskan. Kedua gadis itu buru-buru memunguti pakaian mereka dan dengan tergesa-gesa memakainya. Zuhri melihat kebingungan dan malu tersirat di wajah kedua gadis itu yang terlihat begitu lelah setelah pesta seks di lift. Baik Arline maupun Karina tak berani memandang tiga pria itu karena merasa malu dengan apa yang baru saja mereka perbuat

“Ya Tuhan…apa yang baru saja terjadi? Apa aku sudah menjadi pelacur yang tak bisa menahan nafsu sampai mau saja bercinta dengan orang-orang seperti ini?” pikir Arline yang menyesali perbuatannya barusan.

“Ada apa barusan? semua jadi horny dan terlibat ML” pikir Karina yang tak sanggup berkata apa-apa, ia tak menemukan penjelasan yang masuk akal mengenai kejadian tadi itu.

Semua di lift itu dilanda kebingungan, para pria saling pandang tidak tahu harus berkata apa. Tiga menitan setelah semua berpakaian, lift kembali menyala. ‘ting’ lift membuka di lantai dasar, kedua gadis itu buru-buru keluar walaupun sebenarnya mereka hendak menuju ke basement parkir. Zuhri kembali naik ke ruangannya untuk beres-beres bersiap pulang, hatinya dipenuhi dengan seribu tanda tanya sekaligus rasa puas karena telah berhasil bercinta dengan idolanya plus si sekretaris cantik Karina, sungguh sebuah pengalaman seks yang luar biasa yang belum tentu terulang lagi dalam hidupnya. Ia meraba saku celananya mencari dildo ajaib itu, namun benda itu sudah tidak ada.

“Hehehe…sudah puas kan?” Jin Dildo duduk di kursi sambil tersenyum lebar pada Zuhri yang baru memasuki ruangannya.

“Wah om Jin hebat banget tadi itu, boleh ga minta permintaan lagi nih? Yah boleh yah!” Zuhri memohon karena masih ingin mencicipi kenikmatan seperti tadi lagi.

“Eit…eit, jangan serakah, tugas gua udah selesai sekarang, gua harus pergi sekarang, di dunia ini masih banyak orang lain yang fantasi seksnya belum terpenuhi yang memerlukan saya, lain waktu siapa tau kita bisa berjumpa lagi” Jin Dildo bangkit mengibaskan jubahnya menutupi tubuh kurusnya.

“Eeehh…tunggu dong om Jin!” sahut Zuhri menghampirinya namun asap tiba-tiba mengepul di sekitar Jin Dildo sebelum akhirnya menghilang bersama sosoknya.

“Yah hilang deh!” Zuhri menghela nafas kecewa, namun bagaimanapun ia puas karena telah mewujudkan keinginannya.

Setelah beres-beres Zuhri pun mengunci ruangannya dan menuju ke arah lift untuk pulang. Ia bersiul-siul senang setelah kejadian barusan, dalam hatinya berpikir apakah Arline dan Karina akan memberinya jatah lagi hari-hari ke depannya. Jadi senyum-senyum sendiri ia membayangkannya.

“Eehh…tunggu, tunggu sebentar!” sahut Zuhri berlari kecil ke arah pintu lift yang mau menutup dari arah agak menyamping.

Pintu kembali membuka karena ada orang dari dalam menekan tombol open yang menahan pintu tersebut menutup lagi.

“Phewww…makasih ya!” kata Zuhri, “Hahhh!” ia langsung tersentak kaget, jantungnya seakan mau berhenti, melihat Ivan Gunawan yang ternyata menahan tombol lift.

“Idih…ternyata di sini, dicariin kemana aja daritadi!” kata Ivan dengan gayanya yang khas.

“Wadooww!! Tobatt!!” jerit Zuhri, sebelum ia sempat keluar lagi, pintu lift telah menutup dan si diva jadi-jadian itu telah merenggut kerah belakangnya.

“Ooomm Jin…tuollloonnggg!” terdengar suara sayup-sayup dari dalam lift.

Sementara itu dildo berkepala babi itu kini telah tergeletak di tempat lain di dunia ini, menanti siapapun yang memungut dan mengeluarkan si jin penunggunya yang siap mewujudkan fantasi seks terliarnya.

Diposkan oleh Cerita Cerita Sex 17 tahun di 00:49 :: Leave a comment...0 comments
Label: Pemerkosaan
Ketika Istriku Menjadi Budak Seks Bosku
0



Cerita ini bermula ketika aku dan istriku sudah membina rumah tangga selama 2 tahun. Aku bernama Tommy dan Istriku bernama Audrey, umurnya saat ini 27 tahun, berwajah cantik, kulitnya putih, tinggi badan sekitar 165cm, rambutnya sedikit lebih panjang dari bahu. Kehidupan kami berumah tangga sangatlah baik, kami termasuk keluarga yang mapan. Sebagai istri, Audrey adalah istri yang baik, ia adalah seorang wanita yang alim dan sopan. Untuk urusan ranjang, Audrey dapat dikatakan bukanlah seorang ahli, laki-laki pertama yang menidurinya adalah aku yaitu pada saat malam pengantin kami. Dua tahun kehidupan perkawinan kami berjalan baik-baik saja, kami belum mempunyai keturunan, mungkin kekurangannya adalah kehidupan seks kami terlalu biasa-biasa saja. Kami mungkin hanya berhubungan badan sekali dalam 2 minggu dan itupun hanya dengan cara yang sangat konvensional yaitu posisiku di atas dan dia di bawah. Audrey tidak menyukai atau bahkan dapat dikatakan tidak mau dengan gaya lain selain gaya konvensional tersebut. Entah kenapa setelah 2 tahun berumah tangga, pada waktu berhubungan badan dengan Audrey, aku selalu membayangkan Audrey sedang disetubuhi laki-laki lain, dan hal tersebut terus berulang sampai-sampai pada saat sedang tidak berhubungan badanpun dengan Audrey aku selalu memikirkan bagaimana rasanya melihat Audrey disetubuhi laki-laik lain. Aku bekerja di sebuah perusahaan multi-nasional, bossku adalah seorang warga negara China, umurnya sekitar 59 tahun, badannya sangat gemuk dan kepalanya sudah mulai botak, hanya tinggal rambut-rambut tipis menutupi bagian kepala belakangnya. Bossku ini, namanya Wen sangatlah baik kepadaku, dapat dibilang akulah tangan kanannya di Indonesia. Orangnya suka bergurau masalah-masalah seks. Wen sering sekali menanyakan kabar Audrey, memang sudah beberapa kali Wen bertemu dengan Audrey dalam acara-acara kantor, terlihat sekali dia sangat tertarik pada Audrey yang memang sangat cantik dan menggiurkan banyak laki-laki. Suatu ketika Wen menanyakan kehidupan rumah tanggaku, seperti biasa dia menanyakan kabar Audrey dan menanyakan mengapa sampai saat ini kami belum mempunyai keturunan dan apakah hal tersebut disengaja karena memang belum menginginkan keturunan. Mendengar pertanyaan tersebut, akupun menjawab bahwa sebenarnya aku dan Audrey menginginkan keturunan tapi memang belum berhasil mendapatkannya.

“Mungkin cara kamu salah Tom, berapa kali kamu berhubungan badan dengan istrimu dalam seminggu” Tanya Wen kepadaku.

“Yah sekitar sekali dalam 2 minggu dan pada saat istriku dalam keadaan subur” jawabku singkat.

“Waah, mungkin kamu harus periksa ke dokter tuh, dokter ahli kandungan dan dokter ahli jiwa. Kenapa ke dokter ahli jiwa? Karena kamu punya istri cantik tapi hanya ditiduri sekali dalam 2 minggu atau pada saat subur saja. Kalau Audrey itu istriku, pasti aku tiduri dia tiap hari dan berkali-kali” candanya kepadaku.

Mendengar hal tersebut, entah setan apa yang menghinggapi diriku, timbul sebuah ide dalam benakku.

“Mr. Wen mau tidur dengan istriku? Bilang saja terus terang” celotehku.

Mendengar perkataanku muka Wen terlihat kaget dan tidak percaya.

“Kalau saya bilang memang sangat mau bagaimana?” katanya memancingku.

“Ya boleh saja” sahutku.

Kemudian aku menceritakan kepada Wen bahwa akhir-akhir ini aku selalu membayangkan aku menyaksikan Audrey ditiduri laki-laki lain, dan aku juga menjelaskan bahwa mungkin pikiranku ini hanya akan jadi khayalan semata mengingat betapa alimnya Audrey. Ternyata gayung bersambut. Wen menjelaskan dan meyakinkan kepadaku bahwa sebenarnya tidak ada wanita yang alim dalam seks, wanita hanya memerlukan pancingan dan pengaturan “permainan” dari laki-lakinya untuk membangkitkan nafsu yang ada dalam dirinya. Wen kemudian mengatakan bahwa dirinya akan dengan senang hati membantu khayalanku menjadi kenyataan kalau memang aku mempercayainya. Mendengar itu akupun langsung mengiyakan. Wen kemudian memastikan lagi apakah aku tidak akan apa-apa kalau dirinya meniduri Audrey dan menanyakan apakah aku meminta imbalan sesuatu dari dirinya agar dia diperbolehkan meniduri Audrey. Aku menjawab bahwa aku tidak meminta apa-apa, aku hanya minta diperbolehkan untuk melihat dan menonton Wen meniduri Audrey.

“Hahaha…rupanya kamu sudah ingin sekali melihat istrimu ditiduri laki-laki lain ya” candanya kepadaku.

“Ya begitulah”, jawabku singkat.

“Oke, kalau begitu jumat depan bawa istrimu ke villa xxx di puncak pada pukul 8.00 pm” sahut Wen sambil menunjukan ancer-ancer dimana villa itu berada.

Bagian II: Pesta di rumah Wen
Mr. Wen

Mr. Wen

Pukul 8 malam aku dan Audrey telah berada di depan villa yang dimaksud oleh Wen. Audrey memakai gaun malam panjang. Wajahnya terlihat sangat cantik dengan sapuan make-up tipis. Badannya tetap terlihat menawan meskipun ditutupi oleh gaun malam yang panjang. Seorang pelayan yang rupanya bertugas menyambut tamu mempersilahkan kami masuk ke ruang tengah. Villa tersebut sangatlah besar ditengah perkebunan teh dengan halaman belakang dengan kolam renang dan jacuzzi. Ruang tengah villa tersebut sangatlah besar dan telah disulap menjadi diskotik dengan lagu house music yang berdentum keras. Sudah banyak tamu lain baik wanita maupun laki-laki yang telah datang lebih dahulu daripada kami. Semua tamu kelihatannya adalah teman-teman Wen, mereka adalah sesama pengusaha China daratan yang ada di Indonesia, rata-rata mereka berusia di atas 50 tahun. Aku tidak melihat satupun rekan kerjaku di kantor yang datang, mungkin karena memang tidak diundang. Melihat kami, Wen menyambut aku dan Audrey dengan ramah. Wen kemudian mempersilahkan kami menikmati pesta yang diadakannya dan menjelaskan kepada kami bahwa pesta ini diadakan untuk networking sesama pengusaha China daratan di Indonesia. Kemudian Wen meninggalkan aku dan Audrey dan mempersilahkan kami untuk memesan minuman langsung ke bar di pojok ruang tengah. Kamipun menuju bar untuk memesan minuman. Audrey memesan segelas jus buah dan aku segelas bir, dan kamipun menikmati pesta tersebut dan berbincang-bincang dengan tamu-tamu yang lain. Sekitar satu jam kemudian, yaitu tidak beberapa lama setelah Audrey menghabiskan jus buahnya, aku melihat terjadi perubahan pada diri Audrey. Audrey mulai menikmati lagu house music di ruangan tersebut dan mulai menggerakan badannya mengikuti alunan house music. Wen kemudian mendekati kami dan mengajak Audrey ke dance floor. Audrey tanpa meminta ijin dariku mengikuti Wen ke dance floor dan mulai menari dan berdansa dengan Wen. Aku melihat teman-teman Wen baik wanita dan laki-laki semuanya mendekat kepada Wen dan Audrey dan kemudian menari bersama. Sedangkan aku hanya duduk disofa dan menonton sambil meminum birku. Pesta berlangsung meriah, tidak terasa 3 jam sudah berlalu. Audrey masih menari dan berdansa dengan tamu-tamu lainnya. Aku melihat sudah beberapa gelas minuman yang ditawarkan kepada Audrey dan dihabiskannya. Kemudian 3 tamu wanita mengajak Audrey ke lantai atas villa, aku berusaha mengikuti tapi tiba-tiba tangan Wen mencegahku di kaki tangga menuju lantai atas.

“Biarkan saja, kamu harus mengikuti semua arahan saya kalau mau rencana kita berjalan lancar” kata Wen kepadaku.

2 jam telah berlalu semenjak Audrey naik ke lantai atas villa, tamu-tamu sudah banyak yang pulang, ketika tiba-tiba Wen memanggilku.

“Ayo ke atas” ajak Wen kepadaku. Akupun mengikuti Wen ke lantai atas bersama 4 tamu pria yang lain yang aku tidak tahu namanya.

Di lantai atas, Wen membimbing kami ke dalam sebuah kamar. Kamar tersebut sangatlah besar lengkap dengan segala furniture mewah, dan tepat ditengah kamar terdapat tempat tidur king size dengan sprei berwarna merah marun dengan TV LCD yang sangat besar menempel di dinding dan menghadap ke tempat tidur tersebut. Sebuah connecting door yang tertutup telihat di salah satu sisi ruangan itu menandakan kamar tersebut tersambung dengan kamar yang lain. Audrey dan 3 tamu wanita sudah berada di kamar tersebut, mereka sedang berbincang-bincang dengan akrab.

“Nah, ini kamar buat Tommy dan Audrey, yang lain ayo ikut saya, akan saya tunjukan kamar masing-masing” kata Wen sambil mempersilahkan tamu-tamu yang lain keluar dari kamar itu.

“Selamat malam dan selamat tidur, besok kita pulang ke Jakarta” kata Wen kepadaku dan Audrey sambil meninggalkan kami berdua di kamar tersebut.

Aku tidak tahu apa rencana Wen jadi aku hanya mengikuti saja apa yang diinstruksikannya. Setelah membersihkan badan, aku dan Audreypun naik ke tempat tidur. Beberapa saat kami mencoba tidur namun tidak bisa. Aku masih bingung dengan apa yang akan terjadi, mengapa Wen tidak melakukan apapun juga, sedangkan Audrey terlihat gelisah tidak tahu apa penyebabnya. Tiba-tiba Audrey memalingkan wajahnya kepadaku dan memelukku. Tanpa berkata apa-apa dia menciumku dan aku balas ciumannya.

Beberapa saat kami berciuman, Audrey berkata “Buka bajunya Tom, aku kepengen nih”.

Sedikit kaget aku melihat Audrey menjadi agresif, tidak biasanya Audrey mengajak aku melakukan hubungan badan, biasanya aku yang selalu mengajaknya.

“Mungkin ini akibat minuman yang diberikan Wen di pesta” pikirku.

“Mungkin ini ada kaitannya dengan rencana Wen” pikirku lagi.

Maka akupun menuruti apa yang diinginkan Audrey. Akupun melepaskan seluruh pakaianku dan kemudian aku melepaskan seluruh pakaian Audrey sehingga kami berdua telanjang bulat. Aku dan Audrey berciuman, berpelukan dan melakukan foreplay, namun meskipun telah beberapa saat melakukan foreplay, aku menyadari sesuatu hal yang aneh, kemaluanku tidak dapat berdiri dan mengencang.

“Ini pasti karena bir yang diberi oleh Wen, dia pasti mencampur sesuatu pada birku” pikirku dalam hati.

Kami mencoba segala macam gaya foreplay, namun meskipun sudah lebih dari 1 jam teta kemaluanku tidak dapat berdiri.

Audrey terus mencoba membangunkan kemaluanku, namun tetap tidak berhasil. Raut frustasi nampak di wajahnya. Terlihat sekali Audrey ingin berhubungan badan, gejolak dalam dirinya sudah tidak tertahankan lagi, namun keinginannya tidak dapat terpenuhi karena kemaluanku tidak bisa berdiri dan mengeras. Kami terus mencoba, namun tetap tidak berhasil. Wajah Audrey semakin terlihat frustasi, namun nafsu seksnya masih menggebu-gebu bahkan aku lihat tiap menit semakin bertambah. Tiba-tiba connecting door kamar kami terbuka dan Wen masuk ke dalam kamar kami dengan hanya menggunakan jubah tidur. Aku dan Audrey sangat kaget. Audrey langsung menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut.

“Maaf, mungkin saya bisa membantu kalian” kata Wen tiba-tiba.

“Pak Wen, harap keluar dari kamar kami” sahut Audrey dengan sedikit membentak.

Wen bukannya keluar kamar kami, tapi malah duduk dipinggir tempat tidur kami dan berkata “Saya melihat suamimu sedang dalam masalah, saya hanya ingin membantu”

“Apa maksudnya? Jangan kurang ajar!” sahut Audrey dengan keras.

“Tenang, saya hanya ingin membantu. Kita akan berpesta malam ini” kata Wen tegas.

Aku melihat Audrey sedikit takut mendengar bentakan Wen.

“Coba kita tanya suamimu apa pendapatnya” bentak Wen lagi kepada Audrey.

Aku sekarang menyadari inilah rencana Wen untuk dapat meniduri Audrey. Dan aku ingin sekali melihat Audrey ditiduri pria lain, maka akupun mengikuti permainan Wen.

“Terserah apa maunya Pak Wen, kami akan menuruti” kataku kepada Wen.

“Tom, aku tidak mau, apa-apan in….” Audrey belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Wen menarik selimut yang menutupi tubuh Audrey dan dengan cekatan tangan kanannya memegang kedua tangan Audrey dan menariknya ke atas kepala Audrey, sedangkan tangan kirinya menangkap kedua kaki Audrey.

Wen kemudian memerintahkanku untuk memegang pergelangan kedua kaki Audrey dan membukanya lebar-lebar. Akupun menuruti sehingga posisi Audrey sekarang tiduran dalam dalam bentuk menyerupai Y terbalik.

“Tom, jangan bantu dia tapi bant…..uuggghhh…..” terhenti kata-kata Audrey ketika Wen mulai menciumi kedua payudaranya berukuran pas sesuai dengan ukuran badannya, sedangkan tangan kiri Wen yang bebas sudah menggerayangi vagina Audrey.

“Mmmhh… saya tahu kamu sudah nafsu berat, jangan melawan, nikmati saja” bisik Wen kepada Audrey sambil terus menjilati kedua payudara Audrey.

“Tom, apa yang kamu lakukan” desah Audrey sambil memandang sayu kepadaku.

Aku tidak menjawab atau lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar. Terlihat dimuka Audrey bahwa dia sudah sangat terangsang karena ciuman dan jilatan-jilatan Wen dikedua payudaranya serta tangan kiri Wen yang memainkan klitorisnya. 15 menit diperlakukan demikian oleh Wen, Audrey mulai mengeluarkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan pelan, perut dan pinggangnya mulai bergerak mengikuti irama permainan jari wen di klitorisnya. Mata Audrey semakin sayu, matanya mulai merem melek. Kemudian Wen menghentikan ciumannya di kedua payudara Audrey dan berkata “Gimana Tom, kamu lihat sendiri istrimu mulai menikmatinya”

“Sebentar lagi dia akan menikmati malam yang paling menakjubkan bagi dirinya” tambah Wen sambil tetap memaikan klitoris Audrey dengan jarinya.

“Coba kamu pangku istrimu di pinggir kasur, pegang dan buka kakinya lebar-lebar. Aku ingin menikmati vagina istrimu yang sudah basah ini” perintah Wen kepadaku kemudian.

Aku menuruti apa yang diperintahkan Wen. Aku angkat Audrey dan aku duduk dipinggir kasur sambil memangku Audrey. Aku pegang dan buka kaki Audrey lebar-lebar sehingga sekarang Audrey posisinya dipangku olehku dan mengangkang lebar sehingga menyerupai huruf “M”. Audrey sudah tidak melawan lagi, tubuhnya yang lemas menuruti apa yang aku lakukan terhadapnya. Audrey hanya memandangku sayu tanpa berkata apa-apa lagi. Kemudian Wen berlutut dilantai dipinggir kasur. Wen memandang Audrey dan berkata

“Wow indah sekali vaginamu Audrey, pasti banyak laki-laki yang ingin memcobanya”.

Audrey hanya memandang Wen dengan sayu dan tidak menjawab. Wen kemudian mulai menjilati vagina Audrey yang disertai erangan dari Audrey. Audrey hanya bisa memandang Wen menjilati vaginanya, Audrey mulai menggigit bibirnya sendiri tanda dia makin terangsang, kadang-kadang dia memandangku seakan-akan untuk memastikan bahwa aku tidak apa-apa kalau dia terangsang oleh pria lain. Kemudian tangan Wen membuka vagina Audrey dengan tangan kirinya. Hal ini membuat Audrey yang sedang memandang sayu kepadaku kaget dan melihat ke bawah kearah vaginanya.

“Jangan…” desah Audrey pelan.

“Tenang cantik… ini akan enak sekali” sahut Wen dengan kasar dan tegas.

Kemudian Wen memasukkan kedua jarinya ke dalam vagina Audrey dan menggerakkannya keluar masuk dan memutar disertai jeritan kecil Audrey. Lalu kembali menjilati vagina Audrey dan memainkan klitoris Audrey dengan lidahnya tanpa menghentikan kegiatan jarinya di vagina Audrey.

Erangan-erangan dan rintihan-rintihan Audrey semakin keras, badan dan pinggulnya bergerak mengikuti permainan Wen di vaginanya. 15-30 menit diperlakukan demikian oleh Wen, Audrey terlihat mulai mendekati orgasmenya, erangannya semakin keras, goyangan badannya juga semakin keras dan tidak beraturan. Sampai pada akhirnya tubuh Audrey mengejang hebat, matanya tertutup rapat dan kepalanya mendongak ke atas.

“UUUGGGHHHHH…….” erang Audrey keras menandakan dia mengalami orgasme yang hebat. Cairan keluar dari vaginanya, cairan tersebut sedikit memuncrat. Tidak pernah kau melihat Audrey mengalami orgasme yang sedemikian hebat, apalagi hanya karena dijilati vaginanya. 3 menit lamanya Audrey dipuncak orgasme. Namun anehnya setelah orgasmenya berlalu Audrey tidak lemas, matanya malah berbinar dan wajahnya tersenyum nakal kepada Wen.

“Istrimu sudah siap disetubuhi. Obat yang saya berikan dalam minumannya bekerja dengan baik dan cocok untuk dirinya. Istrimu siap untuk bersetubuh sepanjang malam. Setiap habis orgasme badannya akan terasa semakin segar dan nafsu seksnya semakin menggila” kata Wen menjelaskan kepadaku karena melihat aku heran dengan keadaan Audrey.

“Sekarang kamu, duduk saja di sofa itu dan menonton istrimu kusetubuhi. Aku lihat kemaluanmu mulai bisa bangun lagi, artinya obat yang kucampur di birmu mulai hilang, sehingga kamu bisa menikmati tontonan yang akan aku dan istrimu berikan spesial untukmu” perintah Wen kepadaku.

Aku menuruti Wen dan pindah ke sofa di samping tempat tidur. Wen mengangkat tubuh Audrey dan menelentangkannya di tengah tempat tidur. Wen kemudian melepaskan baju tidurnya. Ternyata di balik baju tidur tersebut Wen sudah tidak mengenakan apapun lagi, sehingga sekarang Wen dan Audrey berdua telanjang bulat di kasur. Audrey terlihat kaget melihat penis Wen. Penis Wen sangat besar, panjang, tebal dan berurat. Kemudian Wen mendekati kepala Audrey. Wen berlutut mengangkangi muka Audrey. Tangan kirinya mulai meraih vagina Audrey. Audrey yang merasa ada tangan di vaginanya langsung membuka kakinya lebar-lebar. Wen mengarahkan penisnya yang besar ke mulut Audrey, dan Audreypun tanpa diperintah membuka mulutnya lebar-lebar, dan Wen kemudian mulai memasukkan kemaluannya yang besar keluar masuk mulut Audrey yang mungil. Terlihat mulut Audrey kesulitan untuk menerima penis yang besar itu, namun Wen dengan sedikit kasar memaksakan penisnya keluar masuk mulut Audrey. Terlihat mulut Audrey penuh oleh penis Wen. Audrey kelihatan kepayahan namun tetap berusaha mengikuti maunya Wen. Kemudian Wen memerintahkan Audrey menjulurkan lidahnya keluar dengan tetap membuka mulutnya, dan Audrey menuruti apa maunya Wen, sehingga sekarang penis Wen keluar masuk mulut Audrey dan lidah Audrey menjilati batang penis Wen.

Sungguh suatu hal yang menakjubkan yang terjadi di depan mataku. Audrey yang biasanya paling tidak mau melakukan oral seks sekarang menuruti kemauan pria tua gendut yang sebenarnya tidak begitu dikenalnya. 10 menit kemudian penis Wen sudah terlihat sangat kencang, kemudian Wen menurunkan badannya dan mengarahkan penisnya ke vagina Audrey. Mengetahui apa yang akan dilakukan Wen, Audrey membuka makin lebar kedua kakinya. Wen kemudian dengan perlahan memasukkan penisnya yang besar ke dalam vagina Audrey secara perlahan. Audrey terlihat menahan sakit ketika penis Wen mulai memasuki vaginanya, namun raut mukanya segera berubah menjadi raut muka takjub ketika penis Wen telah seluruhnya masuk ke vaginanya. Mungkin Audrey tidak menyangka vaginanya dapat menampung seluruh penis Wen yang sangat besar dan panjang itu. Setelah penis Wen masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey, Wen tidak langsung menggenjotnya, namun Wen menunggu beberapa saat agar Audrey terbiasa dengan penisnya yang besar di dalam vaginanya. Satu menit kemudian Wen mulai menggerakkan penisnya keluar sampai hanya tinggal kepala penisnya di dalam vagina Audrey, kemudian Wen memasukkan seluruh penisnya kembali secara perlahan ke dalam vagina Audrey dan hal tersebut dilakukannya berulang-ulang dengan menambah tempo iramanya makin lama makin cepat. Audrey terlihat sangat menikmati permainan dan gerakan Wen, matanya berbinar, erangan-erangan kecil keluar dari mulutnya yang mungil, pinggulnya bergerak mengikuti irama permainan Wen dan kadang-kadang Audrey menciumi dada Wen yang ditumbuhi bulu sangat lebat itu. Tempo permainan dan genjotan penis Wen di dalam vagina Audrey semakin cepat, racauan Audrey semakin kencang, matanya merem melek menikmati genjotan-genjotan penis Wen di vaginanya. Wen yang mengetahui Audrey sangat menikmati persetubuhannya makin mempercepat gerakannya. Wen menciumi, menjilati dan sedikit menggigit puting kedua payudara Audrey secara bergantian. Audrey diperlakukan demikian semakin hanyut dalam nafsu birahinya, racauannya semakin keras lagi, mulutnya terbuka, matanya terpejam dan kedua tangannya meremas-remas sprei tempat tidur. 20 menit kemudian tubuh Audrey, Audrey, mulai mengejang, tanda dia akan mengalami orgasme yang hebat.

“Terus…terus…jaaanngaan berheen..ti” teriakan kecil keluar dari mulut Audrey.

Kemudian badannya mengejang hebat sampai badannya melengkung ke belakang, kedua kakinya diapitkan di pinggul Wen dan kedua tangannya merangkul leher Wen dengan kencang.

“OOOOhhhhh……” lolong Audrey ketika dia dipuncak orgasmenya, dan kemudian badannya sedikit melemas dan Audrey langsung menciumi bibir Wen dan mereka berdua berciuman dengan ganasnya, lidah Audrey dan lidah wen saling berpautan, hal yang tidak pernah dilakukan Audrey terhadapku.

Melihat adegan live Audrey dan Wen membuat penisku menegang dengan keras. “Akhirnya kahayalanku menjadi kenyataan” pikirku dalam hati.

Setelah beberapa menit berciuman, Wen kemudian memindahkan posisi Audrey sehingga Audrey sekarang tiduran sambil menyamping menghadap ke arah diriku di sofa. Tanpa memgeluarkan penisnya dari vagina Audrey. Wen memindahkan tubuhnya ke belakang Audrey sehingga sekarang mereka berdua tidur menyamping menghadap diriku dengan Audrey didepan dan Wen di belakangnya. Wen kemudian melanjutkan genjotan penisnya yang sangat besar itu di vagina Audrey. Tangan kiri Audrey dilipatnya ke belakang sehingga tangan kiri Wen dapat dengan bebas memijat-mijat kedua payudara Audrey. Wen menggenjot penisnya dalam vagina Audrey dengan cepat, tangan kirinya bergantian memijat kedua payudara Audrey dan klitoris Audrey. Audrey kembali tenggelam dalam nafsu seksnya, matanya terlihat sayu, mulutnya terbuka sedikit dan tanpa sadar Audrey mengangkat kaki kirinya ke atas, sehingga terlihat olehku vaginanya yang mungil penuh sesak oleh penis Wen yang besar dan panjang itu. Sekitar 40 menit Wen telah menyetubuhi Audrey dengan gaya menyamping, gerakan-gerakannya semakin ganas. Audrey tergoncang-goncang dengan hebatnya, racauan-racauan Audrey sudah berubah menjadi terikan-teriakan kenikmatan. Gelombang demi gelombang orgasme melanda Audrey, namun Wen masih dengan semangatnya menyetubuhi Audrey dan belum ada tanda-tanda bahwa Wen akan orgasme, sedangkan aku saja sudah dua kali mengalami orgasme melihat Audrey disetubuhi oleh Wen dengan ganasnya. Wen yang belum puas dengan Audrey kembali mengubah posisi Audrey lagi. Kali ini Audrey dimintanya tengkurap menungging dengan kepala menghadap diriku di sofa, dan kemudian Wen menyetubuhi Audrey dengan gaya doggy style, hal mana yang belum pernah dilakukan oleh diriku dan Audrey karena Audrey selalu menolaknya, namun dengan Wen, Audrey dengan senang hati menurutinya. Wen menggenjot vagina Audrey dari belakang dengan tempo yang berubah-ubah, kadang cepat sekali dan secara tiba-tiba memelankan genjotannya seperti slow motion dan kemudian cepat lagi. Hal ini membuat Audrey semakin tidak bisa mengontrol dirinya, kepalanya tertunduk dan bergerak ke kanan kiri tidak beraturan. Tangan Audrey kembali meremas-remas sprei tempat tidur dengan kencangnya, racauan-racauan dan teriakan-teriakan Audrey semakin membahana di kamar itu.

Kemudian tangan kiri Wen meraih rambut Audrey, menjambaknya dan menariknya ke belakang sehingga kepala Audrey mendongak ke atas. Genjotan penis Wen dalam vagina Audrey masih dalam tempo yang berubah-ubah, tangan kanan Wen kadang-kadang menampar kedua pantat Audrey bergantian. Kepala Audrey terdongak ke atas, kedua matanya terpejam rapat dan mulutnya terbuka lebar. Audrey sudah tidak dapat lagi bergerak mengikuti permainan Wen, tubuhnya hanya tergoncang-goncang keras karena sodokan-sodokan penis Wen ke dalam vaginanya. Gelombang-demi gelombang orgasme kembali melanda Audrey. Setiap mengalami orgasme tubuh Audrey mengejang untuk beberapa menit dan dari vaginanya sedikit memuncratkan cairan kewanitaannya, hal mana tidak pernah terjadi apabila Audrey bersetubuh denganku. Setiap setelah mengalami orgasme, tubuh Audrey terlihat melemas untuk beberapa saat, namun tidak lama kemudian terlihat tubuh Audrey menjadi segar kembali dan siap menerima genjotan-genjotan ganas penis Wen yang besar di dalam vaginanya. “Ini pasti karena obat yang diberikan Wen dalam minuman istriku” pikirku dalam hati melihat stamina Audrey yang sangat kuat malam itu. Kedua tangan Wen kemudian meraih kedua tangan Audrey dan menarikanya ke belakang, sehingga tubuh Audrey sedikit terangkat ke atas dengan kedua lututnya masih bertumpu pada kasur, dan Wen menggerakan penisnya yang besar keluar masuk secara pendek-pendek dan dalam tempo yang sangat cepat pada vagina Audrey. Teriakan-terikan nikmat Audrey semakin gencar karena diperlakukan demikian, mata Audrey masih tertutup rapat dengan mulut terbuka lebar.

“Buka matamu Audrey dan pandang suamimu!” perintah Wen dengan tegas.

Audrey menuruti apa yang diperintahkan Wen sehingga Audrey sekarang melihat diriku duduk di sofa sambil bermastrubasi.

“Lihat Audrey, suamimu sangat menikmati melihat kamu disetubuhi pria lain” sahut Wen kepada Audrey.

“Kamu suka disetubuhi pria lain?” Tanya Wen kepada Audrey.

Audrey tidak menjawab, mungkin dia malu, namun raut wajahnya tidak bisa membohongi diriku. Terlihat sekali dia sangat menyukai dan menikmati persetubuhannya dengan Wen.

“Jawab!!!” hardik Wen dengan tiba-tiba kepada Audrey sambil mempercepat genjotan penisnya dalam vagina Audrey.

“Aaagh….suu…ka….” sahut Audrey dengan terbata-bata karena sambil menikmati penis Wen dalam vaginanya.

“Enakan mana Audrey? suamimu atau saya” tanya Wen lagi sambil penisnya menggenjot dengan kasar vagina Audrey.

“Ee..naa….enak saaamaa pak…uughhh….wen” jawab Audrey sambil mengerang-erang kenikmatan.

“Mau kamu saya setubuhi kapan saja saya mau” tanya Wen lagi dengan kasar.

“Maaa…..uuuuu….ppaak weeen….” jawab Audrey sambil tubuhnya mengejang tanda Audrey mengalami orgasme lagi.

Dengan tetap memegang kedua tangan Audrey ke belakang, Wen menghentikan gerakannya untuk beberapa saat dan membiarkan Audrey menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat Wen kembali menggenjot vagina Audrey dengan kencang, membuat nafsu seks Audrey kembali bergelora. Benar-benar takjub aku melihat adegan demi adegan yang dipertontonkan Audrey dan Wen. Audrey yang cantik dengan kulitnya yang putih mulus dengan setia melayani nafsu binatang seorang tua bangka bermuka jelek dan berperut gendut.

“Audrey, lihat suamimu sangat menikmati kamu disetubuhi olehku. Boleh suamimu menonton setiap kali kamu saya setubuhi?” tanya Wen dengan sedikit nada memerintah kepada Audrey.

“Boo…leehhh….aaagghh….paak…uggghhh…wen” jawab Audrey sambil meracau kenikmatan.

Melihat Audrey menurut dan tunduk sepenuhnya pada Wen membuat penisku kembali memuncratkan sperma untuk kesekian kalinya dan sedikit mengenai bibir atas Audrey. Melihat hal itu Wen memerintahkan Audrey menjilat dan menelan spermaku yang menempel dibibir atasnya, dan yang menakjubkan adalah tanpa pikir panjang Audrey menuruti apa yang diperintahkan Wen padahal aku tahu Audrey biasanya paling jijik dengan sperma apalagi harus menjilat dan menelannya. 20 menit sudah semenjak aku mencapai orgasmeku. Aku sudah terlalu capek untuk bermastrubasi lagi, namun Audrey masih dihajar vaginanya dengan ganas dari belakang oleh Wen dan Audrey sudah mengalami orgasme-orgasme yang sangat dahsyat. Beberapa saat kemudian Wen terlihat mulai akan orgasme. Rupanya Audrey menyadarinya.

“Uugh…aaghhh…pak wen…jaaa…ngaaan…keluar aaggghh… di dalam” pinta Audrey sambil mengerang-erang kenikmatan.

“Naaan…tiii aaaggghhh…saya….hamil….” tambah Audrey lagi dengan tetap merintih-rintih penuh nikmat.

“Kalau tidak boleh di dalam, berarti harus keluar di mulutmu ya Audrey, dan harus ditelan semua tidak boleh ada yang tercecer keluar” kata Wen kepada Audrey.

“Iii…yaaaaa….paaak weeeeen……di mulut saya…AAAAGHHHHH, adduuuuhhhhh niiikkmaaattt sekali pak weeeeennn…aampunnnn…nikmat……” teriak Audrey sambil orgasme lagi.

Kemudian Wen membalikkan tubuh Audrey sehingga Audrey terlentang di kasur. Wen kembali mengangkangi Audrey dan menjambak rambut Audrey dengan kasar dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Audrey.

“Telan…telan semua…jangan sampai ada yang keluar” perintah Wen kepada Audrey.

Terlihat penis Wen yang besar berdenyut dengan keras, sedangkan mulut Audrey menghisap-hisap penis Wen dan terlihat tenggorokan Audrey bergerak-gerak tanda Audrey sedang menelan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Wen menumpahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey dan Audrey menelan setiap tetes sperma Wen yang masuk ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat Wen mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Audrey.

“Bersihkan…jilat sampai bersih…!” kembali Wen memerintahkan Audrey yang langsung dituruti oleh Audrey.

Selagi Audrey menjilat-jilati penis dan biji Wen, Wen bertanya kepadaku “Boleh pinjam istrimu malam ini? Aku terkesiap mendengar permintaan Wen. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.

Melihat aku tidak menjawab, Wen berkata lagi kepadaku “Audrey kelihatannya sangat menyukai aku setubuhi, dan obat yang aku berikan kepadanya masih bekerja, sehingga Audrey masih ingin dipuaskan nafsu seksnya.

“Bagaimana Audrey” tanya Wen kemudian kepada Audrey. Audrey sambil tetap menjilati penis Wen hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda membenarkan apa yang dikatakan Wen kepadaku.

Melihat Audrey memberikan persetujuannya maka akupun mengiyakan permintaan Wen. Wen kemudian menyruh Audrey pindah ke kamar sebelah dan Audrey menuruti permintaan Wen.

“Tom, kamu istirahat saja di kamar ini, aku dan Audrey ada di kamar sebelah. Connecting door akan tetap terbuka, sehingga kapan saja kamu ingin melihat istrimu disetubuhi olehku, kamu dapat masuk ke kamar sebelah’ kata Wen kepadaku.

Aku hanya mengganggukan kepala tanda setuju, dan kemudian Wen meninggalkan aku dikamar sendirian dan Wen pindah ke kamar sebelah menyusul Audrey. Aku sudah terlalu capek untuk membersihkan badan atau berpakaian. Aku langsung naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhku dengan selimut yang masih sedikit basah bekas cairan kewanitaan Audrey….dan beberapa saat kemudian mulai terdengar rintihan-rintihan nikmat Audrey dari kamar sebelah menandakan Wen dan Audrey sudah mulai lagi dengan persetubuhan mereka…namun aku terlalu capek untuk beranjak dari kasur….dan kemudian terlelap….

Bagian III: Di kamar Sebelah

Sinar Matahari tepat jatuh dimataku, ketika aku mulai bangun dari tidurku. Melihat posisi matahari dari jendela kamar itu, aku menyadari bahwa hari telah siang. Aku gerakan badanku dikasur untuk membangunkan diriku. Keadaanku masih telanjang bulat dan aku masih terkesima dengan apa yang telah terjadi tadi malam. Rintihan-rintihan dan erangan-erangan nikmat Audrey dari kamar sebelah, membuat diriku terbangun dari lamunanku.

“Ah, gila mereka, apa mereka masih bersetubuh terus” pikirku dalam hati.

“Apakah mereka melakukan persetubuhan secara non-stop sepanjang malam?” pikirku lagi.

Rasa lapar mulai terasa diperutku, dan aku mulai berpakaian. Rintihan-rintihan nikmat Audrey di tidak menggugahku untuk ke kamar sebelah. Namun ketika kakiku melangkah ke pintu kamar karena aku ingin ke dapur mencari makan, terdengar kegiatan di kamar sebelah sedikit aneh dan mengusik rasa ingin tahuku. Aku sepertinya mendengar lebih dari 2 orang di kamar sebelah. Maka akupun mengurungkan niatku untuk keluar kamar dan akupun melangkahkan kakiku ke connecting door yang menghubungkan kamarku dengan kamar sebelah. Betapa kagetnya ketika aku masuk ke dalam kamar sebelah tersebut. Aku melihat 2 wanita muda yang tadi malam bersama Audrey sedang duduk disofa panjang di sebelah tempat tidur di kamar itu sambil tertawa-tawa kecil menonton adegan yang sedang berlangsung di tempat tidur tersebut. Lebih kaget lagi ketika aku menyadari apa yang sedang terjadi di tempat tidur. Istriku Audrey, sedang disetubuhi oleh Wen dan salah seorang tamu Wen yang tadi malam menginap di villa!!! Posisi Audrey bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya dengan pantat yang sedikit menungging ke belakang. Terlihat tamu Wen tersebut, seorang pria tua berumur sekitar 60 tahunan berbadan besar dan buncit dengan bulu yang lebat memenuhi sekujur tubuhnya sedang menyetubuhi Audrey dengan kasar dari belakang. Sedangkan Wen yang tangan kanannya sedang menjambak rambut Audrey yang sekarang telah dikuncir buntut kuda terlihat asyik menggenjot penisnya dengan kasar di dalam mulut Audrey.

“Ah, kamu sudah bangun Tom” kata Wen ketika melihat diriku masuk ke dalam kamar.

“Silahkan duduk Tom” kata Wen lagi sambil mempersilahkan aku duduk di sofa di antara kedua wanita yang sedang menonton Audrey disetubuhi dua laki-laki tua itu.

“Ini namanya Pak Lam, dia ini salah satu sahabatku” kata Wen kemudian sambil memperkenalkan pria tua yang sedang menyetubuhi Audrey dengan kasar dari belakang. Yang disebut Pak Lam hanya menengok sebentar sambil melambaikan sebelah tangannya kepadaku dan kemudian melanjutkan kegiatannya pada Audrey.

Mr. Lam

Mr. Lam

“Aku selalu berbagi apapun dengannya. Vagina Audrey sangat nikmat untuk disetubuhi, sehingga aku harus membaginya kepada sahabat tuaku ini biar dia juga tahu betapa nikmatnya istrimu ini. Aku harap kamu tidak keberatan ya Tom. Toh istrimu tidak keberatan, malah suka…” kata Wen sambil terkekeh kecil.

“Audrey, kamu suka disetubuhi Pak Lam kan?” tanya Wen kepada Audrey.

Audrey tidak menjawab. Audrey terlihat sedang asyik sendiri menikmati persetubuhannya.

“Hahaha…wanita cantik ini rupanya sudah dalam kenikmatannya sendiri” tawa Wen sambil melihat Audrey yang sedang menikmati setiap genjotan penis Lam dan penis Wen.

Aku yang masih shock hanya menuruti perintah Wen dan duduk di sofa di antara kedua wanita muda tersebut.

“Ladies, tolong bantu sang suami tercinta ini agar dapat menikmati istrinya disetubuhi oleh 2 pria sekaligus” perintah Wen kepada kedua wanita yang duduk disamping kiri dan kananku.

Mendengar perintah Wen, kedua wanita muda itu langsung membuka dan melepaskan celana dan celana dalamku. Kemudian mereka berdua dengan tetap sesekali menonton adegan Audrey dengan Lam dan Wen mulai menjilati penisku secara bergantian, membuat penisku langsung berdiri dengan tegak. Di atas tempat tidur aku melihat Audrey sedang disetubuhi habis-habisan oleh kedua pria tua itu. Mereka memperlakukan Audrey dengan kasar, namun terlihat Audrey meskipun kepayahan melayani nafsu kedua pria tersebut, Audrey nampak menikmatinya. Semakin Audrey diperlakukan kasar oleh kedua pria tua itu, semakin nampak Audrey menikmatinya. Rintihan-rintihan Audrey semakin keras apabila Lam dan Wen menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Audrey dengan kasar. Sambil sesekali menampar kedua belahan pantat Audrey dengan tangan kirinya, Lam menggenjot penisnya di vagina Audrey dari belakang dengan cepat dan kasar. Kemudian tangan kanannya melingkar di pinggul Audrey dan terus ke arah vagina Audrey dari arah depan sehingga jari-jari tangannya dapat memainkan klitoris Audrey. Audrey tanpa sadar mengangkat kaki kanannya sehingga posisinya sekarang seperti anjing yang sedang kencing untuk memberikan akses yang lebih luas bagi jari-jari tangan Lam di vagina Audrey. Dengan posisi satu kaki mengangkang ke atas, aku dapat melihat ternyata bulu-bulu di sekitar vagina Audrey telah dicukur habis. Aku tidak tahu kapan mereka mencukur habis bulu-bulu di sekitar vagina Audrey, mungkin tadi malam ketika aku sudah tidur. Rupanya mereka telah berpesta seks sepanjang malam. Vagina Audrey terlihat putih mulus tanpa sehelai bulupun dengan bibir vaginanya terlihat sedikit berwarna merah muda tanda vagina itu telah digenjot habis sepanjang malam. Ketika jari-jari tangan Lam mulai mempermainkan vagina Audrey dan mencubit-cubit kecil klitoris Audrey, tubuh Audrey bergoyang hebat, pinggulnya, badannya naik turun tidak beraturan. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmat keluar dari mulut Audrey.

Wen sekarang menggunakan kedua tangannya untuk menjambak rambut Audrey sehingga dapat membuatnya semakin kencang menyetubuhi mulut Audrey. Diperlakukan demikian, Audrey semakin bergoyang-goyang,tubuhnya meliuk-liuk karena ditekan dari belakang dan dari depan. Racauan dan rintihannya semakin keras, matanya tidak berkedip dan selalu memandang ke arah muka Wen. Lam dan Wen semakin mempercepat gerakannya sehingga Audrey benar-benar tergoncang-goncang hebat. Audrey terlihat bermaksud menurunkan kaki kanannya agar lebih memudahkannya menerima hajaran-hajaran penis Lam dan Wen di vagina dan mulutnya. Namun hal itu tidak dapat dilakukannya karena terhalang tangan kanan Lam yang telah benar-benar menggenggam vagina Audrey, terutama klitorisnya. Melihat adegan live didepan mataku, aku orgasme dengan cepat, dan kedua wanita muda yang melayani aku menghisap dan menelan seluruh spermaku sampai habis. Melihat aku sudah orgasme, Wen kemudian memerintahkan salah satu wanita disebelahku untuk mengambil sesuatu

“Ambil pil yang biasa di laci itu” kata Wen memerintahkan wanita tersebut sambil menunjuk salah satu laci disamping tempat tidur.

Wanita yang disuruh Wen, mengeluarkan sebuah botol dari laci tersebut, membukanya, dan mengeluarkan sebuah pil serta kemudian menyerahkannya kepada Wen.

“Buka mulutmu Audrey, telan pil ini supaya kamu tidak hamil, Lam ingin memuntahkan spermanya dalam vaginamu. Saya juga ingin orgasme dalam vaginamu, bosan saya orgasme dalam mulutmu terus sepanjang malam” perintah Wen kepada Audrey.

Kemudian Wen mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Audrey dan memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Audrey yang langsung ditelan Audrey tanpa menggunakan air sedikitpun. Setelah itu Wen kembali menjambak rambut Audrey dan kembali melanjutkan genjotan penisnya pada mulut Audrey. 20 menit telah berlalu, namun aku melihat baik Audrey, Wen maupun Lam belum ada yang orgasme. Terus terang terkejut aku melihat perubahan pada diri Audrey. Audrey tidak orgasme-orgasme, tidak seperti tadi malam yang dengan mudahnya dia mencapai orgasme berulang-ulang. Tatapan mata Audrey terlihat sangat sayu dan sedikit kosong, namun dari rintihan-rintihannya aku tahu dia lebih menikmati persetubuhannya saat ini daripada persetubuhannya tadi malam. Melihat raut wajahku yang penuh tanda Tanya, Wen kemudian menjelaskan kepadaku apa yang telah terjadi.

“Tadi pagi Audrey saya beri obat ramuan China. Obat ini membuat Audrey lebih lama mencapai orgasme, ini agar Audrey dapat mengimbangi kami sehingga tidak cepat lelah. Namun dengan obat ini otot vagina Audrey akan semakin kencang sehingga jepitannya pada penis yang masuk ke dalam vaginanya akan semakin kuat dan hal ini membuat Audrey dan siapapun pria yang menyetubuhinya merasa lebih nikmat. Setiap gesekan penis dalam vagina Audrey akan berpuluh-puluh kali lipat lebih terasa nikmat bagi Audrey dan pria tersebut” kata Wen menjelaskan kepadaku.

“Lihat Audrey sekarang sudah benar-benar menikmati setiap gesekan penis Lam dalam vaginanya, bahkan dia sangat menikmatinya sampai-sampai dia tidak begitu sadar akan sekelilingnya lagi, hanya kenikmatan dan kenikmatan yang dia rasakan saat ini. Dipikirannya hanya ada rasa kenikmatan yang amat sangat dan tidak ada rasa yang lain selain kenikmatan tersebut. Kenikmatan yang Audrey rasakan saat ini sudah menguasai dan menghipnotis seluruh badan dan pikirannya” tambah Wen kepadaku.

“Tom, kamu lihat nanti waktu istrimu mengalami orgasme. Kamu akan lihat bagaimana seorang wanita mengalami orgasme yang super dahsyat. Kamu pasti tidak akan menyangka bahwa istrimu bisa orgasme sehebat yang nanti kamu akan lihat” lanjut Wen kepadaku.

45 menit telah berlalu, ketika aku melihat perubahan pada diri Audrey. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmatnya mulai memelan, namun badannya semakin bergoyang-goyang dengan kencang dan tidak beraturan. Lam dan Wen semakin gencar menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Audrey, membuat Audrey sulit untuk tetap bertumpu pada kedua tanganya dan satu lututnya. Badan Audrey benar-benar bergoncang hebat karena tekanan dari belakang dan dari depan disertai goyangan badannya sendiri yang semakin tidak beraturan. Mata Audrey tetap memandang kearah wajah Wen dengan sekali-kali mendelik-delik. Kedua tangannya beberapa kali jatuh karena tidak kuat menahan badannya, namun jambakan Wen pada rambutnya membuat Audrey tidak tersungkur ke kasur. Suara Audrey semakin pelan bahkan sekarang hampir tidak terdengar sama sekali, tangannya yang sudah tidak kuat menumpu badannya dan mulai mencari pegangan lain. Kedua tangan Audrey terlihat berusaha memegang kedua sisi pinggul Wen, kemudian beralih ke kedua tangan Wen yang sedang menjambak rambutnya, lalu kembali kasur menumpu badannya dan begitu seterusnya terlihat Audrey sedang mencari posisi yang enak untuk menumpu badannya yang bergoyang hebat dan dihajar dari depan dan belakang oleh Wen dan Lam.

“Right on time. She is nearly there, I also nearly there” sahut Lam tiba-tiba kepada Wen.

Mendengar itu Wen hanya tersenyum kemudian Wen berpaling kepada kedua wanita muda yang sedang menemaniku.

“Kalian berdua kesini, bantu Audrey agar tetap pada posisinya, agar Pak Lam bisa menikmati orgasmenya dengan lancar” perintah Wen kepada kedua wanita itu.

Kedua wanita yang diperintah Wen kemudian naik ke kasur dan memposisikan diri mereka masing-masing berlutut disamping kiri dan kanan Audrey. Kemudian kedua wanita tersebut meraih masing-masing pundak Audrey dari arah bawah sehingga sekarang tangan-tangan kedua wanita tersebut masing-masing menumpu pundak Audrey, membuat kedua tangan Audrey terbuka kearah kiri dan kanan. Sudah tidak terdengar suara rintihan Audrey. Badan Audrey juga bergerak memelan namun terlihat Audrey berusaha memundurkan pinggulnya agar penis Lam makin masuk jauh ke dalam vaginanya. Gerakan Audrey yang pelan meliuk-liuk terlihat sangat kontras dengan gerakan Lam dan wen yang semakin ganas menggenjot penisnya masing-masing ke dalam vagina dan mulut Audrey.

“Tom, sini naik ke kasur agar kamu bisa melihat dengan jelas. Istrimu sebentar lagi akan orgasme yang hebat” kata Wen kepadaku.

Tanpa menunggu lagi akupun segera naik ke kasur agar bisa melihat Audrey dari dekat dan dengan jelas. Lam kemudian melepaskan tangan kanannya dari klitoris Audrey sehingga kali Audrey bisa turun dan kedua lututnya bisa kembali menumpu badannya. Lam lalu sedikit berjongkok serta kedua tangannya meraih pinggul Audrey. Dengan posisi demikian Lam bisa dengan lebih leluasa menggenjot penisnya dengan keras ke dalam vagina Audrey. Kira-kira sepuluh menit kemudian, badan Audrey makin meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan serta menekan ke belakang ke arah penis Lam.

“Ooh, this baby still want it more, although my dick has reached the inside end of her vagina” kata Lam yang merasa Audrey terus menekan pinggulnya ke belakang ke arah penisnya.

“Your vagina is not deep enough darling, but if you want it, I’ll give it to you” lanjut Lam sambil menghentikan genjotannya dan menarik pinggul Audrey kebelakang dan secara bersamaan memajukan pinggulnya sendiri ke depan dan kemudian membiarkannya dalam keadaan begitu.

Ditekan dari belakang dengan keras sampai ke ujung vaginanya, membuat mata Audrey mendelik. Kemudian Wen mengeluarkan penisnya dari mulut Audrey dan melepaskan jambakan tangannya di rambut Audrey sehingga sekarang kepala Audrey bebas bergerak.

“She is all yours, Lam” kata Wen kepada Lam.

“Ooh, she is real good, look at her hips moving, she knows how to please a man” sahut Lam merasakan goyangan meliuk-liuk pinggul Audrey.

“Her vagina is very tight, my dickhead being played by her wall end of vagina. Damn..this girl is good” lanjut Lam sambil merasakan ujung penisnya bergesekan pada bagian yang paling dalam dari vagina Audrey.

Audrey terus memainkan penis besar Lam dalam vaginanya. Pinggul Audrey naik turun dan memutar-mutar secara perlahan ditambah tekanan pinggul Lam dari belakang dan tangan Lam yang menarik pinggul Audrey ke belakang, membuat kedua manusia yang meskipun berbeda umur sangat jauh menjadi satu kesatuan dan sama-sama menikmati persetubuhan mereka. Sepuluh menit kemudian, Audrey memejamkan matanya, jari-jari tangannya membuka dan mengepal secara perlahan, mulutnya terbuka lebar, goyangan pinggulnya menjadi patah-patah.

“Oh, she is coming, let us come together baby…!!!!’ sahut Lam dengan keras.

Seperti mengerti perintah Lam, Audrey menghentikan goyangannya, pinggulnya secara keras didorongnya ke belakang, kepalanya terdongak ke atas dengan mulut terbuka lebar, seluruh badannya menegang dan terdengar desahan kecil Audrey.

“Oohh… this is goooood…..I am in heaven….” desah Audrey pelan.

Bersamaan dengan itu Lam memuntahkan spermanya di dalam vagina Audrey.

“Take that bitch…., you like being fill up with cum you little whore!” teriak Lam sedikit keras sambil terus memuntahkan spermanya di dalam vagina Meda.

“Oooh… yeeesss… fill me up….oohhhh…this is too good….I am your whore, your little whore” desah Audrey sangat pelan.

Kembali sesuatu yang menakjubkan terjadi didepan mataku, sudah 10 menit berlalu tapi Nampak orgasme Audrey belum turun juga. Audrey masih terus dipuncak kenikmatan. Ketika Wen melepaskan pegangannya pada pinggul Audrey dan mulai menarik penisnya keluar dari vagina Audrey, Nampak raut muka Audrey sedikit sedih.

“Don’t take it off now…pleaseee…I am not finished yet” rengek Audrey pelan sambil kembali meliuk-liukan pinggulnya secara perlahan untuk memancing Lam mengurungkan niatnya.

Lam tidak mendengarkan rengekan Audrey, dan mencabut penisnya. Tapi kekecewaan Audrey hanya sebentar karena Wen langsung siap menggantikan posisi Lam. Ditidurkannya Audrey telentang di atas kasur dibukanya kaki Audrey lebar-lebar.

“Masih kurang Audrey?” Tanya Wen menggoda Audrey sebelum mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey.

“Masih…pak Wen…saya masih orgasme…..ooohhhh nikmat sekali…..mau disetubuhi sekarang…” rengek Audrey sambil menarik pinggul Wen ke arahnya.

“Oohhhh……” desah Audrey ketika penis Wen masuk ke dalam vaginanya sampai mentok.

Wen kemudian secara perlahan menggenjot vagina Audrey dengan penisnya. Setiap gerakan Wen selalu disertai lolongan pelan namun panjang dari Audrey. Kepala Audrey terdongak ke belakang, matanya terpejam rapat, dadanya membusung ke atas sehingga sebagian punggungnya terangkat dari kasur. Bibir kecilnya mengigit-gigit pelan jari telunjuk kanannya, lolongan pelan namun panjang terdengar dari mulut Audrey setiap kali Wen menggerakan penisnya secara perlahan.

Penasaran dengan apa yang dirasakan Audrey, aku membisikinya dan bertanya.

“Bagaimana rasanya Drey? Enak?” tanyaku.

“Ennakkk…ooohhhhh…. Terima kasih Tom atas pengalaman indah ini…..orgasmeku tidak berhenti-henti nih…..oohhhh panjang sekali…..oohhhh…..aku disetubuhi sambil orgasme…..” jawab Audrey pelan kepadaku sambil terus menikmati orgasmenya yang berkepanjangan.

Lima belas menit kemudian, penis Wen berdenyut kencang pertanda dia akan orgasme, dan tubuh Audreypun tiba-tiba lebih menegang lagi.

“Oohhh….apa ini pak wen….kenapa saya……” desah Audrey pelan kepada Wen.

“Inilah puncaknya orgasme dari orgasme Drey. Nikmati saja” jawab Wen.

Bersamaan dengan itu, tubuh Audrey dan Wen benar-benar menegang. Keduanya berusaha menarik satu sama lain dan merapatkan persenggamaan mereka. Kaki Audrey melingkar di pinggul Wen. Dada Audrey makin membusung, kepalanya makin terdongak ke belakang dan giginya menggigit bibir bawahnya sendiri. Sedangkan kepala Wen berada di pundak Audrey, mulutnya sedikit menggigit pundak Audrey dan penisnya ditekan dengan keras ke dalam vagina Audrey.

“OOOhhhhh……” teriak Audrey dan Wen bersamaan. Wen memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vagina Audrey, Dua manusia mengalami orgasme hebat secara bersamaan.

Beberapa menit Wen dan Audrey berada di puncak orgasme mereka.

“Oke semuanya keluar dari kamar ini. Biarkan Audrey istirahat dulu” kata Wen setelah selesai memuntahkan seluruh spermanya dalam vagina Audrey.

Wenpun beranjak dari atas tubuh Audrey, tidur disampingnya dan menyelimuti dirinya dan Audrey dengan selimut. Audrey hanya tersenyum dengan mata terpejam dan menidurkan kepalanya di dada Wen yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat, sedangkan yang lainnya termasuk aku pergi meninggalkan kamar itu dan membiarkan Wen dan Audrey istirahat.

Bagian IV: Basement Villa

Menjelang sore terlihat Wen keluar dari kamar itu dan bergabung dengan aku dan tamu-tamu yang lain di ruang tengah villa. Rupanya yang menginap di villa tersebut selain aku, Audrey, Wen, Lam dan kedua wanita yang siang tadi berada di kamar, juga ada satu wanita lagi dan tiga tamu laki-laki.

“Wah, sudah pada berkumpul rupanya, maaf saya baru bangun” kata Wen kepada aku dan tamu-tamu lainnya.

Kamipun mengobrol di ruang tengah villa itu sampai menjelang malam. Kurang lebih jam 6.30pm Wen menginstruksikanku untuk membangunkan Audrey.

“Tom, bangunkan istrimu, kita akan makan malam bersama” sahut Wen kepadaku.

Akupun segera menuruti perintah Wen dan naik ke lantai atas villa menuju kamar tempat Audrey istirahat karena memang aku sudah mulai kuatir terhadap Audrey sebab setelah kejadian siang tadi di kamar aku belum melihatnya lagi. Sesampainya di kamar, aku melihat Audrey sudah bangun namun masih tiduran tengkurap di atas kasur, tubuhnya masih telanjang, terlihat mukanya nampak habis menangis. Melihat aku masuk ke kamar, air mata menetes kembali dari matanya.

“Tom, apa yang kamu lakukan terhadapku. Kenapa kamu jahat terhadapku, kenapa kamu membiarkan semua ini terjadi?” tangis Audrey kepadaku.

Akupun berusaha menenangkan dan menghibur istriku, kami berbincang-bincang di kamar itu cukup lama sambil aku berusaha terus menghiburnya sampai tiba-tiba salah satu dari tamu wanita masuk ke kamar dan meminta Audrey untuk mandi dan membersihkan diri karena aku dan Audrey sudah ditunggu di ruang makan oleh Wen dan tamu-tamu yang lain. Dengan sedikit malas Audrey menurutinya. Setelah Audrey mandi dan berpakaian kamipun keluar dari kamar itu dan menuju ruang makan. Terlihat Audrey ragu-ragu untuk keluar dari kamar. Terlihat Audrey sedikit malu untuk bertemu dengan Wen dan tamu-tamu yang lain setelah kejadian tadi malam dan tadi siang.

Sesampainya di ruang makan, tamu-tamu yang lain sudah menunggu. Wen mempersilahkan aku dan Audrey duduk di kursi yang disediakan di ruang makan itu demikian juga terhadap tamu-tamu yang lain masing-masing dipersilahkan duduk oleh Wen. Kamipun menyantap hidangan malam yang disediakan sambil mengobrol. Pembicaraan di meja makan itu kebanyakan tentang bisnis antara Wen dan tamu-tamunya. Tidak ada yang menyinggung kejadian tadi malam dan tadi siang, seakan-akan kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Hal itu membuat Audrey terlihat sedikit tenang. Selesai santap malam Wen mempersilahkan tamu-tamunnya, termasuk aku dan Audrey ke ruang tengah. Di ruang tengah makanan kecil dan minuman telah disediakan dan Wen mempersilahkan kami semua untuk mencicipi makanan kecil dan minuman tersebut kemudian melanjutkan obrolan bisnisnya dengan tamu-tamunya di ruang tengah, Wen sedikit mengacuhkan aku dan istriku karena memang obrolannya adalah masalah bisnis. Setelah kurang lebih 2 jam berbicara bisnis dengan tamunya tiba-tiba Wen berkata

“Ok saya rasa omomgan bisnis sudah cukup untuk malam ini. Sekarang kita ke topik selanjutnya”

“Zhou, obatmu ternyata sangat manjur, lihat saja ini hasilnya” sambung Wen sambil memencet remote TV.

TV menyala dan betapa kagetnya aku melihat apa yang muncul di TV. Rekaman persetubuhan Audrey tadi malam dan tadi siang terlihat di layar TV. Aku melihat wajah Audrey sangat terkejut dan malu melihat tamu-tamu yang lain menyaksikan tayangan persetubuhannya dilayar TV. Audrey bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud meninggalkan ruang tengah itu, namun Wen menghardiknya dengan tegas.

“Audrey, duduk kamu! Tidak ada yang menyuruh kamu untuk pergi!” bentak Wen dengan sangat keras.

Mendengar bentakan Wen aku sangat terkejut. Aku bermaksud untuk turut berdiri, namun aku merasakan tubuhku lemas dan aku tidak mampu berdiri. Kelihatannya Wen telah mencampurkan sesuatu lagi dalam minumanku sehingga badanku lemas tidak berdaya.

Aku melihat Audrey sedikit ketakutan mendengar bentakan Wen, namun dikarenakan aku hanya tetap duduk dan tidak membela Audrey, maka Audreypun mengurungkan niatnya dan kembali duduk. Wen dan tamu-tamu lainnya kemudian membahas adegan demi adegan persetubuhan Audrey yang ditayangkan TV. Mereka membahasnya seakan-akan Audrey tidak ada di ruangan itu. Komentar-komentar keluar dari mulut mereka. Wen memuji Zhou atas kemanjuran obatnya. Wen menjelaskan bagaimana Audrey yang alim itu bisa menjadi seorang pelacur murahan dikarenakan meminum obat itu. Ada lagi tamu yang lain memuji daya tahan Audrey karena obat itu. Setelah rekaman adegan persetubuhan Audrey di TV selesai, kemudian Wen dengan suara tegas memerintahkan Audrey

“Nah, Audrey, tolong hibur tamu-tamuku ini. Jangan biarkan mereka hanya menonton kamu di TV saja, perbolehkan mereka juga menikmati dirimu.”

Mendengar itu dengan raut muka penuh ketakutan, Audrey bangkit dari tempat duduknya dan berusaha lari keluar dari villa, namun baru beberapa langkah berlari, Wen dan Zhou dengan sigap menangkap Audrey.

“Wow, rupanya pelacur ini tidak mau menuruti perintah. Ck…ck..ck…Audrey kamu sangat mengecewakan” kata Wen sambil mencengkram tubuh Audrey dari belakang.

“Kamu harus dihukum dan dididik yang benar supaya bisa menjadi budak seks yang patuh” lanjut Wen kemudian kepada Audrey.

Audrey meronta-ronta dengan keras dan berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Zhou dan Wen pada dirinya terlalu kuat, sehingga usaha Audrey untuk melepaskan diri menjadi sia-sia. Kemudian Wen dan Zhou menyeret Audrey ke basement villa, diikuti oleh tamu-tamu yang lain. Mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Aku kembali berusaha bangkit untuk membantu Audrey, namun aku sama sekali tidak dapat berdiri sehingga aku hanya dapat terduduk lemah di sofa melihat perlakuan Zhou dan Wen terhadap Audrey. Tidak lama mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Kira-kira 15 menit kemudian 2 orang tamu pria mendatangiku dan segera membopongku ke basement villa. Basement villa itu ternyata suatu ruangan yang kelihatannya sering digunakan untuk pesta seks yang aneh-aneh. Aku melihat banyak peralatan seks yang lebih mirip sebagai alat penyiksaan tergantung di dinding basement itu. Banyak peralatan seks yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Merinding aku ketika memasuki basement villa itu, namun yang membuat aku lebih kaget dan takut lagi adalah ketika aku melihat Audrey sudah terikat dalam keadaan telanjang bulat. Posisi Audrey berdiri dengan kedua tangan terikat ke atas melebar oleh rantai-rantai yang tertancap kuat dilangit-langit basement, sedangkan kakinya mengangkang lebar terikat dengan rantai-rantai yang menancap kuat ke lantai basement, sehingga posisi Audrey menyerupai huruf “X”. Aku melihat Audrey meronta-ronta sekuat tenaga, air matanya mengucur deras di kedua pipinya. Permohonan-permohonan untuk dilepaskan keluar dari mulutnya, namun rengekannya hanya dibalas dengan tawa sinis oleh orang-orang yang berada di basement villa itu. Kedua tamu yang membopongku kemudian mendudukanku di sebuah kursi persis di hadapan Audrey.

“Teman-teman, malam ini kita akan mendidik pelacur ini supaya mau menjadi budak seks yang patuh. Harap teman-teman duduk di kursi-kursi yang telah disediakan, dan kita akan segera mulai pendidikan buat pelacur ini” sahut Wen tiba-tiba.

Mendengar itu semua yang ada di basement itu duduk di kursi yang telah disediakan disekeliling tempat Audrey terikat dan menunggu apa yang selanjutnya Wen akan lakukan terhadap Audrey.

“Audrey, ini kesempatan kamu yang terakhir. Kamu bisa secara sukarela menjadi budak seksku yang patuh atau aku akan membuat kamu menjadi budak seksku yang patuh. Kedua-duanya pada akhirnya kamu akan menjadi budak seksku yang patuh, namun cara kedua pasti jauh lebih menyakitkan” kata Wen kemudian sambil tertawa.

Mendengar itu aku melihat ketakutan yang amat sangat di wajah Audrey. Audrey semakin kencang meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tangisannya semakin keras, permohonan minta dilepaskan juga semakin keras.

“Ok, kalalu kamu mau dengan cara yang menyakitkan” kata Wen setelah melihat Audrey tetap berusaha melepaskan diri.

Wen kemudian mengambil sebuah cambuk kuda dan berdiri di belakang Audrey. Aku melihat Audrey merinding ketakutan melihat cambuk kuda tersebut.

“Ctaarr….ctttarr….cttaaarrr…..” suara cambuk 3 kali berbunyi disertai raungan kesakitan Audrey. Wen telah mencambuk punggung Audrey dengan keras.

Raungan tangis Audrey semakin keras, badannya tetap meronta-ronta untuk melepaskan diri.

“Cttaar…cttarr…ctarr..ctaarrr…” bunyi cambuk kembali bertubi-tubi mendera punggung Audrey hingga Audrey pingsan. Melihat Audrey pingsan salah seorang tamu wanita mengguyurkan air ke kepala Audrey untuk membangunkannya.

Ketika Audrey siuman, Wen menanyakan kepada Audrey apakah Audrey bersedia menjadi budak seksnya. Setiap kali Audrey mengatakan tidak atau berusaha meronta-ronta untuk melepaskan diri, maka bunyi cambuk akan terdengar lagi, dan kali ini tidak hanya mendera punggung Audrey, namun juga mendera ke pantat, kedua payudara dan vaginanya. 30 menit Audrey dicambuki seluruh tubuhnya, bekas-bekas cambuk berwarna kemerahan terlihat disekujur tubuhnya. Tubuh Audrey sudah kelihatan lemas. Tidak ada lagi raungan tangis keluar dari mulutnya.

“Bagaimana Audrey, apakah kamu sekarang bersedia jadi budak seksku?” tanya Wen kemudian.

Audrey hanya menggelengkan kepalanya secara lemah tanda penolakannya.

“Ok, kalau kamu tetap tidak mau. Kita akan ke tahap selanjutnya. Kita lihat sampai mana kamu tahan siksaan ini” sahut Wen kepada Audrey sambil mengisyaratkan sesuatu kepada seorang tamu wanita.

Tamu wanita yang diberi isyarat oleh Wen kemudian maju ke depan. Dia membawa sebuah jarum dan sebuah cincin yang terbuat dari emas dan menyerahkannya kepada Wen. Kemudian Wen berjongkok di depan vagina Audrey. Dibukanya vagina Audrey secara perlahan. Mengetahui akan apa yang akan terjadi, Audrey meronta-ronta dengan hebat, namun beberapa tamu maju ke depan dan memegang erat-erat tubuh dan pinggul Audrey sehingga Audrey tidak dapat bergerak.

“Jangan…jangan….” pinta Audrey lirih.

“AAAUOOCCCHHH….” Kemudian terdengar teriakan Audrey. Ternyata Wen menusuk bibir dalam bagian atas vagina Audrey dengan jarum dan kemudian memasukkan cincin tersebut dalam lubang yang telah dibuatnya pada bibir vagina Audrey tersebut.

Raungan keras kesakitan Audrey membahana di basement itu, kemudian Audrey kembali pingsan. Kemudian Wen kembali berdiri dan mundur beberapa langkah untuk melihat hasil kerjanya. Dia terlihat puas dengan apa yang telah diperbuatnya pada Audrey. Audrey terlihat dalam posisi terikat, masih pingsan dengan sebuah cincin di bibir atas vaginanya dengan sedikit darah terlihat disekitar bibir atas vaginanya. Seorang tamu wanita kembali mengguyurkan air ke kepala Audrey dan membersihkan vagina Audrey dari bekas darah tersebut. Kemudian tamu wanita tersebut memberikan wewangian ke hidung Audrey agar Audrey siuman. Siuman dari pingsannya, terlihat sekali Audrey menahan sakit di vaginanya. Kemudian Wen kembali menghampiri Audrey dengan membawa jarum tersebut lagi beserta sebuah cincin emas lainnya. Tangan kiri Wen kemudian meraih puting payudara sebelah kiri Audrey dan tangan kanan Wen memegang jarum siap menusuknya.

“Jangan….jangan….ampun….jangan…sakit…saya bersedia jadi budak seks Pak Wen asalkan jangan siksa saya lagi” tiba-tiba terdengar suara pelan Audrey.

Mendengar hal itu Wen dan tamunya tertawa penuh kemenangan.

“Benar kamu mau jadi budak seksku dan menuruti semua keinginanku” Tanya Wen kepada Audrey.

“Iya…iya….saya mau…tolong jangan sakiti saya lagi” jawab Audrey menyerah.

“Ok, bagus..bagus…, ladies…beri hadiah kepada budak seksku yang baru ini, buat dia menikmati statusnya yang baru sebagai budakku” kata Wen sambil memberi isyarat kepada para tamu wanita untuk maju ke depan.

Para tamu wanita tanpa perlu diperintah lebih lanjut langsung maju ke depan mengelilingi Audrey. Satu tamu wanita berjongkok di hadapan vagina Audrey dan mulai menjilati dan menghisap-hisap vagina Audrey. Tamu-tamu yang lain menciumi dan menjilati kedua payudara Audrey, paha Audrey, punggung Audrey dan sekujur tubuhnya.

15 Menit diperlakukan demikian terlihat tubuh Audrey mulai mengkhianatinya. Audrey mulai meliuk-liukan badannya mengikuti permainan para tamu wanita tersebut di seluruh tubuhnya. Melihat reaksi Audrey, para tamu wanita tersebut semakin ganas mengerjai tubuh Audrey. Jari-jari tangan mereka secara bergantian keluar masuk vagina Audrey yang mana hal tersebut semakin membuat Audrey tidak dapat mengontrol tubuhnya. Tidak beberapa lama kemudian terdengar erangan Audrey tanda Audrey telah mencapai orgasmenya yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari para tamu pria di basement itu. Tidak menunggu sampai orgasme Audrey reda, Wen kemudian melepaskan ikatan Audrey dan membimbingnya untuk berdiri di hadapanku.

“Mulai sekarang istrimu adalah budak seksku. Mulai sekarang aku harus didahulukan oleh istrimu dan bukan kamu lagi. Apabila kamu macam-macam rekaman dvd persetubuhan istrimu akan aku sebar di internet” kata Wen kepadaku.

Aku hanya diam tercekat oleh ancaman Wen itu. Badanku masih lemas sehingga aku tidak dapat berbuat apa-apa meskipun sebenarnya ingin aku meninju Wen. Kemudian Wen mengaitkan sebuah bel kecil keperakan di cincin emas yang berada di bibir atas vagina Audrey, dan kemudian Wen mengetes bunyi bel tersebut dengan jarinya.

“Ting…ting…ting” terdengar bunyi bel pelan.

Audrey kemudian diposisikan membungkuk ke depan dengan kedua tangan bertumpu di kedua pegangan kursi tempat aku duduk. Pantatnya di keataskan sedikit oleh Wen sehingga Audrey sedikit berjinjit dengan pantat sejajar dengan selangkangan Wen. Wajah Audrey dengan wajahku menjadi berhadapan dengan sangat dekat. Lalu Wen memelorotkan celananya sendiri. Terlihat penis Wen yang besar sudah mengacung keras, dan tanpa basa basi lagi dimasukkannya penis besar itu ke dalam vagina Audrey dari belakang. Erangan kecil keluar dari mulut Audrey disertai bunyi bel berdenting beberapa kali. Mata Audrey terpejam rapat. Aku melihat ke bawah ke arah vagina Audrey. Terlihat vagina Audrey sudah penuh dengan penis Wen yang besar dengan sebuah bel kecil yang bergoyang-goyang tergantung dari bibir atas vaginanya. Wen mulai memompa penisnya keluar masuk vagina Audrey yang disertai erangan-erangan kecil Audrey dan bunyi bel yang bergoyang. Tubuh Audrey terdorong ke depan sehingga wajahnya sekarang berada disamping kuping kananku.

Terdengar erangan-erangan Audrey di kupingku setiap kali penis Wen yang besar memasuki vaginanya.

“Maafkan aku Tom, aku tidak kuat disiksa…” tiba-tiba bisik Audrey di kupingku. Aku tidak menjawab dan hanya diam saja.

Genjotan-genjotan penis Wen pada vagina Audrey semakin keras, dan erangan-erangan Audrey semakin terdengar keras. Badan Audrey mulai mengikuti irama permainan Wen. Terlihat vagina Audrey sudah sangat basah, cairan kewanitaannya mulai terlihat membasahi kedua paha dalamnya.

“Wah vagina istrimu sangat basah…dia sangat menikmatinya” kata Wen kepadaku sambil tertawa.

“Saatnya kita ke tahap selanjutnya” kata Wen kemudian sambil dengan tiba-tiba memasukkan 2 jarinya secara kasar ke dalam anus Audrey.

Jeritan keras terdengar dari mulut Audrey. Audrey berusaha menarik badannya namun dengan sigap Wen menahannya.

“Diam Audrey!!!” hardik Wen kepada Audrey.

Setelah beberapa menit puas mengobok-obok anus Audrey dengan kedua jarinya, Wen lalu mencabut penisnya dari vagina Audrey dan mengarahkannya ke anus Audrey. Wen menarik badan Audrey ke belakang sehingga wajah Audrey sekarang kembali berhadapan dengan wajahku. Terlihat wajah kesakitan dari Audrey ketika penis Wen yang besar mulai memasuki lubang anusnya. Air mata mulai meleleh dari kedua mata Audrey. Perlu beberapa menit sampai seluruh penis Wen masuk ke dalam lubang anus Audrey, dan kemudian Wen mulai memompa penisnya keluar masuk lubang anus Audrey. Jeritan-jeritan sakit terdengar dari mulut Audrey, matanya kembali terpejam menahan sakit. Dua tamu wanita kemudian mendatangi Audrey dari kedua sisi. Salah satunya membawa vibrator yang cukup besar dan menyalakannya.

“Ziiing…….” terdengar bunyi vibartor itu. Salah satu tamu wanita tersebut kemudian berjongkok disisi sebelah kiri Audrey dan memasukan vibrator tersebut ke dalam vagina Audrey yang disertai erangan-erangan Audrey. Tamu wanita yang lainnya berjongkok disisi kanan Audrey dan mulai meraba-raba dan menciumi payudara Audrey yang bergantung bebas. Tubuh Audrey kembali terdorong ke depan, sehingga wajahnya kembali berada disebelah kuping kananku. Badan Audrey bergoyang hebat dikarenakan genjotan penis Wen di lubang anusnya dan genjotan vibrator di vaginanya. Erangan-erangan Audrey terdengar keras bersahut-sahutan dengan bunyi vibrator dan bel yang bergoyang keras di bibir atas vaginanya. Erangan-erangan Audrey tidak lagi terdengar sebagai erangan kesakitan tapi telah berubah menjadi erangan kenikmatan. Tanpa disadarinya, Audrey mulai menciumi kuping dan leherku dan sesekali menggigit pelan leherku. Tidak butuh waktu lama untuk Audrey mencapai orgasmenya kembali, badannya mengejang hebat disertai lenguhan kecil ketika dia mencapai puncak orgasmenya. Namun Wen belum ada tanda-tanda bahwa Wen akan mencapai orgasmenya. 40 menit telah berlalu, Audrey telah berkali-kali mengalami orgasme, sampai akhirnya Wen memuntahkan seluruh spermanya didalam anus Audrey. Wen kemudian menarik penisnya keluar dari lubang anus Audrey dan membimbing Audrey ke matras di tengah basement itu. Ternyata salah satu tamu pria Wen telah tidur terlentang di atas matras itu dengan keadaan telanjang bulat dan penis besar yang mengacung ke atas. Wen membimbing Audrey menduduki penis tersebut. Audrey hanya menurut saja apa yang dikehendaki Wen. Setelah penis besar tamu Wen yang bernama Liem itu masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey, Liem kemudian menarik kedua putting payudara Audrey sehingga posisi badan atas Audrey meniduri dada Liem. Liem lalu mencium bibir Audrey dengan ganas, dan aku melihat Audrey melayaninya. Lidah Audrey dan lidah Liem bertautan, mereka berciuman dengan ganasnya. Sementara itu Zhou yang juga sudah telanjang bulat mendekati pantat Audrey dari belakang, dan tanpa basa-basi memasukan penisnya yang juga besar ke dalam lubang anus Audrey, sehingga sekarang posisi Audrey terjepit di antara tubuh Liem dan Zhou dengan 2 penis menancap masing-masing di vaginanya dan di anusnya.

Mata Audrey terlihat berbinar ketika Liem dan Zhou mulai memompa penisnya masing-masing pada vagina dan anus Audrey. Tidak ada lagi penolakan dari Audrey, bahkan Audrey turut menggoyang-goyangkan pinggulnya seirama dengan genjotan Liem dan Zhou.

“Lihat, istrimu mulai menikmati dan menerima statusnya yang baru sebagai budak seks. Saya harap kamu juga dapat menerimanya. Kamu tidak mau kan rekaman dvd istrimu tersebar di internet, lagipula aku lihat kamu juga mulai menikmatinya, lihat penis kamu mulai membesar” bisik Wen kepadaku.

“Kamu menurut saja, dan kamu dapat mendapatkan impianmu selama ini, yaitu melihat istrimu disetubuhi pria lain” lanjut Wen kepadaku.

Aku hanya mengangguk pelan. Terus terang melihat Audrey disandwich oleh 2 laki-laki tua telah membangkitkan nafsu birahiku. Obat yang diberikan Wen kepadaku mulai memudar dan tubuhku mulai tidak lemas lagi, namun bukannya aku membantu Audrey melepaskan diri tapi aku malah menikmati adegan seks di depanku. Terasa lama sekali untuk Liem dan Zhou mencapai orgasmenya, namun sebaliknya sangat cepat sekali Audrey mengalami orgasme. Setelah Audrey mengalami orgasme berkali-kali, barulah Liem dan Zhou secara bersamaan memuntahkan spermanya masing-masing dalam vagina dan anus Audrey. Selesai memuntahkan spermanya dalam anus dan vagina Audrey, Liem dan Zhou segera digantikan oleh tamu pria yang lainnya. Kali ini giliran Lam dan satu tamu lainnya yang bernama Kong. Audrey diposisikan tiduran terlentang di atas tubuh gemuk Lam dengan penis Lam yang menancap di anus Audrey, sedangkan Kong menancapkan penisnya ke dalam vagina Audrey dari atas. Lam dan Kong dengan segera menggenjot penisnya masing-masing dengan kasar pada vagina dan anus Audrey. Audrey terlihat kepayahan melayani nafsu Lam dan Kong. Kedua tangan Audrey bertumpu di dada Lam, kedua kakinya terbuka lebar memberikan akses seluas-luasnya bagi penis Kong di vaginanya. Sementara itu, ketiga tamu wanita yang semuanya telah telanjang bulat menyerbu penisku, mereka memelorotkan celana dan celana dalamku dan mulai menjilati penisku secara bergantian yang membuat nafsu birahiku semakin memuncak. Tanganku mulai berani meraba-raba payudara ketiga wanita tersebut. Audrey kadang-kadang terlihat memandang ke arahku yang sedang dioral service oleh ketiga tamu wanita tersebut. Entah cemburu atau karena tidak mau kalah melihat aku menikmati service ketiga tamu wanita tersebut, Audrey kembali berkonsentrasi dengan persetubuhannya dengan Lam dan Kong. Tangan kanannya meraih belakang kepala Kong dan ditariknya kedepan dan Audrey menciumi bibir Kong dengan ganasnya.

Lidah Audrey terlihat bermain dengan lidah Kong, pinggul Audrey bergoyang makin hebat seakan-akan memberi semangat untuk Lam dan Kong agar menggenjot penisnya masing-masing dengan semakin ganas pada vagina dan anusnya. Orgasme demi orgasme melanda Audrey, sampai akhirnya Lam dan Kong menghabiskan seluruh spermanya dalam vagina dan anus Audrey. Aku sendiripun telah mengalami orgasme, seluruh spermaku ditelan habis oleh ketiga tamu wanita tersebut. Setelah selesai menghabiskan seluruh spermaku, ketiga wanita tersebut bermain seks bertiga. Rupanya mereka adalah lesbian. Ketika aku bermaksud untuk ikut serta, secara halus mereka menolakku. Sementara itu Audrey masih melayani kelima pria tua di atas matras. Mereka secara bergantian atau bersama-sama menyetubuhi Audrey dengan berbagai macam gaya seks. Terkadang seluruh lubang yang ada di Audrey yaitu mulut, vagina dan anus Audrey harus melayani penis-penis pria-pria tua tersebut secara bersamaan. Terlihat juga Audrey melayani kelima pria tua tersebut secara bersamaan. Audrey duduk di atas Wen yang berbaring terlentang dimatras dengan penis Wen pada vagina Audrey, sedangkan Kong asyik menggenjot anus Audrey dari belakang. Secara bersamaan mulut Audrey menjilati dan menghisap penis Lam, sedangkan tangan kiri Audrey sibuk mengocok penis Zhou dan tangan kanan Audrey sibuk mengocok penis Liem. Terlihat suatu adegan yang fantastis di hadapanku, Audrey istriku yang cantik, berkulit putih dan mulus sibuk melayani 5 pria tua yang semuanya bertubuh gemuk dan berbulu lebat. Erangan-erangan mereka membahana di basement itu disertai bunyi bel kecil yang tergantung di bibir atas vagina Audrey. Orgasme-orgasme silih berganti melanda mereka. Sudah banyak sekali sperma kelima pria tua itu memenuhi vagina, lubang anus dan mulut Audrey. Bekas-bekas sperma nampak dibibir vagina dan lubang anus Audrey, juga demikian di bibir mulut Audrey, namun mereka terus bersetubuh sepanjang malam itu sampai pagi menjelang ketika mereka semua kehabisan tenaga dan tidur bersama di basement itu dengan keadaan telanjang bulat.

Bagian V: Penutup

Hari sudah siang ketika Audrey dan kelima pria tua bangun, merekapun mandi bersama-sama. Ketiga tamu wanita sudah tidak nampak di villa, kelihatannya mereka sudah pulang duluan ke Jakarta. Tidak terasa sudah dari jumat malam aku dan Audrey berada di villa. Sekarang sudah hari minggu, namun tidak terlihat Wen dan 4 pria lainnya akan pulang ke Jakarta. Mereka masih asyik menyetubuhi budak seks barunya, yaitu Audrey istriku. Tidak henti-hentinya mereka menyetubuhi Audrey baik secara bergantian maupun secara bersama-sama. Mereka menyetubuhi Audrey baik di ruang tengah, di ruang makan, di kolam renang, di jacuzzi maupun di kamar tidur. Aku melihat Audrey berusaha melayani nafsu binatang mereka dengan sebaik-baiknya. Terlihat sekali istriku sudah menerima status barunya sebagai budak seks. Meskipun terlihat sulit bagi Audrey untuk mengimbangi kemampuan seks kelima pria tua itu, namun Audrey terlihat mulai menikmatinya, terutama apabila Audrey disetubuhi dengan gaya-gaya baru yang belum pernah dicobanya. Kelima pria itu terus menyetubuhi Audrey sepanjang hari Minggu, Senin sampai hari Selasa, mereka hanya berhenti kalau saatnya makan dan tidur sebentar. Kagum aku melihat stamina kelima pria tua tersebut mengingat usia mereka semuanya sudah di atas 50 tahun. Kadang-kadang ketika mereka beristirahat sebentar, mereka mengijinkanku untuk dioral oleh Audrey, namun mereka tidak pernah mengajakku untuk secara bersama-sama menyetubuhi Audrey. Hari Rabu pagi, mereka baru mengijinkan aku dan Audrey kembali ke Jakarta dengan instruksi bahwa cincin dan bel kecil di bibir atas vagina Audrey tidak boleh dilepas, mulai sekarang Audrey hanya diperbolehkan memakai rok dengan tidak boleh memakai BH dan celana dalam, setiap hari Audrey harus meminum pil anti hamil yang diberikan oleh Wen, Audrey harus selalu mencukur bulu-bulu disekitar vaginanya sehingga vaginanya selalu mulus tanpa bulu sehelaipun, aku tidak boleh menyetubuhi Audrey, aku hanya boleh dioral saja oleh Audrey dan kapanpun Wen dan teman-temannya memanggil Audrey atau datang ke rumah kami, Audrey harus siap melayani. Apabila kami tidak menuruti maka dvd rekaman persetubuhan Audrey di villa tersebut akan tersebar di internet. Audrey hanya mengangguk tanda setuju mendengar instruksi Wen sedangkan aku hanya diam tanpa bisa berbuat apapun. Kamipun pulang ke Jakarta pada hari Rabu pagi itu dengan status baru istriku sebagai budak seks pemuas nafsu.

By: Dian Prameshwari
Diposkan oleh Cerita Cerita Sex 17 tahun di 00:46 :: Leave a comment...0 comments
Label: Pemerkosaan
Minggu, 22 Februari 2009
Aib Sebuah KKN
Minggu, 22 Februari 2009 0
Aib Sebuah KKN

Hai, namaku Dony. Aku tinggal di Yogya tetapi tidak di kotanya melainkan hanya di pedesaan pinggiran kota gudeg itu. Karena tidak mempunyai uang untuk kuliah jadi aku selama beberapa bulan ini setelah pengumuman kelulusan SMU hanya menganggur saja di rumah.

Cerita ini merupakan kejadian nyata di suatu desa T***** di pinggiran kota Yogya pada tahun 1990-an, dan ini menjadi sebuah trauma di desa saya, sehingga saya memberikan nama-nama samaran supaya tidak merugikan pihak lain.

*****

Pada pertengahan bulan Maret tahun 1990-an, desaku kedatangan sekelompok mahasiswa yang akan melakukan KKN. Mungkin karena ini adalah baru pertama kalinya desaku jadi tempat tujuan KKN sehingga penduduk desaku sangat gembira mendengar akan ada mahasiswa yang akan ikut membantu meringankan beban dalam membangun desa kami terutama kepala dusunnya.

Kebetulan rumah tinggal yang di pinjamkan oleh kepala dusun untuk sekelompok mahasiswa itu bersebelahan dengan rumah saya, sehingga secara otomatis saya jadi dapat berkenalan dengan mereka. Mereka beranggotakan delapan orang, lima di antaranya cowok, tiga yang lainya cewek. Kebanyakan mereka bukan orang Yogya asli. Mereka ada yang berasal dari Bandung, Sumatra, dan Sulawesi, cuma satu orang yang berasal dari Yogya.

Mereka ditugaskan oleh kepala dusun desa saya untuk membangun sebuah kamar mandi umum untuk sarana desa yang selama ini belum terbangun. Setiap hari, ketika mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, aku selalu memperhatikan salah satu anggota cewek dari ketiga mahasiswi tersebut. Ia bernama Windy, usianya sekitar 22 tahun, lebih tua 3 tahun denganku saat itu. Tingginya sekitar 167 cm, asalnya dari Bandung. Para pembaca tahu sendiri kan kalau orang Bandung umumnya berkulit putih mulus.

Aku selalu memperhatikan Windy karena tubuhnya yang indah dan bahenol itu, ia memakai BH yang berukuran mungkin sekitar 34 atau lebih, karena memang payudaranya sangat menonjol, apalagi saat kerja ia hanya mengenakan kaus ketat dan memakai celana gunung hanya pada bagian atasnya saja, mungkin karena panas sehingga bagian bawahnya tidak dipakainya saat bekerja, meskipun saat berdiri hanya sampai lutut, tetapi saat berjongkok atau duduk bersila, pahanya yang putih mulus itu sangat terlihat jelas dan saat berkeringat, BH-nya terlihat jelas karena tercetak terkena keringat. Aku jelas sangat tergoda dan bernafsu, apalagi di desaku jarang melihat cewek putih secantik dia.

Suatu ketika, saat mereka sedang bekerja keras, entah mengapa Windy minta diantarkan temannya ke tempat tinggalnya yang berjarak sekitar 200 m dari tempat kerjanya, aku langsung mengikutinya karena hanya gadis itulah yang aku sukai tubuh seksinya.

Sesampai di rumah mereka, Silvi teman Windi yang mengantarkannya, diminta Windi untuk segera kembali ke teman-temannya untuk membantu pekerjaan yang sedang mereka kerjakan agar cepat selesai. Mungkin karena kelelahan, ia langsung pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Karena rumah yang ditempatinya bukan termasuk rumah orang kaya maka kamar mandinya pun juga sederhana sekali, pintunya saja hanya terbuat dari seng yang tidak bisa tertutup rapat, bagian bawahnya terbuka sekitar 5 cm, dan bagian kanan atau kiri pintu juga mudah diintip. Aku sudah hafal dengan bentuk kamar mandi ini karena aku sering mengintip diam-diam dua anak Pak Kadus yang masih SMP dan SMU saat mereka mandi. Meskipun mereka berwajah manis tetapi masih kalah putih dan seksi dibandingkan si Windi.

Aku masuk lewat halaman belakang karena kamar mandinya juga terletak di halaman belakang. Mungkin karena sudah merasa aman setelah pintu depan ditutup dan dikunci rapat, ia mandi dengan santai sambil menyanyi-nyanyi lagu pop Britney Spears kesukaannya. Saat aku mulai mengintip, ia sedang berjongkok untuk kencing sehingga aku mulai khawatir kalau-kalau ia melihatku sebab ia berjongkok menghadap pintu depan kamar mandi sedangkan aku mengintipnya dari bawah pintu. Tetapi untungnya ia hanya melihat ke bawah lantai.

Saat ia kencing itulah aku merasa terangsang. Vaginanya terlihat jelas karena terbuka lebar dengan bulu-bulunya yang keriting dan lebat, dan yang paling kusukai dari dia tentunya adalah karena ia masih perawan. Aku jadi ingin merasakan bagaimana rasanya vagina cewek yang masih perawan karena selama ini aku hanya berpacaran dan berhubungan intim dengan wanita yang sudah tidak perawan dan tidak secantik dia.

Setelah ia selesai mandi, aku ingin segera keluar dari rumah itu, tapi karena hari itu hujan, aku terpeleset saat memanjat tembok dan menyenggol pot tanaman hingga ia langsung keluar dari kamar mandi dengan hanya menutup handuk untuk melihat suara apa itu dan langsung memergokiku.

"Loh Mas, kok disini, lagi ngapain kamu Mas?".
"Eh.. Emm.. Aku ee.. Lagi manjat tembok tapi kepeleset", ujarku beralasan.

Karena sudah tak tahan melihat tubuhnya yang putih mulus dan wangi itu aku mendekatinya dan tanpa basa-basi langsung kusekap mulutnya. Dengan mudah aku dapat meringkusnya dengan mengikat tangannya karena di tempat itu terdapat banyak tali-tali tambang, dan kuseret dia ke dalam kamar tidur entah milik siapa. Di situ aku buka ikatannya dan langsung kurebut handuknya sehingga ia telanjang bulat.

"Jangan Mas, jangan, kita kan tetangga", ia hanya dapat menangis dan memohon-mohon saat aku melepaskan semua bajuku.
"Emang gue pikirin, aku dah nggak tahan ngeliat tubuh seksi lu!!", bentakku.

Pistolku yang berukuran 18 cm ini langsung tegak menodong ke arahnya. Aku langsung menubruk dia. Karena ia melakukan perlawanan terpaksa aku menampar dan sedikit mencekiknya, karena hanya dengan cara inilah ia akhirnya dapat lemas dan menyerah tanpa membuat lecet kulit putih mulusnya. Aku mulai menciumi bibir tipisnya dan menjilati wajahnya sambil meremas-remas payudara dan memelintir putingnya, lalu aku melumat payudara dan menggigiti putingnya.

"Aah.. Aah sakit Mas!", rintihnya lalu aku mulai meletakan penisku di atas vaginanya.
"Jangan digituin Mas, ampun Mas", ia memohon sambil mengeluarkan air matanya.
"Santai aja Mbak, enak kok"
"Jangan Mas, jangan.. Aacchh.. Aacch.. Uucch sakit.. Ooch!!", ia menjerit kesakitan saat aku berusaha keras memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang masih tertutup rapat.

Lalu kubalik posisi tubuhnya sehingga ia berlutut dan kutampar-tampar pantatnya hingga memerah, sambil kujilat-jilat pantat mulusnya.

"Wow, pantat Mbak indah juga, bulet tapi juga sekal banget"

Saat hampir kumasukkan penisku ke duburnya tiba-tiba pintu terbuka dan ada orang masuk. Windi tahu bahwa itu pasti temannya sehingga ia langsung berterika meminta tolong. Orang itu mendengar teriakan Windi lalu langsung menuju kamar ini hingga ia terkejut bukan main begitu juga denganku

"Hey, sedang apa kau?"
"Eh.. Mm anu aku.." aku bingung menjawabnya.

Windi sempat lega melihat salah seorang temannya datang. Teman pria Windi itu sempat ingin marah ketika Windi akan kusodomi. Tetapi ketika ia melihat kemolekan tubuh Windi, ia jadi terdiam sesaat. Mungkin ia juga terangsang, karena saat aku melihat bibirnya ia mengucapkan kata "Wow" dengan lirih secara tidak sengaja. Tanpa disangka ia lalu malah memberi suatu penawaran kepadaku.

"Kalo lu ngasih aku bagian dari tubuh sexy ini, aku nggak bakalan ngomong ama tetangga sebelah, OK?"
"Oh boleh saja, kita nikmati bareng-bareng aja." tentu saja aku setuju dari pada dikeroyok masa.

Dia langsung membuka bajunya yang sudah basah terkena hujan.

"Loh, Rob kamu ini gimana sih, aku ini temanmu" Windi merasa kecewa ketika ia melihat temannya itu sedang mengeluarkan batang kejantanannya dari CD-nya.
"Iya aku juga tau lu ini temanku, tapi kan cuman teman KKN aja dan selama ini aku selalu terangsang ngeliat tubuh lu saat ngintip lu mandi, he.. he.. he", ujarnya.

Aku langsung melanjutkan kegiatanku tadi. Saat Windi masih berdebat dengan temannya, langsung saja kumasukkan penis 18,5 cm-ku ini ke lubang duburnya.

"Robi, kamu ini kurang aj.. Aacchh.. Aach.. Oocch!!" ia menjerit kesakitan.
"Ooch.. Aacch.. Yes wauw biar seret tapi enak tenan Win duburmu!!", ujarku.

Temannya pun tak tinggal diam, ia langsung menyodorkan batang kemaluannya ke wajah Windi.

"Nah Win entot nih kontolku, ha.. ha.. ha!!", ia memaksa membuka mulut Windi dengan menjambaknya.
"Please Rob, please.. mmph.. mmphh!".

Windi merasakan siksaan sampai hampir muntah, karena memang ia belum pernah mengulum penis seseorang. Kugenjot-genjot penisku, karena aku senang jika melihat payudaranya bergoyang-goyang.

"Aach.. Oocchh.. Yes!!".

Akhirnya kusemprotkan cairan spermaku ke lubang duburnya. Si Robi pun ikut menyemburkan cairan kentalnya ke mulut Windi dan memaksanya untuk menelan semuanya dan menjilati sisa-sisa sperma yang masih menempel di penisnya. Lalu kami beristirahat sebentar sambil merokok dan menonton film porno di ruang tengah. Lalu temannya yang ternyata bernama Robi itu mampir ke warung sebelah untuk membeli vitamin penambah tenaga dan obat kuat.

Setelah 30 menit, hari masih hujan lebat sehingga teman-temannya yang lain kemungkinan masih akan lama pulangnya. Kami pun meneruskan memperkosa Windi. Ia mengira penderitaanya sudah berakhir karena saat aku menghampirinya, ia sudah memakai CD-nya kembali. Ia pun terkejut saat aku menghampirinya sehingga ia melakukan sedikit pemberontakan tapi tidak berhasil lalu langsung kutampar hingga jatuh dan Robi melepaskan kembali CD-nya.

"Tolong sudahi saja Rob, aku sudah cape", mohonnya.
"Hey aku kan belum nyoba vagina lu tau!"

Robi berbaring telentang di kasur dan mengangkat tubuh Windi dengan posisi tengkurap menghadap dirinya, dan langsung menghujamkan penisnya ke vaginanya.

"Aacchh.. Uucchh.. Sst tolong, udah aja Rob, sakit..!", rintihnya.

Tanpa kutunggu-tunggu, aku langsung ikut menunggangi tubuh Windi dan memasukan penisku ke vaginanya sehingga penisku dengan penis Robi bergesekan dalam satu vagina hingga lapisan klitoris Windi robek dan berdarah.

"Aacchh.. Aacch.. Uucch.. Sstt aduuh sakit banget, toloong!!"

Setelah sekitar 25 menit, Robi menyemprotkan spermanya dulu lalu mencabutnya, dan tubuh Windi kubalikkan telentang. Lima menit kemudian ganti aku yang menyemprotkan cairan hangat dan kentalku. Aku pun lemas dan menindih tubuh seksinya tapi tidak langsung mencabut penisku dari vaginanya. Windi pun juga sudah sangat lemas tidak berdaya.

Karena hujan sudah mulai agak reda, Robi langsung mengeluarkan HP-nya dan memfoto bagian-bagian vital tubuh telanjang Windi untuk mengancam Windi agar tidak membuka mulut kepada siapapun. Lalu kami memakaikan bajunya. Saat kemudian 2 orang lagi temannya datang, kami terlihat sedang menonton TV bersama. Meskipun wajah Windi terlihat sedih, mereka tidak mengetahui dan tidak mempedulikannya karena memang hubungan mereka belum begitu akrab sebab mereka semua berbeda jurusan apalagi baru saling kenal beberapa hari. Tetapi beberapa hari kemudian, Windi akhirnya mengaku kepada keluarganya bahwa ia telah diperkosa oleh saya dan temannya saat KKN, sehingga kami pun ditangkap oleh polisi dan dipenjara selama 2,5 tahun.

Setelah kejadian itu, warga desa saya menjadi trauma karena takut kejadian itu akan terulang lagi dan itu telah memperburuk nama desaku. Sejak saat itu jika ada KKN lagi, penduduk desa saya meminta para anggota KKN khususnya cewek harus berpakaian sopan dan tidak merangsang, karena pemuda di desaku memang jarang keluar desa, sehingga agak mudah terangsang jika melihat cewek cantik dengan pakaian yang sedikit menggoda.


E N D
Diposkan oleh Cerita Cerita Sex 17 tahun di 10:03 :: Leave a comment...0 comments
Label: Pemerkosaan
Adik Pacarku
0
Adik Pacarku

Sebelum saya ceritakan kisah-kisah nyata yg terjadi di hidupku, sebelumnya saya perkenalkan dulu.

Saya lahir di Jakarta, keturunan cina, umur 28 thn, kerja disalah satu perusahaan swasta sebagai auditor pembukuan dan keuangan, saya ditugasi untuk mengawasi cabang denpasar, jadi saya tinggal disana menempati rumah kontrakan.

Suatu hari saya diberi kabar oleh pacar saya (Wiwi umur 26) yg di Jakarta, bahwa dia mau datang bersama adiknya (Irene umur 22).

Setelah kedatangannya, mereka menginap di kontrakanku (kamar tamu).

Tetapi Wiwi tidak bisa lama, karena dia hanya diberi ijin oleh kantornya 3 hari.

Selama 3 hari saya dan Wiwi selalu ngumpet-ngumpet dari cicinya untuk bermesraan, dan sialnya kita hanya bisa melakukan hubungan sex 1X (kami dulu telah biasa melakukannya sewaktu saya tingal di Jakarta), karena kesempatan untuk itu susah sekali.

Setelah Wiwi pulang, tinggal saya dan Irine yg masih mau liburan di bali.

Pada hari minggu saya ajak dia jalan ke berbagai tempat wisata, pulangnya dia langsung ingin istirahat karena kelelahan. Karena saya belum merasa ngantuk, saya ke ruangan tamu untuk nonton TV, sedangkan dia masuk kamar tidur tamu untuk istirahat.

Setelah acara yg saya sukai selesai, saya melihat jam, ternyata sudah jam 1 pagi, tiba-tiba muncul ide isengku untuk memasuki kamar tidur Irene, dengan perlahan-lahan saya berjalan mendekati pintu kamarnya, ternyata tidak dikunci, saya masuk dan melihat Irene telentang dengan kedua lengan dan paha terbuka, saya langsung mengambil tali plastik dan perlahan-lahan saya melucuti pakaiannya semua, mungkin karena dia terlalu lelah sehingga tidurnya sangat nyenyak sampai tidak tahu apa yg sedang saya lakukan, setelah semua pakaiannya kubuka, saya langsung mengikat lengan dan kakinya ke sudut-sudut ranjang.

Tiba-tiba dia terbangun, dan terkejut karena tubuhnya telah telanjang polos dan terikat di ranjang. "Ko lepasin saya", suaranya gemetaran karena shock. "Cepat lepasin Ko!" Irene mengulangi perintahnya, kali ini lebih keras suaranya. Tubuh telanjangnya telah mambiusku. Aku segera mencopot celana dan celana dalamku dengan cepat. "Ko!" Irene memekik. "Mau ngapain kamu?" Irene terkesiap melihat batang kemaluanku yang sudah berdiri tegak. Kusentuh payudaranya dengan kedua tanganku, rasanya dingin bagai seonggok daging.

"Koko gila luu yah!" Aku merasakan sensasi aneh melihat payudara dan liang kemaluan adik pacarku ini. Jelas beda dengan waktu-waktu dulu kalau mengintip dia ganti baju di kamarnya. Sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda. "Koko, gua khan adik Wiwi!" Aku menyentuh liang kemaluannya dengan tanganku, lalu menjilatinya.

Setelah puas segera kuletakkan batang kemaluanku di gerbang liang kemaluan Irene. "Ko jangaan!" dia memohon-mohon padaku. "Diam.. cerewet!" aku menjawab dengan sembarangan. Sekali batang kemaluanku kudorong ke depan, tubuhku sudah menjadi satu dengannya. "Iiih.. shiit!" dia mengumpat tapi ada nada kegelian dari suaranya itu. Aku menggoyangkan pinggangku secara liar hingga batang kemaluanku mengocok-kocok liang kemaluannya. "Ahh.. shiit! ah shiit! Ko stop!" Semakin dia mamaki dan mengumpatku dengan ekspresi judesnya itu, semakin terangsang aku jadinya.

Sambil memompa liang kemaluannya aku menghisap puting-puting payudaranya yang agak berwarna pink itu. "Mmmh.. udah jangan Ko!" Irene masih berteriak-teriak memintaku berhenti. "Lu diam aja jangan banyak ngomong", ujarku cuek. "Ohh shiit!" ujarnya mengumpat. Dia menatapku dengan tatapan yang bercampur antara kemarahan dan kegelian yang ditahan. Sejenak aku menghentikan gerakanku. Kasihan juga aku melihatnya terikat seperti ini. Dengan menggunakan cutter yang tergeletak di meja samping ranjang aku memotong tali yang mengikat kedua kakinya. Begitu kedua kakinya terlepas dia sempat berontak. Tapi apa dayanya dengan posisi telentang dengan tangan masih terikat. Belum lagi posisiku yang sudah mantap di antara kedua kakinya membuat dia hanya bisa meronta-ronta dan kakinya menendang-nendang tanpa hasil. "Aaahh Ko stop dong.. udah Ko.. gue khan adik Wiwi", dia memohon lagi tapi kali ini suaranya tidak kasar lagi dan terdengar mulai berdesah karena geli. Nafasnya pun mulai memburu. Aku menjilati lehernya dia melengos ke kiri dan ke kanan tapi wajahnya mulai tidak mampu menutupi rasa geli dan nikmat yang kuciptakan. " Aduhh sshh Ko udah doong.. hh.. ssh!" suaranya memohon tapi makin terdengar mendesah lirih. Kedua kakinya masih meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan tendangannya bukan karena berontak melainkan menahan rasa geli dan nikmat.

Aku menaikkan tempo dalam memompa sehingga tubuhnya semakin bergetar setiap kali batang kemaluanku menusuk ke dalam liang kemaluannya yang hangat berulir serta kian basah oleh cairan kenikmatannya yang makin membanjir itu. Kali ini suara nafas Irene kian berat dan memburu, "Uh.. uh.. uhhffssh.. shiit Koo.. agh uuffsshh u.. uhh!" Wajahnya semakin memerah, sesekali dia memejamkan matanya sehingga kedua alisnya seperti bertemu. Tapi tiap kali dia begitu atau saat dia merintih nikmat, selalu wajahnya dipalingkan dariku. Pasti dia malu padaku. Liang kemaluannya mulai mengeras seperti memijit batang kemaluanku. Pantatnya mulai bergerak naik turun mengimbangi gerakan batang kemaluanku keluar masuk liang kenikmatannya yang sudah basah total. Saat itu aku berbisik "Gimana, lu mau udahan?" Aku menggodanya. Sambil mengatur pernafasan dan dengan ekspresi yang sengaja dibuat serius, dia berkata, "I.. iiya.. udah.. han yah Ko", suaranya dibuat setegas mungkin tapi matanya yang sudah sangat sayu itu tidak dapat berbohong kalau dia sudah sangat menikmati permainanku ini. "Masa?" godaku lagi sambil tetap batang kemaluanku memompa liang kemaluannya yang semakin basah sampai mengeluarkan suara agak berdecak-decak. "Bener nih lu mau udahan?" godaku lagi. Tampak wajahnya yang merah padam penuh dengan peluh, nafasnya berat terasa menerpa wajahku. "Jawab dong, mau udahan gak?" aku menggodanya lagi sambil tetap menghujamkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya.

Sadar aku sudah berkali-kali bertanya itu, dia dengan gugup berusaha menarik nafas panjang dan menggigit bibir bagian bawahnya berusaha mengendalikan nafasnya yang sudah ngos-ngosan dan menjawab, "Mmm.. iya.. hmm." Aku tiba-tiba menghentikan gerakan naik turunku yang semakin cepat tadi. Ternyata gerakan pantatnya tetap naik turun, tak sanggup dihentikannya. Soalnya liang kemaluannya sudah semakin berdenyut dan menggigit batang kemaluanku. "Ehmm!" Irene terkejut hingga mengerang singkat tapi tubuhnya secara otomatis tetap menagih dengan gerakan pantatnya naik turun. Ketika aku bergerak seperti menarik batang kemaluanku keluar dari liang kemaluannya, secara refleks tanpa disadari olehnya, kedua kakinya yang tadinya menendang-nendang pelan, tiba-tiba disilangkan sehingga melingkar di pinggangku seperti tidak ingin batang kemaluanku lepas dari lubang kemaluannya.

"Lho katanya udahan", kata-kataku membuat Irene tidak mampu berpura-pura lagi.

Mukanya mendadak merah padam dan setengah tersipu dia berbisik, "Ah shiit Koo.. uhh.. uhh.. swear enak banget.. pleasee dong terusiin yeeass!" belum selesai ia berkata aku langsung kembali menggenjotnya sehingga ia langsung melenguh panjang. Rupanya perasaan malunya telah ditelan kenikmatan yang sengaja kuberikan kepadanya. "Ah iya.. iiya.. di situ mmhh aah!" tanpa sungkan-sungkan lagi dia mengekspresikan kenikmatannya. Selama 15 menit berikutnya aku dan dia masih bertempur sengit. Tiga kali dia orgasme dan yang terakhir betul-betul dahsyat kerena bersamaan dengan saat aku ejakulasi. Spermaku menyemprot kencang sekali bertemu dengan semburan-semburan cairan kenikmatannya yang membanjir. Irine pasti melihat wajahku yang menyeringai sambil tersenyum puas. Senyum kemenangan.

Aku melepaskan ikatannya. Dia kemudian duduk di atas kasur. Sesaat dia seperti berusaha menyatukan pikirannya.

"Huuhh, kamu hebat banget sih Ko, sering yach melakukan dengan Wiwi"

"Enggak juga koq!"

"Alah, sama setiap cewek yang kamu tidurin juga jawabannya pasti sama"

"Keperawanan lu kapan diambil?" tanyaku

"Sewaktu pacarku ingin pergi ke Amerika untuk kuliah, saya hadiahkan sebagai hadiah perpisahan"

Kemudian dia bangkit dengan tubuh yg lemah ngeloyor ke kamar mandi, setelah selesai bersih-bersih Irene kembali lagi ke kamar.

Di depan pintu kamar mandi kusergap dia, kuangkat satu pahanya dan kutusuk sambil berdiri. "Aduh kok ganas banget sih Lu!" katanya setengah membentak. Aku tidak mau tahu, kudorong dia ke dinding kuhajar terus vaginanya dengan rudalku. Mulutnya kusumbat, kulumat dalam-dalam. Setelah Irene mulai terdengar lenguhannya, kugendong dia sambil pautan penisku tetap dipertahankan. Kubawa dia ke meja, kuletakkan pantatnya di atas meja itu. Sekarang aku bisa lebih bebas bersenggama dengan dia sambil menikmati payudaranya. Sambil kuayun, mulutku dengan sistematis menjelajah bukit di dadanya, dan seperti biasanya, dia tekan belakang kepalaku ke dadanya, dan aku turuti, habis emang nikmat dan nikmat banget. "aahh.. sshh.. oohh.. uugghh.. mmhh", Irene terus meracau.

Bosen dengan posisi begitu kucabut penisku dan kusuruh Irene menungging. Sambil kedua tangannya memegang bibir meja. Dalam keadaan menungging begitu Irene kelihatan lebih aduhai! Bongkahan pantatnya yang kuning dan mulus itu yang bikin aku tidak tahan. Kupegang penisku dan langsung kuarahkan ke vaginanya. Kugesekkan ke clitorisnya, dan dia mulai mengerang nikmat. Tidak sabar kutusukkan sekaligus. Langsung kukayuh, dan dalam posisi ini Irene bisa lebih aktif memberikan perlawanan, bahkan sangat sengit. "Aahh Koo Akuu mmoo.. kkeelluuarr laggi.." racaunya. Irene goyangannya menggila dan tidak lama tangan kanannya menggapai ke belakang, dia tarik pantatku supaya menusuk lebih keras lagi. Kulayani dia, sementara aku sendiri memang terasa sudah dekat. Irene mengerang dengan sangat keras sambil menjepit penisku dengan kedua pahanya. Saya tetap dengan aksiku. Kuraih badannya yang kelihatan sudah mulai mengendur. Kupeluk dari belakang, kutaruh tanganku di bawah payudaranya, dengan agak kasar kuurut payudaranya dari bawah ke atas dan kuremas dengan keras. "Eengghh.. oohh.. ohh.. aahh", tidak lama setelah itu bendunganku jebol, kutusuk keras banget, dan spermaku menyemprot lima kali di dalam.

Dengan gontai kuiring Irene kembali ke ranjang, sambil kukasih cumbuan-cumbuan kecil sambil kami tiduran. Dan ketika kulihat jam di dinding menunjukan jam 02.07. Wah lumayan, masih ada waktu buat satu babak lagi, kupikir. "rine, vagina dan permainan kamu ok banget!" pujiku. "Makasih juga ya Ko, kamu juga hebat", suatu pujian yang biasa kuterima!

Setelah itu kami saling berjanji untuk tidak memberi tahu cici dan pacarnya yg sedang kuliah di Amerika. Selanjutnya kami selalu melakukannya setiap hari sampai dia pulang ke Jakarta. jika ada yg ingin berkenalan, silakan email saya (khusus wanita).
Diposkan oleh Cerita Cerita Sex 17 tahun di 10:02 :: Leave a comment...0 comments
Label: Pemerkosaan
Adik Kelasku
0
Adik Kelasku

Aku duduk di kelas 3 SMU saat ini. Namaku Nia, lengkapnya Lavenia, aku sangat terkenal di sekolah, teman-teman kagum akan kecantikanku, apalagi cowok-cowok, yang sering mengusilli aku dengan menggoda, aku sih cuek saja, soalnya aku juga senang sih. Aku punya sebuah "geng" di sekolah, Manda dan Lea adalah teman-teman dekatku. Kemanapun aku pergi mereka seperti biasanya selalu ada.

Tahun ajaran baru kali ini sudah tiba, banyak adik-adik kelas baru yang baru masuk kelas 1. Sherry Andhina, nama gadis itu, ia baru duduk di kelas 1, tetapi ia sudah terkenal di sekolah ini. Bahkan ia bisa menyaingiku. Memang dia cantik, lebih cantik dari aku, kulitnya putih bersih terawat, dengan wajah agak kebule-bulean dan rambut sebahu, tubuhnya juga bagus, sintal, dan sexy. Baru 2 bulan bersekolah, nama Sherry sering jadi bahan pembicaraan cowok-cowok kelas 3 di kantin, ada yang naksir berat, bahkan kadang-kadang mereka suka berbagi fantasi seks mereka tentang Shery. Sherry tidak seperti aku, ia gadis pendiam yang nggak banyak tingkah. Mungkin itu yang membuat kaum cowok tergila-gila padanya.

Semakin hari Sherry semakin terkenal, keegoisanku muncul ketika kini aku bukan lagi jadi bahan pembicaraan cowok-cowok. Kekesalanku pun memuncak kepada Sherry, akhirnya aku, Manda dan Lea merencanakan sesuatu, sesuatu untuk Sherry. Seperti aku, Sherry juga anggota cheerleaders sekolah, siang itu aku menjalankan rencanaku, aku bohongi Sherry untuk tidak langsung pulang sekolah nantinya, karena akan ada latihan cheers yang mendadak, ia menolak, namun dengan segala upaya aku membujuknya sampai ia mau.

Sore itu, sekolah sudah sepi, tersisa aku, Manda, Lea, Sherry dan 4 orang penjaga sekolah. Aku pun mulai menjalankan rencana ku.
"Kak, sampai kapan Sherry mesti nunggu disini?"
"Udah tunggu aja, sebentar lagi!!"
Sherry mulai kelihatan cemas, ia mulai curiga terhadapku.
"Sudah beres Non" Tejo si penjaga sekolah melapor padaku.
"Oke" jawabku.

Rencana ini sudah kusiapkan dengan matang, sampai aku membayar 4 penjaga sekolah untuk mau bekerja sama denganku, bukan hal yang berat bagiku, aku anak orang kaya.
"Ya udah, ikut gue sekarang!!" perintahku untuk Sherry.
Dengan ragu-ragu, Sherry mengikuti aku, Lea dan Manda. Kubawa ia ke ruang olahraga sekolah, tempat dimana kita biasa latihan cheerleaders.

Sherry menangis karena bentakan dari aku, Manda dan Lea, ia terlihat ketakutan, tetapi kami terus menekannya secara psikologis, sampai ia menagis.
"Sherry salah apa Kak?" ia menangis terisak-isak.
"Lo baru masuk sekolah 2 bulan aja udah banyak lagak, lo mau nyaingin kita-kita yang senior? hormatin dong!!" bentakku
"Nggak kok Kak, Sherry nggak begitu"
"Nggak apaan? Nggak usah ngebantah deh, Lo mau nyaingin kita-kita kan?!" Lea menambahkan bentakanku.

Setelah puas membentak-bentak Sherry, aku memberi tanda kepada Manda. Tak lama kemudian 4 penjaga sekolah yang sudah kuajak bekerjasama itu masuk ke ruang olahraga, mereka adalah Tejo, Andre, Lodi dan Seto. Dari tadi mereka sudah kusuruh menuggu di luar. Sherry saat itu terkejut dan sangat ketakutan.
"He.. he.. he.. ini dia Non Sherry yang ngetop itu" Seto berujar sambil tersenyum menyeringai.
"Cantik banget, sexy lagi.." tambah tejo.
Sherry gemetaran ia terlihat sangat takut.
"Sikat aja tuh!!" perintahku pada 4 pria itu.
"Oke, sip bos!! He.. he.. he.." Tejo menyeringai.

Manda yang dari tadi diam mulai menyiapkan sebuah kamera handycam yang memang bagian dari rencanaku. Seto mencengkram tangan kanan Sherry, sementara Lodi mencengkram tangan kirinya. Tubuh Sherry mereka seret ke atas sebuah meja sekolah. Sherry terlihat sangat ketakutan ia pun menangis sambil menjerit-jerit minta tolong.
"Gue duluan ya" Tejo mendekati Sherry.

Aku hanya tersenyum melihat keadaan Sherry sekarang, aku puas melihat ia ketakutan.
"Mau apa Pak? Tolong saya, ampun Pak?" Sherry memohon ampun.
Tapi Tejo sudah tidak perduli lagi dengan permohonan Sherry, ia sudah dibakar oleh nafsu. Perlahan Tejo mendaratkan tangannya menyentuh payudara Sherry, Sherry menjerit ketakutan. Tanpa menghiraukan teriakan Sherry, Tejo meremas-remas payudara Sherry perlahan-lahan.
"Yang kenceng Jo!!" perintahku.
Tejo mengeraskan cengkramannya di buah dada Sherry. Sherry berteriak, ia nampak kesakitan, dan aku pun sangat menikmati ekspresi wajah Sherry saat itu. Dipenuhi nafsu yang membara, Tejo membuka seragam SMU sherry kancing demi kancing sampai payudara Sherry yang tertutup BH terlihat.

"Gila!! Seksi banget nih toket, putih banget!!" sahut Tejo sambil tertawa gembira.
Perlahan Tejo menyentuh kulit payudara Sherry, Sherry pun terlihat gemetaran.
"Tolong jangan Pak!!" sahut Sherry memelas.
Seluruh orang di ruangan ini sudah tidak sabar lagi menyuruh Tejo menanggalkan penutup payudara Sherry itu. Tejo pun akhirnya melepas BH yang menutupi keindahan payudara Sherry itu. Aku tergelak menahan ludah, payudara Sherry indah sekali, mulus, bersih dengan puting yang merah muda merekah, seksi sekali pikirku.
"Abisin aja Pak!!" Lea meminta Tejo dengan wajah cemburu, ia sepertinya iri pada keindahan payudara Sherry.
"Ok Sherry sayang, tenang aja ya? Nggak sakit kok, dijamin nikmat deh.." Tejo berseloroh, ia terlihat bernafsu sekali seperti halnya Lodi dan Seto yang masih memegangi tangan Sherry supaya ia tidak melawan, sementara Andre berdiri dibelakangku sambil memperhatikan dengan nafsunya.
"Jangan Pak!! ampun Kak!! tolong Sherry.." Sherry memohon dengan wajah pasrah, namun aku tidak perduli.

Sama sepertiku, Tejo juga tidak perduli dengan permintaan Sherry. Tejo mulai memainkan tangannya di payudara Sherry, ia mulai meremas perlahan-lahan sambil sesekali mengelus dan menekan-nekan puting payudara Sherry dengan jarinya. Lodi dan Seto tidak ketinggalan, mereka menikmati mulusnya kulit lengan Sherry dengan mengelusnya dan terkadang mencium dan menjilatinya, aku pun mulai merasa panas.
"Ah.. cukup Pak.. ampun Kak.." Sherry mulai mendesah.
Tejo kian bernafsu, ia memutar-mutar jarinya di sekitar puting payudara Sherry, akupun bisa membayangkan apa yang dirasakan Sherry ketika bagian sensitifnya dirangsang, ia pasti merasa kenikmatan.

Melihat suasana yang panas itu, Andre akhirnya turun tangan, pria hitam bertubuh gendut itu maju mendekati Sherry. Andre dan Tejo saling berbagi payudara Sherry, kiri dan kanan, dengan nafsu mereka mulai memainkan lidah mereka menyapu kulit payudara Sherry dan menjalar dengan liar di sekitar puting payudara Sherry, kadang mereka melakukan hisapan dan gigitan kecil di puting payudara Sherry. Sherry mendesah sambil ketakutan, terlihat ia baru pertama kali diperlakukan seperti itu. Manda pun beraksi merekam seluruh kejadian yang menimpa payudara Sherry dengan seksama melalui handy cam-nya.

Tejo menurunkan ciuman dan jilatannya ke perut Sherry yang juga indah dan mulus, aku cukup terkejut melihat pusar Sherry yang ditindik itu, terlihat seksi. Setelah puas mencium dan menjilati daerah pusar Shery. Tejo berhenti dan menyuruh Andre yang sedang menikmati puting payudara Sherry berhenti. Tejo lalu mulai menyingkap rok sekolah Sherry, sambil mengelus paha Sherry. Ia memainkan jarinya menelusuri halusnya paha Sherry yang mulus dan putih itu. Tangan Tejo perlahan naik menyentuh selangkangan Sherry yang ditutup celana dalam pink itu.
"Jangan Pak!! Ampun!!" Sherry memohon pada Tejo. Andre pun ikut mendekat ke Tejo.
"Wah, Celana dalam Non Sherry lucu sekali.." ejek Andre.

Tejo yang sudah sangat nafsu perlahan membuka celana dalam Sherry. Tak berapa lama kemudian, Celana dalam itu sudah terlepas dari tempatnya.
"Wow Non Sherry!! Vaginanya indah banget!!" Tejo tampak bersemangat.
Vagina Sherry memang terlihat terawat, daerah selangkangannya putih, bersih, dan Sherry sepertinya tidak suka dengan rambut-rambut yang tumbuh di sekitar vaginanya, ia membiarkan vaginanya tertampang mulus tanpa rambut kemaluan. Perlahan tangan Tejo dan Andre menjelajahi paha, dan sekitar selangkangan Sherry. Sherry hanya bisa menggeliat kesana kemari menghadapi rangsangan itu.

Tak lama kemudian tangan Tejo dan Andre, tiba di bagian vital Sherry. Dengan nafsu membara, Andre membuka bibir vagina Sherry, sementara Tejo memasukkan jarinya kedalam liang vagina Sherry. Perlahan jari tangan Tejo menyolok-nyolok vagina Sherry, dan makin lama gerakannya makin cepat. Tubuh Sherry nampak menegang, sambil mendongakkan wajahnya, Sherry mendesah perlahan.
Tejo dengan pandai memainkan kecepatan jarinya menyolok-nyolok vagina Sherry, sementara aku dan teman-temanku memperhatikan kejadian itu. Setelah hampir 2 menit jari Tejo menembus liang vagina Sherry, dari bibir vagina Sherry kulihat cairan kewanitaan yang keluar, rupanya Sherry terangsang.
"Wah Non, terangsang nih? Enak ya? Mau lebih cepat?"
"Jangan Pak, tolong!!" Sherry memohon.
Tejo tidak mempedulikan permohonan Sherry, Jarinya keluar masuk vagina Sherry dengan cepat.
"Ahh.. stop Pak!! Tolong..!" Sherry kelihatan sangat terangsang, namun ia berusaha melawan.
"Ahh..!" Sherry vaginiak pelan, sepertinya ia hampir mencapai orgasme sambil menahan kesakitan di lubang vaginanya.

"Payah lo!! Baru segitu aja udah mau orgasme.. cuih.. " aku meledek Sherry, aku membayangkan jika aku dalam posisi Sherry, pasti aku akan lebih lama lagi orgasme.
"Dasar perek amatir, baru gitu aja udah mau orgasme!!" Lea ikut mengejek.
Tejo menghentikan jarinya yang menyolok-nyolok vagina Sherry, nampaknya ia belum mau Sherry mencapai puncaknya. Namun aku sudah tak sabar, dendam di dadaku terus membara ingin mempermalukan Sherry. Kutarik jari Tejo keluar dari vagina Sherry, lalu kudorong tubuhnya menjauhi Sherry.
"Lho Non.. saya belum puas nih.." Tejo terlihat bingung.
"Sabar dulu!! Nanti lo dapat giliran lagi!!" bentakku pada Tejo.

Saat kulihat Sherry dihadapanku, nafsu dan amarahku membara. Aku tak tahan lagi, kujongkokkan tubuhku hingga wajahku tepat menghadap vagina Sherry. Tertampang jelas keindahan vagina Sherry di mataku, bibir vaginanya yang memerah karena gesekan jari Tejo dan cairan yang membasahi sekitar selangkangannya membuat aku menahan ludah. Perlahan kudekatkan wajahku ke vagina Sherry, dan kucium harum vagina Sherry, Ia terlihat sangat merawat daerah vitalnya ini. Dengan penuh nafsu dan dendam, perlahan kubasuh vaginanya dengan lidahku.

Semua yang ada disitu spontan terkejut, dan Sherry terlihat sangat kaget.
"Waduuh.. Non Nia ternyata juga mau ngerasain vagina Non Sherry ya?" Andre berseloroh meledek.
"Bilang dong Non dari tadi, kalo gini saya malah jadi tambah horni nih.." Tejo menimpali.
Aku tak perduli dengan ledekan Tejo dan Andre, yang kupikirkan hanya satu, aku ingin membuat Sherry malu di tanganku.

"Aaah.. Kak.. mau apa Kak? Jangan Kak.." Sherry mulai merasa terangsang lagi, perlahan kurasa otot selangkangannya menegang. Kubasuh vagina Sherry dengan jilatan lidahku, dan kujalari daerah selangkangannya dengan ciuman dan jilatan erotis. Kutelusuri bibir vagina Sherry dengan lidahku, sambil kubuka liang vaginanya dengan jariku supaya lidahku dengan leluasa menjalar di daerah sensitifnya.

Tak berapa lama kutemukan klitoris Sherry, perlahan kujilat dan kuberi dia hisapan-hisapan kecil dari mulutku. Semua laki-laki yang ada diruangan ini kurasa sangat beruntung menyaksikan dua bunga sekolah ini terlibat aktivitas seksual.
"Ahh.. ah.. ah.." Sherry tak sanggup berkata-kata lagi, ia hanya bisa berteriak kecil merasakan rangsangan di klitorisnya. Perlahan tubuh Sherry menggelinjang kesana kemari, keringatnya makin deras membasahi tubuh dan seragam sekolahnya. Sampai akhirnya kurasakan vagina Sherry memuncratkan cairan-cairan kewanitaan yang menggairahkan membasahi mulutku, tanpa kusadari akupun terangsang dan menghirup cairan kewanitaan Sherry dalam-dalam.

Hampir 5 menit kunikmati vagina Sherry, daerah selangkangannya sudah sangat basah, sama seperti tubuhnya yang dibanjiri keringat. Sherry hanya bisa mendesah pasrah sambil menikmati rangsanganku. Tak berapa lama, kurasa otot vaginanya menegang, Sherry agak terhentak, lalu kedua tangannya tiba-tiba mencengkram pundakku, ia hampir mencapai puncak. Saat itu pula kuhentikan jilatanku, lalu menarik nafas istirahat. Sherry terkulai lemas, tubuhnya tergeletak tak berdaya diatas meja sambil perlahan mencoba mengumpulkan nafas. Tejo, Seto, Lodi dan Andre hanya bisa terpaku menatap aku dan Sherry, sementara Lea dan Manda terlihat puas melihat "siksaan"ku terhadap Sherry. Aku berdiri setelah istirahat sejenak.
"Gilaa!! Non Nia hebat!! Saya jadi horni banget nih lihat cewek lesbian kayak gitu" Seto angkat bicara.

Kutatap Sherry yang terkulai lemas dengan pandangan nafsu dan dendam.
Kulebarkan kedua kaki Sherry sampai ia mengangkang. Kutarik pinggulnya sampai sisi meja. Kali ini akan aku buat ia orgasme. Kutanggalkan rok sekolahku lalu kulepas celana dalamku. Semua pria yang ada disitu tergelak menahan ludah, menanti kejadian selanjutnya. Kubuka seragam sekolahku karena udara sudah sangat panas, sambil kutanggalkan BH-ku, begitu juga dengan Sherry, kubuat ia telanjang bulat.

Posisi kaki Sherry yang mengangkang membuat vaginanya melebar, membuka bibir vaginanya, dan itu membuatku terangsang. Kuangkat kaki kiriku keatas meja, lalu kudekatkan selangkanganku ke selangkangan Sherry. Posisi tubuhku dan Sherry Seperti dua gunting yang berhimpitan pada pangkalnya. Dengan nafsu yang membara kugesekkan vaginaku dengan vagina Sherry yang masih terkulai lemas itu.
"Hmm.. aah.. cukup Kak.. aah.." Sherry mendesah memohon padaku.
Tanpa perduli pada Sherry, aku yang sudah dibakar nafsu terus melaju. Sementara Pria-pria yang ada disana mulai mengeluarkan kemaluan mereka kemudian melakukan onani sambil menyaksikan aku dan Sherry. Semakin lama semakin kupercepat gesekkan vaginaku, sambil kulihat wajah Sherry yang cantik itu dengan nafas memburu, membuatku kian terangsang. Tubuhku dan Sherry bergerak seirama, kurasakan keringat mengucur dari tubuhku, serta vaginaku kian basah oleh cairan kewanitaanku yang bercampur dengan cairan kewanitaan Sherry. Selama hampir 5 menit kupacu tubuh Sherry, dan tiap detik pun kurasakan kenikmatan dan rasa dendam yang terbayar.

Di tengah deru nafasku yang saling memacu dengan nafas Sherry, tiba-tiba kumerasa sesosok tubuh besar memelukku dari belakang. Ternyata itu Andre, pria hitam bertubuh gendut itu sudah telanjang bulat dan memeluk tubuhku sambil memainkan jemarinya di puting payudaraku.
"Saya juga ikutan ya Non Nia? Habis Non Nia bener-bener hot sih" permintaan Andre kuturuti tanpa menjawab, sebab jarinya yang memilin puting payudaraku semakin membuat aku berenang dalam lautan kenikmatan.

Kulirik Sherry yang menarik nafas terengah-engah dan kulihat tubuhnya mulai menggelinjang merasakan kenikmatan. Kupercepat gerakanku, sambil mencoba untuk mengatur nafas, tiba-tiba sebuah benda kurasa menyentuh pantatku lalu menelusup diantara belahannya. Aku mendengar Andre melenguh, ternyata benda itu adalah penisnya yang menegang dan berusaha meyodok lubang anusku.
"Non Nia, saya nggak tahan lagi nih.." permintaan Andre kupenuhi, kubiarkan penisnya masuk ke lubang anusku.

Dengan sedikit hentakan, penis Andre menerobos masuk anusku. Kurasakan benda itu berukuran besar, memenuhi lubang anusku.
"Aaah.. lobang Non Nia masih rapet banget nih.." Andre mencoba menekan pinggulnya untuk memasukkan seluruh batang penisnya. Sambil terus kupacu tubuh Sherry, Andre juga mulai memompa penisnya di lubang anusku. Tak berhenti, Andre menjelajahi bagian atas tubuhku dengan tangannya.

Kejadian ini berlangsung hampir 7 menit sebelum, Sherry berteriak kencang memperoleh puncak kenikmatannya. Tak berapa lama kemudian giliranku dan Andre yang mencapai orgasme bersamaan, ditandai semburan spermanya di lubang anusku. Aku sangat lelah, tubuhku basah oleh keringat, namun aku sangat puas, puas karena dendamku terbayar dan puas atas kenikmatan yang kuperoleh tadi. Kubiarkan Sherry beristirahat selama kurang lebih 5 menit, sampai akhirnya "penyiksaan" ini dimulai lagi.

Aku duduk menjauh dari Sherry, kali ini kuputuskan menjadi penonton saja. Tongkat komando kini dipegang Lea, ia kini yang memerintah semua yang ada disitu. Tejo, Lodi dan Seto mendekati tubuh Sherry yang tergeletak tak berdaya. Lea memberi tanda pada Seto yang dijawab dengan anggukan kepalanya. Seto memegang pinggul Sherry yang lemas itu kemudian memutar tubuhnya. Posisi Sherry kini telungkup dengan memperlihatkan bulatan pantatnya yang padat berisi.
"Nah, Non Sherry siap-siap ya!" Seto berujar sambil mengangkat pinggul Sherry sampai ia dalam posisi menungging. Sherry cuma bisa menunggu siksaan apa lagi yang akan diterimanya dengan pasrah. Meski tubuh Sherry tampak lemas, ia masih saja menggairahkan. Seketika saja Sherry mendesah pelan, Seto dengan nafsunya meremas bongkahan pantat Sherry sambil mengelusnya.
"Hajar aja!!" perintah Lea.

Setelah mendengar perintah Lea, Seto yang sudah menunggu dari tadi langsung melesakkan penisnya yang menegang itu ke lubang vagina Sherry. Wajah Sherry terlihat terkejut sambil menahan sakit. Ukuran penis Seto yang besar memaksa masuk ke lubang vagina Sherry yang rapat itu. Sherry berteriak tiap kali Seto mendorong penisnya masuk.
"Vagina Non Sherry rapet banget nih, aahh.." Seto berkata sambil mendorong penisnya lagi memasuki vagina Sherry.

Setelah seluruh penis Seto masuk dalam lubang vagina Sherry, seto berhenti sejenak, ia membiarkan Sherry mengambil nafas sejenak. Namun Seto tidak membiarkan Sherry berlama-lama, perlahan-lahan ia mulai memompa penisnya didalam vagina Sherry. Gerakan Seto makin cepat, deru nafas Sherry dan Seto terdengar keras dibarengi gerakan mereka yang seirama. Sambil terus memompa penisnya, Seto memainkan tangannya menjelajahi pantat dan pinggul Sherry yang basah oleh keringat. Sekali lagi Lea memberi tanda, Seto mempercepat lagi gerakannya, membuat tubuh Sherry bergerak kian liar. Tejo maju menghampiri Sherry, ia berdiri di depan wajahnya. Tejo mengangkat tubuh Sherry sampai ia dalam posisi merangkak.

"Aaah.. cukup Pak.. ah.." Sherry memohon pada Tejo.
Dengan senyum mengejek Tejo memaksa Sherry membuka mulutnya. Dengan nafsu yang membara ia memaksa penisnya masuk ke bibir mungil Sherry.
"Ayo isep penis saya Non!! isep!!" Paksa Tejo.
Karena ketakutan, Sherry dengan pasrah menerima batangan penis Tejo menembus bibirnya. Besarnya penis Tejo nampak memenuhi seluruh mulut Sherry. Tak bisa kubayangkan betapa puasnya Tejo, ketika gadis SMU secantik Sherry kini sedang mengulum penisnya.

Dari jauh kulihat Sherry menangis, airmata jatuh ke pipinya, ia merasa terhina dan jijik. Dendamku benar-benar terbalas, Sherry benar-benar menderita. Dibalik semua itu aku juga merasa kasihan padanya. Tejo mulai memompa penisnya, melakukan gerakan maju mundur dihadapan wajah Sherry. Kini mulut dan vagina Sherry telah dipompa dua batang penis. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat tubuh Sherry terlihat berkilau seksi. Hanya Lodi saja yang belum menikmati Sherry, kini ia naik keatas meja, lalu memposisikan dirinya diatas punggung Sherry seolah-olah ia sedang menaiki kuda. Lodi meletakkan penisnya diatas punggung Sherry, sambil kemudian ia gesekkan. Tangan lodi menjelajah kedua payudara Sherry yang tergantung.

Tiga orang itu sekaligus menikmati tubuh Sherry, tak bisa kubayangkan perasaan Sherry saat ini. Vagina, mulut, punggung, payudara, hampir seluruh bagian tubuhnya dirangsang. Kulihat Seto berejakulasi di dalam liang vagina Sherry, sperma yang melimpah keluar dari penis Seto mengalir keluar melalui liang vagina Sherry, seketika itu juga Sherry bergumam sembari menaikkan pinggulnya, ia berorgasme. Setelah Seto puas membasahi vagina Sherry dengan spermanya, giliran Lea menggantikan posisi Seto. Dengan liar, Lea menjilati vagina Sherry yang masih basah oleh sperma Seto.

Selang berapa menit kemudian Tejo berejakulasi, ia berteriak kencang memanggil nama Sherry sembari memuncratkan spermanya di wajah Sherry, kulihat Sherry menerima semburan sperma itu di sekitar bibir dan pipinya, bahkan ia menelannya, mungkin Sherry sudah pasrah dan memilih untuk menikmati kejadian ini.

Setelah Tejo, giliran Lodi berejakulasi diatas punggung Sherry. Sperma lodi nampak membasahi kulit punggung Sherry yang putih mulus. Andre yang dari tadi diam, bergerak menggantikan Lea yang kini merubah posisi Sherry menjadi terlentang, lalu memegangi tangan Sherry keatas.
Penis Andre yang ekstra besar itu menembus vagina Sherry, dan dengan liar memompa tubuh Sherry. Sherry yang sudah sangat lelah hanya mendesah pelan sambil menikmati. Hampir 10 menit Andre memompa penisnya didalam vagina Sherry sampai akhirnya gerakan Andre dipercepat, Sherry berteriak, pinggulnya naik, tubuhnya nampak bergetar, ia kembali berorgasme. Tidak lama kemudian Andre berejakulasi di luar vagina Sherry, ia membiarkan spermanya jatuh membasahi selangkangan Sherry.

Suasana sunyi hanya terdengar desah nafas Sherry yang mencoba mengatur kembali nafasnya. Tubuhnya basah oleh keringat, selangkangannya dipenuhi sperma, Sherry hanya tergeletak diatas meja itu. Kubayar uang yang kujanjikan pada Tejo, Andre, Seto dan Lodi. Mereka lalu pergi meninggalkan ruangan ini dengan senyum puas.

"Nah, sekarang kapok kan lo?" bentak Lea kepada Sherry.
"Makanya jangan macam-macam, kalo lo bilang-bilang kejadian ini sama siapapun, rekaman video tentang lo bakal gue sebar luas!! Terus lo bisa jadi bintang porno terbaru dan terkenal, he.. he.. he.. " ancamku pada Sherry.
"Sekarang lo bilang!! Gimana rasanya tadi?! Ayo jawab!!" bentak Lea.
"Kok diem aja?! Ayo jawab tolol!!" bentakku.
"Enak Kak.." jawab Sherry ketakutan.
"Enak?! lo seneng dientot?!" bentak Lea lagi.
"Iya Kak.. enak sekali.. nikmat.." Sherry menjawab.
"Lo mau lagi?!" Manda yang dari tadi diam kini bicara.
"Ma..mau Kak.." jawab Sherry.
Aku, Lea dan Manda saling berpandangan sambil tersenyum. Ya, akhirnya Sherry kini menjadi bagian gengku, geng gila seks yang suka sekali mencari kenikmatan, haus akan hal-hal berbau seks. Dan si cantik Sherry, adik kelasku menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam petulangan seks ku selanjutnya.

E N D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar